Apa Itu CLTS?
Community-Led Total Sanitation (CLTS) adalah suatu pendekatan intervensi sanitasi yang menekankan pada perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh, tanpa memberikan bantuan finansial langsung untuk pembangunan fasilitas sanitasi. CLTS mendorong komunitas untuk secara mandiri mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan solusi yang dapat menghentikan praktik buang air besar (BAB) di luar rumah (open defecation).
Berbeda dengan program sanitasi tradisional yang sering memberikan subsidi kepada rumah tangga, CLTS mengandalkan motivasi kolektif, rasa takut (fear), rasa malu (shame), dan rasa tanggung jawab sosial untuk menumbuhkan kesadaran akan dampak kesehatan dan lingkungan dari open defecation.
Prinsip Dasar CLTS
- Partisipasi Masyarakat Semua elemen desa terlibat aktif mulai dari pemuka adat, tokoh agama, hingga kelompok perempuan.
- Tanpa Subsidi Tidak ada dana langsung untuk pembangunan jamban; masyarakat mencari solusi yang terjangkau dan berkelanjutan.
- Pembuktian Kebutuhan Melalui triggering fasilitator membantu warga menyadari dampak buruk open defecation.
- Pencapaian Total Sanitation Target akhir adalah 100% rumah tangga memiliki fasilitas sanitasi yang layak dan dipakai.
- Pembelajaran Berkelanjutan Pengalaman dan pengetahuan disebarkan ke desa tetangga.
Proses Pelaksanaan CLTS
Proses CLTS biasanya terdiri dari lima tahap utama:
- Persiapan Fasilitator mempelajari konteks desa, berkoordinasi dengan pemerintah lokal, dan menyiapkan materi visual (gambar, foto).
- Penggalian Data Mengumpulkan data tentang kebiasaan defekasi, kondisi sanitasi, dan tingkat kejadian diare.
- Triggering Kegiatan interaktif (misalnya menelusuri jejak manusia, simulasi kontaminasi air) yang menimbulkan rasa takut dan malu sehingga warga berkomitmen mengubah perilaku.
- Rencana Aksi Komunitas menetapkan target, membagi tugas, dan menentukan jenis jamban yang akan dibangun (misalnya lubang pit, kompos, atau bio-toilet).
- Pemantauan & Verifikasi Tim desa memeriksa kepatuhan, mencatat rumah yang sudah memiliki jamban, dan merayakan pencapaian.
Manfaat CLTS bagi Kesehatan dan Lingkungan
Penelitian menunjukkan penurunan signifikan pada kejadian diare, cacingan, dan infeksi kulit pada anak-anak setelah implementasi CLTS.
- Kesehatan Mengurangi paparan bakteri dan parasit, menurunkan angka kematian pada balita.
- Ekonomi Menghemat biaya pengobatan, meningkatkan produktivitas kerja karena berkurangnya hari sakit.
- Lingkungan Mengurangi kontaminasi tanah dan sumber air, memperbaiki kualitas air sungai dan sumur.
- Sosial Meningkatkan rasa kebersamaan, menumbuhkan kepemilikan dan kesadaran kolektif.
- Pemberdayaan Memberi kesempatan bagi perempuan dan pemuda berperan dalam perencanaan sanitasi.
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi CLTS
Walaupun CLTS telah terbukti efektif di banyak daerah, beberapa kendala masih sering muncul:
Kendala Finansial
Tanpa subsidi, sebagian rumah tangga miskin kesulitan membangun jamban. Solusinya adalah mempromosikan desain jamban murah (mis. jamban lubang patok), memanfaatkan bahan lokal, dan mengorganisir gotongroyong.
Budaya dan Kepercayaan
Beberapa kepercayaan tradisional menganggap tanah masih bersih di luar rumah. Pendekatan triggering yang sensitif budaya serta melibatkan tokoh agama dapat mengubah persepsi.
Keberlanjutan
Setelah fase awal, motivasi dapat menurun. Penting untuk membentuk sanitation committee yang memantau penggunaan jamban dan melaksanakan edukasi rutin.
Keterbatasan Lahan
Di daerah padat penduduk, lahan untuk jamban terbatas. Solusi meliputi penggunaan toilet kompak, toilet berisi air (pourflush), atau toilet ecosanitary yang dapat ditempatkan di area terbatas.
Studi Kasus: CLTS di Desa Sukamaju, Jawa Tengah
Pada tahun 2022, desa Sukamaju (populasi 1.500 jiwa) memulai program CLTS dengan dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten dan LSM lokal. Berikut rangkaian kegiatan yang dilakukan:
- Fasilitator mengadakan focus group discussion dengan kepala desa, tokoh adat, dan ibuibu KPM.
- Melakukan pemandangan jejak melacak kotak pasir di sekitar sumur, menampilkan foto foto kotoran di atas permukaan air.
- Setelah merasakan rasa malu, seluruh rumah tangga berkomitmen membangun jamban dalam tiga bulan.
- Desa mengadopsi sistem jamban patok dengan kedalaman 1,5m, terbuat dari bambu dan batu bata.
- Tabur tiga bulan kemudian, tingkat open defecation turun dari 68% menjadi 0%.
Hasil evaluasi pada akhir tahun menunjukkan penurunan kasus diare pada anak di bawah lima tahun sebesar 45% dan peningkatan kehadiran anak di sekolah sebesar 12%.
Langkah Selanjutnya untuk Pembaca
Jika Anda tertarik mengimplementasikan CLTS di komunitas Anda, berikut langkah praktis yang dapat diikuti:
- Hubungi dinas kesehatan atau organisasi nonprofit yang memiliki pengalaman CLTS.
- Lakukan pemetaan awal kondisi sanitasi desa.
- Undang fasilitator terlatih untuk memandu proses triggering.
- Buat rencana aksi bersama warga, termasuk jadwal pembangunan jamban.
- Bangun sistem pemantauan berbasis warga (mis. posyandu, kelompok tani).
- Rayakan pencapaian dengan acara kebersamaan untuk memperkuat rasa memiliki.
