Studi Campuran tentang Multikulturalisme dan Polikulturalisme di Wonosobo, Indonesia Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dikenal dengan karakteristik demografis yang relatif homogen: mayoritas penduduknya beretnis Jawa, beragama Islam, dan berbicara dalam dialek Jawa Tengah. Meskipun begitu, dalam beberapa dekade terakhir terdapat kebijakan dan program pemerintah yang menekankan nilainilai multikulturalisme dan polikulturalisme. Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana warga Wonosobo menafsirkan konsepkonsep tersebut dalam kehidupan seharihari, serta apa saja kendala (constraints) yang menghalangi pemahaman yang lebih luas. Penelitian ini berlandaskan pada lay theories atau teori populeryaitu pengetahuan tidak formal yang dimiliki individu tentang budaya. Dua paradigma utama yang dianalisis: Kedua paradigma memiliki implikasi berbeda terhadap persepsi identitas, toleransi, dan praktik sosial. Penelitian campuran (mixedmethods) dilakukan selama tiga bulan (JuliSeptember 2025) dengan dua tahap utama: Data kuantitatif dianalisis menggunakan regresi logistik, sementara data kualitatif melalui analisis tematik. Temuan utama: Analisis tematik mengidentifikasi empat kategori kendala utama: Kalau bukan bahasa Jawa, saya rasa susah mengerti nilainilai yang mereka bawa. Responder berusia 34 tahun. Bahasa menjadi gatekeeper; praktik budaya luar dianggap asing bila tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal. Sejak dulu, orang Wonosobo selalu hidup bersama, tidak ada suku lain di sini. Responder berusia 58 tahun. Sejarah lokal yang dipresentasikan secara homogen meminimalisir keberadaan komunitas minoritas (mis. Betawi, Tionghoa) yang sebenarnya ada sejak masa kolonial. Stasiun televisi dan radio daerah menyiarkan program kebudayaan yang hampir eksklusif menampilkan seni tradisional Jawa (wayang, gamelan). Konten multikultural hanya muncul dalam program nasional, yang jarang ditonton. Program pemerintah seperti Festival Budaya Nusantara memang diadakan, namun pelaksanaannya terbatas pada pertunjukan tari Jawa dengan sedikit sentuhan budaya lain. Hal ini memperkuat persepsi bahwa diversitas hanyalah hiasan. Kendalakendala di atas menunjukkan bahwa meskipun Wonosobo secara administratif berada dalam negara multikultural, makna nyata dari multikulturalisme terhambat oleh struktur sosialkultural yang kuat. Polikulturalisme muncul secara parsial pada individu yang memiliki pengalaman migrasi atau pendidikan tinggi; mereka lebih cenderung melihat budaya sebagai jaringan salinghubungan. Temuan ini konsisten dengan literatur yang menyatakan bahwa pengetahuan budaya populer (lay theories) dipengaruhi oleh faktorfaktor psikososial (identitas kelompok, rasa keamanan) serta akses terhadap representasi yang beragam. Studi ini mengungkap bahwa dalam masyarakat homogen seperti Wonosobo, makna teori populer tentang multikulturalisme dan polikulturalisme dibatasi oleh: Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan pendidikan, media, dan kebijakan berbasis partisipasi. Hanya dengan memperluas ruang makna budaya, warga Wonosobo dapat mengembangkan pemahaman yang lebih inklusif terhadap keberagaman Indonesia.Constraint dalam Makna Teori Populer tentang Budaya di Masyarakat Homogen
Latar Belakang
Kerangka Teoritis
Metodologi
Hasil Kuantitatif
Temuan Kualitatif
1. Etnosentrisme Terhadap Bahasa
2. Narasi Historis yang Monolitik
3. Representasi Media Lokal
4. Kebijakan Publik yang Simbolis
Diskusi
Implikasi Praktis
Kesimpulan
