Pendahuluan
BABS (Bawah Awan Besar Sekali) merupakan istilah yang dipakai lokal untuk menggambarkan perilaku individu atau kelompok yang bersifat antisosial, berisiko tinggi, dan berpotensi menimbulkan konflik. Di Desa Kiritana, Kabupaten Sumba Barat, fenomena BABS menjadi sorotan karena dampaknya pada keamanan, kesejahteraan masyarakat, serta proses pembangunan. Tulisan ini mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku BABS di desa tersebut.
Faktor SosialEkonomi
1. Tingginya tingkat kemiskinan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 40% rumah tangga di Kiritana berada di bawah kemiskinan ekstrem. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar mengakibatkan rasa frustrasi, yang bagi sebagian remaja dapat mengekspresikan diri melalui perilaku BABS.
2. Pengangguran dan kurangnya peluang kerja
Desa ini hanya memiliki beberapa usaha kecil, terutama pertanian dan peternakan. Angka pengangguran terbuka pada usia 1524 tahun mencapai 28%, sehingga energi muda tidak memiliki outlet yang produktif.
3. Distribusi sumber daya yang tidak merata
Akses air bersih, listrik, dan fasilitas kesehatan masih terpusat di bagian tengah desa. Daerah pinggiran yang jauh dari pusat layanan cenderung merasa terpinggirkan, memperkuat persepsi ketidakadilan dan menumbuhkan sikap menolak norma sosial.
Faktor Budaya dan Nilai
1. Tradisi Masa Babi
Pada masa transisi antara upacara adat, remaja sering diberikan kebebasan berekspresi yang dapat melenceng bila tidak diarahkan. Tanpa bimbingan yang tepat, kebebasan ini dapat diartikan sebagai bebas berbuat apa saja, termasuk melakukan tindakan agresif.
2. Pengaruh televisi dan media sosial
Meskipun akses internet masih terbatas, penggunaan ponsel pintar meningkat. Konten kekerasan, tantangan daring, serta budaya geng yang dipromosikan di media sosial menambah tekanan bagi pemuda yang belum memiliki filter nilai yang kuat.
3. Keterputusan antar generasi
Orang tua di Kiritana mayoritas petani tradisional yang mengandalkan nilai hierarkis. Komunikasi yang bersifat otoriter terkadang tidak memberi ruang bagi pemuda mengutarakan aspirasi, sehingga mereka mencari wadah lain yang lebih agresif.
Faktor Lingkungan
1. Keterbatasan fasilitas rekreasi
Tidak ada lapangan olahraga, pusat komunitas, atau ruang kreatif yang memadai. Kehilangan alternatif positif memaksa remaja menghabiskan waktu di tempat yang kurang terawasi, seperti warung kopi gelap atau pekarangan kosong.
2. Pengaruh kelompok sebaya
Kelompok geng yang terbentuk secara informal sering menjadi sarana identitas bagi para pemuda. Ketika kelompok ini mengadopsi budaya kekerasan, tekanan untuk menunjukkan keberanian memperparah perilaku BABS.
3. Faktor geografis
Desa Kiritana terletak di daerah berbukit dengan akses jalan yang belum optimal. Isolasi geografis menyebabkan respon aparat keamanan lebih lambat, memberi ruang bagi aksi-aksi tanpa kontrol.
Faktor Institusional
1. Kelemahan penegakan hukum
Kantor Polres terdekat berada 30km dari desa. Laporan kejahatan sering kali tidak ditindaklanjuti secara cepat, menimbulkan persepsi impunitas di kalangan pelaku.
2. Kualitas pendidikan
Sekolah menengah pertama (SMP) di Kiritana hanya memiliki 3 guru tetap untuk 5 kelas. Tingkat absen siswa mencapai 12%, dan kualitas pembelajaran menurun. Kurangnya pendidikan karakter membuat remaja lebih rentan terhadap pengaruh negatif.
3. Program pemerintah yang belum optimal
Program pemberdayaan ekonomi dan pelatihan keterampilan masih dalam tahap pilot. Hal ini belum menciptakan lapangan kerja yang cukup untuk menampung tenaga kerja muda.
Interaksi Antara Faktor-Faktor
Tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan sepenuhnya perilaku BABS. Misalnya, kemiskinan (faktor ekonomi) memperparah rasa frustrasi, yang kemudian dipicu oleh ketidakhadiran fasilitas rekreasi (faktor lingkungan). Selanjutnya, pengaruh kelompok sebaya (faktor sosial) memperkuat tindakan agresif, sementara kelemahan penegakan hukum (faktor institusional) memberikan ruang bagi aksi tersebut berkembang.
Model interaksi ini dapat digambarkan sebagai siklus umpan balik negatif:
- Kelangkaan ekonomi rasa tidak berdaya mencari identitas melalui geng.
- Kurangnya fasilitas positif peningkatan interaksi di tempat gelap konflik.
- Penegakan hukum lemah impunitas intensifikasi perilaku BABS.
- Semua faktor di atas memperkuat norma negatif dalam komunitas.
