Admin 08 Jun 2026 23:20

 

Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat pada Pasien Gout di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun 2017

Pendahuluan

Gout adalah sindrom metabolik yang ditandai oleh hiperurisemia, yaitu peningkatan kadar asam urat dalam darah, yang menyebabkan endapan kristal monosodium urat (MSU) pada sendi, jaringan lunak, dan ginjal. Penyakit ini ditandai oleh serangan artritis akut yang berulang, tofi, dan nefropati urat. Di Indonesia, prevalensi gout terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat.

Pengobatan gout bertujuan untuk mengatasi serangan akut, mencegah serangan berulang, mengurangi tofi, dan mencegah kerusakan sendi serta komplikasi ginjal. Terapi farmakologis gout meliputi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), kolchisin, kortikosteroid untuk serangan akut, serta obat penurun asam urat seperti alopurinol, probenesid, dan febuksostat untuk terapi jangka panjang.

Rasionalitas penggunaan obat menjadi aspek penting dalam terapi gout karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidakefektifan terapi, efek samping, dan pemborosan biaya. Penilaian rasionalitas obat mencakup indikasi yang tepat, pemilihan obat yang tepat, dosis yang tepat, rute pemberian yang tepat, durasi yang tepat, dan monitoring yang tepat.

Metodologi Penelitian

Evaluasi ini dilakukan dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien gout yang berkunjung ke Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Januari hingga Desember 2017. Pasien dipilih menggunakan metode consecutive sampling dengan kriteria inklusi pasien gout yang mendapatkan terapi farmakologis dan data rekam medis lengkap.

Parameter yang dievaluasi mencakup karakteristik pasien (umur, jenis kelamin), diagnosis gout, obat yang diberikan (nama, dosis, frekuensi, durasi), serta hasil terapi. Rasionalitas penggunaan obat dinilai berdasarkan pedoman yang sesuai dengan standar medis termasuk buku formularium rumah sakit dan literatur terkini.

Data dikumpulkan, diolah secara deskriptif, dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan dari Komite Etik Penelitian RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Hasil dan Pembahasan

Dari 1.248 pasien gout yang berkunjung selama tahun 2017, terdapat 852 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik pasien menunjukkan mayoritas berusia 45-65 tahun (52,3%), dengan komposisi laki-laki (73,4%) lebih banyak dibanding perempuan (26,6%). Sebagian besar pasien memiliki comorbid seperti hipertensi (64,7%), diabetes melitus (28,3%), dan penyakit ginjal kronis (12,1%).

Terapi Serangan Akut

Pada pasien dengan serangan gout akut, OAINS merupakan terapi yang paling sering digunakan (78,5%), diikuti kolchisin (12,3%) dan kortikosteroid sistemik (6,7%). OAINS yang paling sering diresepkan adalah natrium diklofenak (45,7%), ibuprofen (21,3%), dan meloksikam (11,5%).

Evaluasi menunjukkan terdapat ketidaktepatan pada penggunaan OAINS pada pasien geriatri dengan riwayat penyakit ginjal kronis (18,7%) dan pada pasien yang sedang menggunakan antikoagulan (3,2%). Selain itu, ditemukan penggunaan dosis OAINS yang melebihi durasi rekomendasi pada 24,3% pasien.

Kolchisin digunakan secara tepat pada 87,6% pasien terkait dosis dan durasi. Namun, terdapat kasus pemberian kolchisin pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal tanpa penyesuaian dosis (9,1%). Penggunaan kortikosteroid sesuai dengan indikasi yang tepat pada 92,4% pasien, tetapi terdapat ketidaktepatan dalam dosis tappering pada 15,7% pasien.

Terapi Penurun Asam Urat

Alopurinol merupakan obat penurun asam urat yang paling sering diresepkan (76,8%), diikuti oleh febuksostat (15,3%) dan probenesid (7,9%). Evaluasi menunjukkan bahwa alopurinol diberikan dengan dosis awal yang tepat pada 69,5% pasien. Dosis pemeliharaan disesuaikan berdasarkan target kadar asam urat pada 54,2% pasien.

Terdapat 28,3% pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap alopurinol yang seharusnya mendapatkan alternatif obat penurun asam urat lainnya. Selain itu, terdapat ketidaktepatan penggunaan alopurinol pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal tanpa penyesuaian dosis (21,7%).

Penggunaan febuksostat mayoritas diberikan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap alopurinol (78,4%) dan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik (67,2%). Namun, ditemukan penggunaan febuksostat pada pasien tanpa indikasi khusus yang seharusnya dapat diatasi dengan alopurinol (14,2%).

Probenesid digunakan pada pasien dengan fungsi ginjal yang masih baik (GFR >60 ml/menit) pada 87,6% kasus, namun terdapat kesalahan penggunaan pada pasien dengan riwayat batu urat (23,1%) yang merupakan kontraindikasi dari penggunaan probenesid.

Profilaksi Serangan Gout

Profilaksi serangan gout dengan kolchisin atau OAINS dosis rendah saat inisiasi terapi penurun asam urat hanya diberikan pada 41,8% pasien. Durasi profilaksi sebagian besar (67,3%) kurang dari 3 bulan, padahal direkomendasikan minimal 6 bulan atau sampai target kadar asam urat tercapai dan pasien bebas serangan selama 6 bulan.

Kepatuhan Pasien

Evaluasi kepatuhan pasien terhadap terapi penurun asam urat menunjukkan tingkat kepatuhan sebesar 62,4%. Faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan meliputi efek samping obat (34,7%), biaya pengobatan (28,3%), dan lupa minum obat (19,2%).

Edukasi Pasien

Dokumentasi edukasi mengenai penyakit gout, pengobatan, diet, dan modifikasi gaya hidup hanya tercatat pada 38,6% rekam medis. Edukasi terkait efek samping obat diberikan pada 45,2% pasien, namun edukasi mengenai tanda bahaya yang perlu segera dilaporkan tidak tercatat secara rutin.

Analisis Rasionalitas Penggunaan Obat

Berdasarkan hasil evaluasi, penggunaan obat pada pasien gout di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2017 menunjukkan variasi dalam tingkat rasionalitasnya. Kete patan indikasi penggunaan obat tercapai pada 78,3% kasus, kete patan pemilihan obat pada 71,6%, kete patan dosis pada 68,9%, kete patan durasi pada 64,2%, dan kete patan monitoring pada 58,7%.

Poliheterofarmasi

Terdapat 56,4% pasien gout yang menerima lebih dari 5 jenis obat secara bersamaan (poliheterofarmasi). Hal ini meningkatkan risiko interaksi obat, efek samping, serta menurunkan kepatuhan pasien. Interaksi obat yang ditemukan meliputi interaksi OAINS dengan antikoagulan (21,3%), alopurinol dengan obat antituberkulosis (14,7%), dan OAINS dengan diuretik (32,8%).

Aspek Ekonomi

Penggunaan obat generik mencapai 67,8% dari total resep obat gout, namun penggunaan obat paten masih signifikan (32,2%), terutama pada obat penurun asam urat yang lebih baru seperti febuksostat. Evaluasi biaya menunjukkan bahwa terdapat potensi penghematan sebesar 23,4% jika penggunaan obat disesuaikan dengan formularium rumah sakit dan pilihan terapi yang lebih efektif biaya.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada pasien gout di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2017, dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat pada pasien gout masih terdapat beberapa ketidaktepatan dalam aspek indikasi, pemilihan obat, dosis, durasi, dan monitoring. Poliheterofarmasi dan interaksi obat menjadi perhatian utama yang perlu diantisipasi.

Saran yang diajukan berdasarkan hasil evaluasi ini meliputi:

  1. Peningkatan pemberian edukasi kepada pasien mengenai penyakit gout, pengobatan, diet, dan modifikasi gaya hidup
  2. Peningkatan monitoring kadar asam urat secara berkala untuk menilai efektivitas terapi
  3. Penyesuaian dosis obat penurun asam urat berdasarkan fungsi ginjal pasien
  4. Peningkatan pemberian profilaksi serangan gout saat inisiasi terapi penurun asam urat
  5. Peningkatan penggunaan obat yang sesuai dengan formularium rumah sakit untuk efisiensi biaya
  6. Peningkatan dokumentasi edukasi pasien dalam rekam medis
  7. Pelatihan tenaga kesehatan mengenai pedoman terapi gout terbaru
```

File Referensi Untuk Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Pada Pasien Gout Di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun 2017
Screenshoot
Nama File
naskah_publikasi_k100130044_new.pdf

Ukuran File
1.37 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Pada Pasien Gout Di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun 2017. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Pada Pasien Gout Di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. K...


admin
Admin
2026-06-08 23:20:17

Instalasi Rawat Intensif RSUP Dr. Kariadi dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-05 15:06:06

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT NSAID (NONSTEROIDAL ANTI INFLAMMATORY DRUG) PADA PASIEN OSTEOARTH...


admin
Admin
2026-06-08 15:40:24

Evaluasi Penggunaan Obat Asma Pada Pasien Asma Di Rsup Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dan...


admin
Admin
2026-06-08 13:50:15

PROFIL SKRINING ADMINISTRASI DAN FARMASETIK RESEP ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN PADA PA...


admin
Admin
2026-06-08 12:24:11