Demam berdarah dengue (DBD) merupakan infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Meskipun gejala utama meliputi demam tinggi, nyeri otot, dan ruam kulit, komplikasi kardiovaskular dapat muncul pada fase kritis, terutama pada pasien dengan bentuk berat seperti dengue hemorrhagic fever (DHF) atau dengue shock syndrome (DSS). Salah satu alat diagnostik yang sering digunakan untuk menilai keterlibatan jantung adalah elektrokardiogram (EKG). Pada artikel ini, kami mengulas temuantemuan elektrokardiografi yang umum terlihat pada penderita DBD, faktorfaktor yang memengaruhi perubahan tersebut, serta implikasi klinisnya.
Elektrokardiografi merekam aktivitas listrik jantung melalui elektroda yang ditempatkan pada kulit. Pada DBD, perubahan listrik dapat diakibatkan oleh tiga mekanisme utama: (a) gangguan metabolik seperti hipokalsemia atau hipoksia, (b) kerusakan mikrovaskuler pada miokard, dan (c) respon inflamasi yang memengaruhi sistem konduksi. Karena perubahan ini biasanya bersifat subtil, interpretasi yang tepat memerlukan pengetahuan khusus tentang polapola yang khas pada penyakit ini.
Berbagai studi klinis melaporkan persentase signifikan dari pasien DBD yang menunjukkan kelainan EKG. Beberapa temuan yang paling umum meliputi:
Berikut beberapa proses yang menjelaskan mengapa DBD dapat mengubah catatan EKG:
Beberapa otoritas kesehatan mengusulkan skala sederhana untuk menilai risiko kardiak pada DBD:
| Kategori | Kriteria EKG | Interpretasi Klinis |
|---|---|---|
| Ringan | Sinus rhythm, HR 80110 bpm, tanpa perubahan ST/T | Monitoring rutin |
| Moderat | Sinus tachycardia >110 bpm, T wave inversion, atau ST depression <0,5mm | Pemantauan intensif, koreksi elektrolit |
| Berat | ST elevation 0,5mm, QTc >460ms, atau aritmia kompleks (ventricular tachycardia) | Manajemen di unit perawatan intensif, pertimbangan antiarrhythmic |
Catatan: Interpretasi harus selalu dikaitkan dengan data klinis lainnya seperti tekanan darah, penanda laboratorium, dan status cairan.
Pemberian cairan kristaloid pada pasien DBD bertujuan mengembalikan volume sirkulasi dan memperbaiki perfusi organ. Namun, kecepatan infus yang terlalu tinggi dapat memicu overload cairan, meningkatkan tekanan atrial, dan menurunkan tekanan sistolik. Pada EKG, hal ini dapat memanifestasikan diri sebagai peningkatan frekuensi premature beats atau bahkan pergeseran segmen ST ke arah depolarisasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, protokol cairan harus disesuaikan dengan respons hemodinamik pasien, dan EKG sebaiknya diulang setelah setiap 1224 jam terapi cairan intensif.
Karena perubahan EKG pada DBD dapat terjadi secara cepat, rekomendasi umum meliputi:
Jika aritmia terjadi, pendekatan harus bersifat bertahap:
Beberapa studi kohort Indonesia menunjukkan bahwa pasien dengan ST segment elevation atau QTc >460ms memiliki risiko kematian 23 kali lebih tinggi dibandingkan yang hanya menunjukkan sinus tachycardia. Selain itu, kombinasi beberapa kelainan EKG (misalnya ST depression + QT prolongation) meningkatkan prediksi komplikasi kardiak secara signifikan. Oleh karena itu, temuan EKG dapat dijadikan salah satu komponen dalam skoring risiko klinis keseluruhan.
Meskipun data yang ada sudah memberikan gambaran yang cukup jelas, masih terdapat beberapa keterbatasan: (a) ukuran sampel pada banyak penelitian masih kecil, (b) variasi standar EKG yang digunakan belum seragam, dan (c) tidak ada studi longitudinal yang meneliti sequelae jangka panjang pada fungsi kardiak setelah pemulihan DBD. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggabungkan teknik pencitraan modern (misalnya ekokardiografi speckletracking) dengan EKG untuk menciptakan model prediksi yang lebih akurat.
Berikut poinpoin penting yang dapat diingat oleh dokter di unit gawat darurat atau ruang rawat inap:
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang gambaran elektrokardiografi pada penderita demam berdarah dengue, tenaga medis dapat melakukan deteksi dini komplikasi kardiak, mengoptimalkan penatalaksanaan, dan pada akhirnya meningkatkan hasil klinis pasien.
