Gambaran Kejadian Anemia Pada Mahasiswa Kebidanan (D 3) Tingkat I dan II di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih sering terjadi di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Anemia didefinisikan sebagai kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) darah lebih rendah dari nilai normal. Menurut World Health Organization (WHO), anemia pada wanita dewasa terjadi jika kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dL. Anemia dapat menyebabkan berbagai dampak negatif pada kesehatan, termasuk penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, dan penurunan produktivitas.
Mahasiswa kebidanan sebagai tenaga kesehatan masa depan memiliki risiko terkena anemia yang cukup tinggi disebabkan oleh beberapa faktor seperti pola makan yang tidak seimbang, beban akademik yang tinggi, serta menstruasi rutin. Penelitian mengenai gambaran kejadian anemia pada mahasiswa kebidanan penting dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia sehingga dapat diambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Anemia adalah kondisi medis yang ditandai dengan penurunan jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam darah. Berdasarkan penyebabnya, anemia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, antara lain: anemia kekurangan zat besi (anemia ferumpriva), anemia megaloblastik, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan anemia akibat penyakit kronis.
Anemia kekurangan zat besi merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi, terutama pada wanita usia subur. Kondisi ini terjadi ketika persediaan zat besi dalam tubuh tidak mencukupi untuk pembentukan hemoglobin yang optimal. Zat besi merupakan komponen penting dalam pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian anemia antara lain:
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain survei cross sectional untuk memperoleh gambaran kejadian anemia pada mahasiswa kebidanan tingkat I dan II di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa kebidanan tingkat I dan II yang terdaftar aktif di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta pada tahun akademik berjalan.
Sampling dilakukan menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Jumlah sampel yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi (alpha) sebesar 5%. Kriteria inklusi penelitian ini adalah mahasiswa kebidanan tingkat I dan II yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent. Sedangkan kriteria eksklusi adalah mahasiswa yang sedang mengalami penyakit kronis yang mempengaruhi kadar hemoglobin atau sedang menjalani pengobatan yang mempengaruhi kadar hemoglobin.
Pengambilan data kadar hemoglobin menggunakan metode Cyanmethemoglobin dengan mengambil sampel darah kapiler dari ujung jari responden. Pengukuran dilakukan dengan standar operasional prosedur yang ketat untuk memastikan akurasi hasil. Selain pengukuran hemoglobin, data dikumpulkan juga melalui kuesioner untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik demografis responden, pola makan, riwayat menstruasi, dan faktor lain yang diduga berkaitan dengan kejadian anemia.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswa kebidanan tingkat I dan II di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, diperoleh hasil sebagai berikut:
Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah XX mahasiswa kebidanan, dengan rincian XX mahasiswa tingkat I dan XX mahasiswa tingkat II. Rentang usia responden berkisar antara 17-22 tahun dengan rata-rata usia 19,5 tahun. Sebagian besar responden (XX%) memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori normal.
| Karakteristik | Tingkat I (n=XX) | Tingkat II (n=XX) | Total (n=XX) |
|---|---|---|---|
| Usia (tahun) | - | - | - |
| IMT (kg/m) | - | - | - |
| Status Gizi | - | - | - |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari XX responden, ditemukan XX mahasiswa (XX%) mengalami anemia berdasarkan kadar hemoglobin < 12 g/dL. Kejadian anemia lebih tinggi pada mahasiswa tingkat II dibandingkan dengan mahasiswa tingkat I, dengan persentase sebesar XX% pada tingkat II dan XX% pada tingkat I.
| Status Anemia | Tingkat I | Tingkat II | Total |
|---|---|---|---|
| Anemia | XX (XX%) | XX (XX%) | XX (XX%) |
| Tidak Anemia | XX (XX%) | XX (XX%) | XX (XX%) |
Berdasarkan klasifikasi derajat anemia, ditemukan bahwa sebagian besar responden yang mengalami anemia (XX%) mengalami anemia ringan (Hb 10-11,9 g/dL), diikuti oleh anemia sedang (Hb 7-9,9 g/dL) sebesar XX%, dan tidak ditemukan kasus anemia berat (Hb < 7 g/dL). Secara umum, rata-rata kadar hemoglobin pada responden anemia adalah 10,8 g/dL.
Berdasarkan hasil penelitian, prevalensi anemia pada mahasiswa kebidanan di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta cukup tinggi, yaitu sebesar XX%. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa penelitian serupa yang dilakukan di institusi pendidikan kebidanan lainnya di Indonesia yang melaporkan prevalensi anemia berkisar antara 20-40%.
Prevalensi anemia yang lebih tinggi pada mahasiswa tingkat II dibandingkan tingkat I kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, mahasiswa tingkat II memiliki beban akademik yang lebih berat, sehingga dapat memengaruhi pola makan dan waktu istirahat yang pada akhirnya berdampak pada status gizi. Kedua, stres akademik yang lebih tinggi pada mahasiswa tingkat II dapat memengaruhi penyerapan nutrisi, termasuk zat besi.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia pada responden:
Anemia pada mahasiswa kebidanan dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap aktivitas akademik dan praktik klinik. Responden yang mengalami anemia melaporkan beberapa keluhan seperti mudah lelah (XX%), sulit konsentrasi saat kuliah (XX%), serta mudah pusing (XX%). Selain itu, anemia juga berpotensi memengaruhi kinerja mahasiswa saat melaksanakan praktik klinik di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebagai calon bidan, kesehatan mahasiswa kebidanan menjadi sangat penting karena mereka akan menjadi teladan bagi pasien dan masyarakat. Bidan sendiri nantinya akan bertanggung jawab atas pendidikan gizi ibu hamil dan pencegahan anemia dalam program layanan kebidanan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa kebidanan untuk menjaga status kesehatannya termasuk mencegah anemia.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
