Terapi intravena (infus) merupakan salah satu intervensi medis yang paling umum dilakukan dalam pelayanan kesehatan. Sesuai dengan Permenkes No. 71 Tahun 2013, pemasangan infus harus dilakukan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) yang telah ditetapkan. Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Flebitis adalah peradangan pada vena yang sering terjadi sebagai komplikasi dari pemasangan infus. Kondisi ini ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, nyeri tekan, dan terkadang terbentuknya garis merah yang mengikuti jalur vena. Berdasarkan Skala Flebitis Visual Infusion Phlebitis (VIP), derajat keparahan flebitis dibagi menjadi lima tingkat, mulai dari tanpa tanda klinis hingga trombosis.
Menurut penelitian yang dilakukan di berbagai rumah sakit di Indonesia, insiden flebitis berkisar antara 20-60% dari seluruh pasien yang menerima terapi infus. Angka ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan standar internasional yang menargetkan insiden flebitis di bawah 5%.
Berdasarkan studi literatur dan penelitian, terdapat beberapa bentuk ketidaksesuaian pelaksanaan pemasangan infus dengan SOP yang umum terjadi:
1. Tidak melakukan cek identitas pasien secara lengkap sebelum pemasangan.
2. Tidak melakukan desinfeksi area tusukan dengan antiseptik yang tepat dan durasi yang cukup.
3. Tidak menggunakan bahan pelindung steril (masker, sarung tangan) sesuai standar.
4. Pemilihan ukuran kanula yang tidak sesuai dengan kondisi vena pasien dan jenis terapi yang akan diberikan.
5. Teknik pemasangan yang salah menyebabkan trauma berulang pada vena.
6. Tidak menandai tanggal pemasangan infus.
7. Tidak melakukan pemindahan infus sesuai jadwal yang direkomendasikan (biasanya setiap 72-96 jam).
8. Tidak melakukan dokumentasi yang lengkap dan akurat.
9. Tidak melakukan monitoring rutin terhadap tanda-tanda flebitis.
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan korelasi yang signifikan antara ketidaksesuaian pelaksanaan SOP pemasangan infus dengan peningkatan kejadian flebitis. Pasien yang menerima pemasangan infus tidak sesuai SOP memiliki risiko 2-3 kali lebih tinggi untuk mengalami flebitis dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan pemasangan sesuai SOP.
Secara patofisiologis, ketidaksesuaian prosedur ini meningkatkan risiko kontaminasi bakteri pada area tusukan, trauma mekanis pada dinding vena, dan iritasi kimia dari obat yang diberikan. Faktor-faktor ini memicu respon inflamasi pada vena yang kemudian berkembang menjadi flebitis.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian pelaksanaan SOP pemasangan infus meliputi:
1. Beban kerja perawat yang tinggi sehingga mengabaikan beberapa langkah prosedur demi efisiensi waktu.
2. Ketersediaan fasilitas dan peralatan yang tidak memadai.
3. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman perawat mengenai SOP terbaru.
4. Faktor individu seperti kelelahan dan kurangnya motivasi.
5. Sistem pengawasan yang tidak optimal di fasilitas kesehatan.
6. Budaya kerja yang mendukung pemotongan prosedur demi cepat selesai.
Flebitis menimbulkan dampak negatif baik bagi pasien maupun fasilitas kesehatan:
1. Bagi pasien:
- Nyeri dan ketidaknyamanan
- Perpanjangan masa rawat inap
- Risiko infeksi lokal hingga sepsis
- Trauma psikologis akibat pengalaman yang menyakitkan
- Biaya tambahan akibat perpanjangan masa perawatan
2. Bagi fasilitas kesehatan:
- Peningkatan biaya perawatan
- Penurunan kepuasan pasien
- Potensi gugatan hukum
- Penurunan kredibilitas pelayanan
Untuk mengurangi kejadian flebitis, diperlukan beberapa strategi pencegahan yang komprehensif:
1. Penguatan implementasi SOP pemasangan infus melalui:
- Pelatihan rutin bagi tenaga kesehatan
- Peminjauan berkala terhadap prosedur yang digunakan
- Penggunaan check list pemasangan infus
2. Pemilihan strategi pemasangan yang tepat:
- Pemilihan ukuran kanula yang sesuai dengan kondisi vena
- Pemilihan lokasi pemasangan yang optimal
- Penggunaan teknik aseptik yang ketat
3. Monitoring dan evaluasi:
- Pemeriksaan lokasi infus setiap 4-6 jam
- Penggunaan skala penilaian flebitis yang baku
- Penggantian infus sesuai jadwal yang direkomendasikan
4. Pendidikan pasien:
- Memberikan informasi mengenai tanda-tanda flebitis
- Mengajarkan pasien untuk melaporkan keluhan segera
5. Peningkatan fasilitas:
- Menyediakan peralatan yang memadai
- Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung praktik yang aman
Pelaksanaan pemasangan infus yang tidak sesuai SOP merupakan faktor signifikan yang berkontribusi pada tingginya kejadian flebitis di fasilitas kelayanan kesehatan. Penelitian menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara ketidaksesuaian penerapan SOP dengan peningkatan insiden flebitis. Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen rumah sakit maupun tenaga kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap SOP pemasangan infus melalui pelatihan, pengawasan, dan dukungan sistem yang memadai.
Mencegah flebitis bukan hanya upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang aman dan nyaman. Dengan penerapan SOP yang konsisten, diharapkan insiden flebitis dapat ditekan hingga mencapai standar yang ditetapkan secara nasional maupun internasional.
