Film Posesif (2017) karya director Edwin menjadi sorotan bukan hanya karena alur ceritanya yang menegangkan, tetapi juga karena penggambaran yang kuat tentang masalah psikologis yang dialami tokoh utamanya, Satria (diperankan oleh Reza Rahadian). Pada dasarnya, film ini menyoroti dinamika hubungan yang beracun, kecemburuan berlebihan, dan perilaku kontrol yang berujung pada gangguan kejiwaan yang dapat dikenali sebagai gelombang obsesifkompulsif (OCD) sekaligus gangguan kepribadian tergantung (dependent personality disorder). Berikut ulasan komprehensif mengenai gambaran tersebut.
Beberapa adegan menegaskan adanya pola pikir dan perilaku berikut:
Jika dilihat melalui perspektif psikologi klinis, perilaku Satria dapat dikaitkan dengan dua diagnosa utama:
Gejala OCD biasanya meliputi pikiran intrusif (obsesi) serta tindakan berulang yang bertujuan mengurangi kecemasan (kompulsi). Pada Satria:
Walaupun tidak semua perilaku Satria bersifat ritualistik, intensitas dan dampak fungsi sosialnya sesuai dengan kriteria diagnostik DSM5 untuk OCD dengan fokus pada konten interpersonal.
DPD ditandai oleh ketergantungan berlebih pada orang lain untuk membuat keputusan, rasa takut berpisah, dan kebutuhan konstan akan dukungan. Satria menunjukkan:
Perpaduan DPD dengan OCD menghasilkan pola perilaku yang sangat mengekang, menjadikan hubungan mereka tidak sehat.
Film memperlihatkan konsekuensi nyata dari gangguan mental tersebut:
Jika Satria datang ke praktik psikolog, pendekatan yang disarankan antara lain:
Hal penting yang mesti ditekankan adalah bahwa perubahan memerlukan kesadaran diri dari Satria. Tanpa motivasi untuk berubah, intervensi medis dan psikologis akan mengalami hambatan.
Selain aspek klinis, film ini memberi kritik terhadap kultur patriarki dan stereotip maskulinitas di Indonesia. Stereotip pria kuat, melindungi, tak boleh lemah sering menjadi pembenaran bagi perilaku posesif. Dengan menampilkan konsekuensi psikologis yang serius, Posesif mengajak penonton untuk mengidentifikasi tandatanda awal kekerasan psikologis dan pentingnya intervensi dini.
Posesif berhasil menggambarkan secara realistis bagaimana gangguan kejiwaan, khususnya OCD dan DPD, dapat memanifestasikan diri dalam hubungan romantis yang tidak sehat. Karakter Satria mencontohkan bahwa kecemasan berlebih, kontrol obsesif, dan ketergantungan emosional dapat mengarah pada pola posesif yang menghancurkan kebebasan dan kesejahteraan pasangan. Melalui pemahaman klinis dan refleksi sosial, penonton dapat lebih sensitif terhadap tandatanda awal dan mendukung upaya pencegahan serta penanganan yang tepat.
Untuk informasi lebih lanjut tentang gangguan kejiwaan dan layanan konseling, kunjungi Kementerian Kesehatan atau layanan POSITIVE yang menyediakan bantuan psikologis secara gratis.
