Indonesia saat ini sedang berada di tengah-tengah transformasi urbanisasi yang masif. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan migrasi penduduk dari pedesaan ke kota telah mendorong ekspansi lahan terbangun yang sangat cepat. Meskipun pembangunan infrastruktur dan sektor perumahan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, fenomena ini membawa konsekuensi serius terhadap lingkungan, baik dalam skala lokal maupun dampaknya terhadap perubahan iklim global.
Pembangunan kawasan hunian baru di kota-kota besar Indonesia seperti Jabodetabek, Surabaya, dan Medan sering kali mengorbankan lahan hijau dan daerah resapan air. Alih fungsi lahan sawah dan hutan kota menjadi beton merupakan penyumbang utama peningkatan suhu perkotaan atau yang dikenal dengan efek pulau panas perkotaan (urban heat island). Ketika tutupan vegetasi berkurang, kemampuan bumi untuk menyerap karbon menurun, dan penguapan alami terganggu, yang pada akhirnya memperburuk dampak pemanasan global.
Sektor konstruksi perumahan di Indonesia sangat bergantung pada material yang memiliki intensitas karbon tinggi. Produksi semen dan baja, yang merupakan bahan utama pembangunan gedung, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Proses manufaktur material ini memerlukan energi fosil dalam jumlah besar.
Tantangan Utama: Sebagian besar proyek perumahan di Indonesia belum mengadopsi standar "green building" atau bangunan hijau secara luas. Hal ini menyebabkan bangunan yang berdiri memiliki efisiensi energi yang rendah, sehingga penggunaan listrik untuk pendingin ruangan (AC) menjadi sangat tinggi selama masa operasional gedung tersebut.
Pembangunan perumahan yang tidak terencana dengan sistem drainase yang buruk sering memicu bencana banjir. Selain itu, pengelolaan limbah konstruksi serta limbah domestik dari penghuni perumahan baru sering kali belum terintegrasi dengan baik. Pencemaran air tanah akibat limbah domestik dan limbah industri konstruksi merusak ekosistem lokal yang seharusnya menjadi penyangga lingkungan perkotaan.
Untuk memitigasi dampak lingkungan dari pembangunan perkotaan di Indonesia, diperlukan langkah-langkah strategis yang lebih konkret, di antaranya:
Pembangunan perumahan dan pengembangan perkotaan di Indonesia merupakan kebutuhan mendesak untuk menampung populasi yang terus bertambah. Namun, tanpa memperhatikan aspek dampak lingkungan global, pembangunan ini justru akan menciptakan beban di masa depan. Pergeseran paradigma dari pembangunan yang hanya berorientasi pada profit menuju pembangunan yang berkelanjutan adalah kunci utama untuk menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata.
