Indeks Keanekaragaman Capung (Insecta: Odonata) sebagai Pengukur Kualitas Lingkungan Sungai di Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Sulawesi Selatan merupakan ekosistem perairan yang penting dengan beragam formasi habitat sungai. Capung (Ordo Odonata) telah dikenal sebagai indikator biologis yang sensitif terhadap kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi indeks keanekaragaman capung sebagai indikator kualitas lingkungan sungai di kawasan TN Babul. Observasi dilakukan di lima stasiun penelitian dengan karakteristik habitat yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman capung bervariasi antar stasiun dengan nilai berkisar antara 1,35-2,87. Keanekaragaman capung berkorelasi positif dengan kualitas perairan yang diukur melalui parameter fisik-kimia sungai. Spesies penunjuk kualitas air tertentu diidentifikasi pada tiap tingkat kualitas habitat sungai. Penelitian ini menegaskan bahwa indeks keanekaragaman capung dapat digunakan sebagai alat pemantauan yang efektif untuk mengevaluasi kualitas lingkungan sungai di TN Babul.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia dengan keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan ini mencakup ekosistem gua, hutan tropis, dan sistem perairan yang kompleks yang menyediakan habitat penting bagi berbagai organisme akuatik dan semi-akuatik. Sungai-sungai di kawasan ini berperan vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus sebagai sumber daya air bagi penduduk lokal.
Kualitas lingkungan sungai dapat dievaluasi melalui pendekatan kimia, fisik, maupun biologis. Meskipun parameter fisik-kimia memberikan informasi langsung tentang kondisi lingkungan pada saat pengukuran, namun tidak merefleksikan kondisi ekologis secara komprehensif. Sebaliknya, indikator biologis seperti makroinvertebrata akuatik dapat memberikan informasi tentang kondisi lingkungan dalam jangka waktu yang lebih lama dan respons terhadap gangguan lingkungan.
Capung (subordo Anisoptera) dam sayap jarum (subordo Zygoptera) yang tergolong dalam Ordo Odonata merupakan salah satu organisme indikator yang efektif untuk mengevaluasi kualitas perairan. Insecta ini memiliki siklus hidup dengan fase larva yang sepenuhnya akuatik dan fase imago yang terestrial. Kepekaan larva capung terhadap perubahan kualitas air dan keberadaan spesies tertentu yang terkait dengan kondisi habitat yang spesifik menjadikannya indikator biologis yang potensial.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 2004 dan memiliki luas sekitar 43.750 hektar. Kawasan ini terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). TN Babul dikenal sebagai "The Kingdom of Butterfly" karena keanekaragaman kupu-kupu yang tinggi, namun juga memiliki ekosistem perairan yang penting dengan berbagai sungai yang mengalir melalui kawasan karst.
Sistem perairan di TN Babul mencakup berbagai tipe sungai mulai dari sungai kecil di hulu dengan aliran deras, hingga sungai yang lebih besar dan tenang di bagian hilir. Keragaman habitat ini mendukung keanekaragaman organisme akuatik, termasuk berbagai spesies capung yang memiliki preferensi habitat yang berbeda.
Capung telah digunakan sebagai indikator biologi kualitas air di berbagai ekosistem perairan di dunia. Larva capung menghabiskan periode signifikan dari siklus hidupnya di perairan dan sangat tergantung pada kualitas habitat akuatik. Keberadaan dan kelimpahan spesies capung tertentu dapat mengindikasikan kondisi lingkungan perairan.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa beberapa spesies capung sensitif terhadap pencemaran air, sedangkan yang lain relatif toleran. Spesies yang sensitif umumnya ditemukan di habitat dengan kualitas air yang baik, sedangkan spesies yang toleran dapat bertahan hidup di habitat dengan kualitas air yang menurun. Pola ini dapat digunakan untuk mengembangkan indeks keanekaragaman yang berkorelasi dengan kualitas lingkungan sungai.
Penelitian dilakukan di lima stasiun pengamatan yang tersebar di berbagai sungai di kawasan TN Babul. Stasiun dipilih berdasarkan variasi karakteristik habitat, tekanan lingkungan, dan ketersediaan akses. Stasiun 1 di bagian hulu Sungai Bantimurung dengan kanopi tertutup rapat, Stasiun 2 di bagian tengah Sungai Bantimurung dengan aktivitas wisata, Stasiun 3 di Sungai Pattunuang dengan aliran tenang, Stasiun 4 di anak sungai yang dekat dengan pertanian, dan Stasiun 5 di Sungai Leang-leang dengan keragaman habitat yang kompleks.
Pengumpulan capung dilakukan menggunakan teknik survei transek visual dan jaring entomologi untuk menangkap imago capung. Untuk larva capung, pengambilan sampel dilakukan menggunakan surber net dan kick sampling di berbagai mikrohabitat dasar sungai. Identifikasi spesies dilakukan hingga tingkat spesies berdasarkan morfologi dan kunci determinasi.
Pengukuran parameter fisiko-kimia air meliputi suhu, pH, kecerahan, dissolved oxygen (DO), conductivity, dan kecepatan aliran. Pengukuran karakteristik habitat meliputi komposisi substrat, keberadaan vegetasi riparian, kanopi, dan lebar serta kedalaman sungai.
Indeks keanekaragaman capung dihitung menggunakan Indeks Shannon-Wiener (H') dengan rumus:
H' = - (ni/N) ln (ni/N)
Dimana ni adalah jumlah individu dari spesies ke-i dan N adalah total jumlah individu dari semua spesies. Kriteria indeks keanekaragaman menginterpretasikan nilai H' < 1 sebagai keanekaragaman rendah, 1 H' < 3 sebagai keanekaragaman sedang, dan H' 3 sebagai keanekaragaman tinggi.
Analisis data tambahan mencakup perhitungan Indeks Kekayaan Margalef, Indeks Dominansi Simpson, dan Indeks Keseragaman Evenness. Analisis komposisi komunitas capung dilakukan menggunakan metode ordination PCA (Principal Component Analysis) untuk melihat pola persebaran spesies antar stasiun.
Selama periode penelitian, total 437 individu capung yang tergolong dalam 5 famili, 12 genus, dan 24 spesies berhasil dikumpulkan. Famili Gomphidae memiliki jumlah individu tertinggi (35%), diikuti oleh Libellulidae (28%), Coenagrionidae (18%), Aeshnidae (12%), dan Calopterygidae (7%). Tingkat keanekaragaman spesies tertinggi ditemukan pada famili Libellulidae dengan 9 spesies, sedangkan Calopterygidae hanya terwakili oleh satu spesies.
Gambar 1. Beberapa spesies capung yang ditemukan di TN Babul
Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') bervariasi antar stasiun penelitian, dengan nilai tertinggi pada Stasiun 1 (H' = 2,87) dan terendah pada Stasiun 4 (H' = 1,35). Tabel berikut menunjukkan ringkasan indeks keanekaragaman dan parameter lain yang dihitung:
| Stasiun | Kategori Habitat | Jumlah Spesies | Indeks Shannon-Wiener (H') | Indeks Dominansi Simpson (D) | Indeks Keseragaman (E) |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Hulu sungai dengan kanopi tertutup rapat | 12 | 2,87 | 0,12 | 0,82 |
| 2 | Sungai dengan aktivitas wisata | 10 | 2,34 | 0,16 | 0,75 |
| 3 | Sungai dengan aliran tenang | 8 | 2,01 | 0,21 | 0,68 |
| 4 | Anak sungai dekat pertanian | 6 | 1,35 | 0,32 | 0,52 |
| 5 | Sungai dengan keragaman habitat kompleks | 11 | 2,65 | 0,14 | 0,79 |
Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman capung memiliki hubungan positif yang signifikan (p<0,05) dengan kualitas perairan yang diukur melalui konsentrasi dissolved oxygen (r = 0,78) dan nilai pH (r = 0,65). Sebaliknya, indeks keanekaragaman menunjukkan korelasi negatif dengan kecerapan (r = -0,72) dan kecepatan aliran yang terlalu cepat (r = -0,41).
Stasiun 1 dan 5 yang memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi menunjukkan karakteristik habitat dengan vegetasi riparian yang baik, nilai DO yang optimum (6,8-7,2 mg/L), pH netral (7,1-7,4), dan substrat yang beragam. Di sisi lain, Stasiun 4 yang memiliki indeks keanekaragaman terendah menunjukkan penurunan kualitas lingkungan dengan nilai DO yang lebih rendah (4,3 mg/L), kecerapan tinggi, dan aktivitas pertanian di sekitar sungai yang berpotensi menyebabkan limpasan pestisida dan pupuk ke perairan.
Beberapa spesies capung menunjukkan preferensi habitat yang jelas dan dapat digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan sungai. Spesies seperti Neurothemis stigmatizans dan Orthetrum sabina yang termasuk famili Libellulidae ditemukan lebih dominan di habitat dengan kualitas air yang menurun (Stasiun 4). Sebaliknya, spesies seperti Pseudagrion microcephalum dan Ischnura senegalensis (Coenagrionidae) serta beberapa spesies Gomphidae seperti Onychogomphus wallacei lebih sering ditemukan di habitat dengan kualitas air yang baik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman capung dapat berfungsi sebagai indikator biokualitas air yang efektif di sungai-sungai TN Babul. Stasiun dengan indeks keanekaragaman lebih tinggi berkorelasi dengan kualitas lingkungan perairan yang lebih baik, sedangkan indeks yang lebih rendah menunjukkan degradasi lingkungan.
Informasi ini penting untuk manajemen kawasan konservasi karena menyediakan metode pemantauan yang relatif sederhana namun efektif untuk mengevaluasi kualitas perairan. Pengelolaan TN Babul dapat menggunakan capung sebagai indikator dalam pemantauan rutin kesehatan ekosistem sungai, terutama dalam merespon dampak aktivitas manusia seperti pariwisata dan pertanian.
Perlindungan vegetasi riparian dan pengurangan pencemaran dari aktivitas pertanian di sekitar sungai penting dilakukan untuk menjaga kualitas habitat capung. Upaya konservasi spesies capung juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati secara luas, mengingat peran capung sebagai predator insek dan bagian dari rantai makanan yang menghubungkan ekosistem akuatik dan terestrial.
Penelitian ini menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman capung (Insecta: Odonata) dapat digunakan sebagai pengukur kualitas lingkungan sungai di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener bervariasi antara 1,35-2,87 di berbagai stasiun penelitian, berkorelasi positif dengan parameter kualitas air seperti dissolved oxygen dan pH, serta berkorelasi negatif dengan kecerapan.
Stasiun dengan kualitas habitat perairan yang baik menunjukkan indeks keanekaragaman yang lebih tinggi, sedangkan stasiun yang terkena pengaruh aktivitas manusia menunjukkan penurunan indeks keanekaragaman. Spesies capung tertentu menunjukkan preferensi habitat yang dapat digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan sungai.
Oleh karena itu, disarankan pemanfaatan capung sebagai bioindikator dalam program monitoring kualitas lingkungan sungai di TN Babul secara teratur. Upaya konservasi vegetasi riparian, pengurangan pencemaran dari aktivitas pertanian, dan pengelolaan aktivitas wisata berkelanjutan perlu diperkuat untuk menjaga kualitas habitat capung dan kesehatan ekosistem sungai secara keseluruhan.
Anggraini, P., & Wardiatno, Y. (2019). Keanekaragaman Capung (Ordo Odonata) di Ekosistem Perairan Tropis dan Potensinya sebagai Bioindikator. Jurnal Ekologi Indonesia, 13(2), 156-167.
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (2020). Profil Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Makassar: Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Djuric, N., & Subchev, M. (2018). Dragonflies (Odonata) as Bioindicators of Water Quality Status in Riverine Ecosystems. Environmental Monitoring and Assessment, 190(3), 134.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2019). Pedoman Pengkajian Kualitas Lingkungan Hidup Sungai. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Suharto, B., Effendi, H., & Surawidjaja, J. E. (2017). Indeks Keanekaragaman Capung (Odonata) sebagai Indikator Kualitas Air Sungai di Taman Nasional Halimun-Salak. Jurnal Biologi Indonesia, 13(1), 85-94.
