Admin 07 Jun 2026 12:46

 

Karakteristik dan Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.)

Buncis, yang memiliki nama ilmiah Phaseolus vulgaris L., merupakan salah satu jenis sayuran legume yang sangat populer di masyarakat Indonesia. Tanaman ini termasuk dalam famili Fabaceae (Leguminosae) dan telah lama dikonsumsi sebagai sumber protein, vitamin, serta mineral yang penting bagi kesehatan. Selain memiliki nilai gizi yang tinggi, buncis juga memiliki nilai ekonomi yang baik karena perawatannya yang relatif mudah dan masa panen yang cepat.

Tanaman buncis dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaannya menjadi dua tipe utama, yaitu tipe semak (bush bean) yang tumbuh tegak tidak merambat, dan tipe memanjat (pole bean) yang memerlukan tiang rambatan. Di Indonesia, kedua tipe tersebut dapat ditemukan, namun untuk budidaya skala luas biasanya lebih dominan menggunakan varietas yang tahan terhadap penyakit dan memiliki produktivitas tinggi.

Karakteristik Morfologi Tanaman

Memahami karakteristik morfologi tanaman buncis adalah langkah awal yang penting sebelum memulai proses budidaya. Berikut adalah penjelasan mengenai bagian-bagian tanaman buncis:

Akar

Sistem perakaran buncis termasuk ke dalam akar tunggang (napiform) dengan cabang-cabang akar lateral yang tidak terlalu dalam. Akar tanaman ini memiliki nodul akar yang berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri simbion Rhizobium. Hal ini membuat tanaman buncis mampu meningkatkan kesuburan tanah.

Batang

Batang buncis berbentuk bulat, beruas, dan berwarna hijau. Sifat batangnya bisa lunak (herba) dan termasuk tanaman semusim. Pada tipe semak, batang tumbuh tegak dengan percabangan yang banyak namun pendek, sedangkan pada tipe rambat, batangnya akan memanjat dengan cara melilit sesuatu atau memanjang membelah ke atas.

Daun

Daun buncis berbentuk daun majemuk menyirip ganjil. Helai daun berbentuk oval atau bulat telur dengan ujung runcing. Daun memiliki tulang daun menyirip dengan warna hijau tua maupun hijau muda tergantung varietas. Tangkai daun panjang dan memiliki stipula (daun pelindung) di pangkalnya.

Bunga

Bunga tanaman buncis memiliki tipe bunga ketupat atau bunga kupu-kupu (papilionaceae). Bunga tersusun dalam tandan atau malai yang muncul dari ketiak daun. Warnanya bervariasi, mulai dari putih, kuning pucat, hingga ungu, bergantung pada varietas. Bunga ini bersifat self-pollination (membuah sendiri), namun bisa juga terjadi cross-pollination secara alami oleh serangga.

Buah (Polong)

Buah buncis adalah buah polong (legume). Bentuknya lurus atau sedikit melengkung seperti pedang, dengan panjang berkisar antara 10 hingga 30 cm. Buah muda berwarna hijau dan menjadi kuning atau cokelat saat sudah tua atau mengering. Di dalam buah terdapat biji-biji buncis yang berjumlah 4 hingga 12 biji per polong.

Syarat Tumbuh

Agar tanaman buncis tumbuh dengan optimal dan menghasilkan produksi yang maksimal, diperlukan kondisi lingkungan yang sesuai dengan habitatnya.

  • Iklim dan Suhu: Tanaman buncis tumbuh baik pada daerah beriklim tropis atau subtropis. Suhu ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 20C hingga 30C. Tanaman ini membutuhkan penyinaran matahari penuh sepanjang hari untuk fotosintesis yang maksimal.
  • Curah Hujan: Kebutuhan air menyeimbangkan, tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit. Curah hujan yang ideal adalah sekitar 1500 mm - 2500 mm per tahun. Tanah yang tergenang air dapat menyebabkan akar membusuk, sedangkan kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan bunga rontok (bunga kosong) alias "kantong semar".
  • Tanah: Tanah yang paling baik untuk buncis adalah tanah yang gembur, subur, banyak mengandung humus, dan memiliki drainase (pengairan) yang baik. pH tanah yang ideal berada pada kisaran 5,5 sampai 6,8 (tanah sedikit asam hingga netral).

Teknik Budidaya Buncis

Budidaya buncis dapat dilakukan dengan mudah di pekarangan rumah maupun lahan pertanian luas. Berikut adalah urutan langkah-langkah budidaya buncis yang baik dan benar.

1. Persiapan Lahan

Tahap pertama adalah membersihkan lahan dari gulma atau sisa-sisa tanaman sebelumnya. Setelah itu, lakukan pembajakan dan penggaruan untuk membuat tanah menjadi gembur. Setelah tanah gembur, buatlah bedengan atau guludan untuk memudahkan pengairan dan mencegah genangan air. Idealnya bedengan memiliki lebar 80-100 cm dan tinggi 30-50 cm.

Berikan pupuk kandang atau kompos yang sudah matang secara merata di atas bedengan dengan dosis 5-10 ton per hektar. Pupuk organik ini sangat penting untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan nutrisi awal.

2. Pembuatan Lubang Tanam

Buatlah lubang tanam pada bedengan menggunakan kayu atau tugal. Jarak tanam perlu diperhatikan untuk memaksimalkan hasil (intensifikasi). Untuk buncis tipe semak, jarak tanam yang baik adalah 40 cm x 30 cm (baris x tanaman). Sedangkan untuk tipe rambat, jarak tanam bisa agak renggang, misalnya 50 cm x 30 cm. Jangan lupa siapkan ajir (tali rambat atau bambu) jika menanam varietas buncis rambat.

3. Penanaman Benih

Pilihlah benih buncis yang bermutu tinggi, sehat, dan mempunyai daya tumbuh tinggi. Sebelum ditanam, benih direndam dalam air hangat kuku selama 3-6 jam saja agar kulit biji melunak dan mempercepat proses perkecambahan. Masukkan 2-3 biji benih ke dalam setiap lubang tanam. Setelah itu tutup kembali dengan tanah tipis sekitar 2-3 cm.

4. Penyulaman dan Perawatan

Setelah benih berkecambah dan berumur sekitar 7-10 hari, lakukan penyulaman (penyunutan). Perhatikan tanaman yang tumbuh dengan vigor baik, pertahankan 1 tanaman per lubang tanam dan buang tanaman lain yang lemah atau tidak tumbuh normal.

Penyiangan atau pencabutan gulma harus dilakukan secara rutin, minimal dua kali selama masa pertumbuhan dengan interval 1-2 minggu sekali. Gulma menjadi pesaing nutrisi bagi tanaman buncis.

5. Pemupukan Rutin

Meskipun buncis mampu mengikat nitrogen, ia tetap membutuhkan pupuk tambahan, terutama Fosfor (P) dan Kalium (K) untuk pembungaan dan pembuahan.

  • Umur 7 HST (Hari Setelah Tanam): Berikan pupuk urea dan TSP/NPK masing-masing 1/3 dari dosis total lubang atau tusuk sela (ditabung disekeliling tanaman).
  • Umur 21 HST: Berikan lagi 1/3 dari dosis total pupuk TSP/NPK dan urea.
  • Umur 35 HST: Berikan pupuk tambahan untuk memancing pembungaan.

6. Pengairan

Sistem pengairan yang baik adalah aliran surjan yaitu mengalirkan ke saluran air di antara bedengan. Penyiraman intensif diperlukan saat masa kecambah dan masa pembungaan. Jika bunga buncis kekurangan air saat berbunga, buah yang dihasilkan akan bengkok dan tidak sempurna. Hindari penyiraman di siang hari yang panas, lakukanlah di pagi atau sore hari.

7. Hama dan Penyakit

Tantangan utama dalam budidaya buncis adalah serangan hama dan penyakit.

Hama Utama:

  • Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli): Larvanya memakan jaringan batang, menyebabkan tanaman layu. Penanganan dengan insektisida sistemik sejak awal tanam.
  • Ulat grayak (Spodoptera litura): Memakan daun hingga tinggal rangka. Dikendalikan dengan memetik ulat secara manual untuk lahan kecil atau insektisida kontak.
  • Kepik rindu (Riptortus linearis): Mengisap cairan pada buah muda sehingga biji kosong. Gunakan perangkap feromon atau insektisida yang dianjurkan.

Penyakit Utama:

  • Busuk akar (Fusarium spp): Disebabkan jamur, daun menguning dan akar busuk. Lakukan rotasi tanaman dan pembuangan tanaman sakit.
  • Antraknosa (Colletotrichum lindemuthianum): Bintik-bintik cokelat pada daun dan buah. Gunakan benih sehat dan fungisida bila serangan parah.

Pemanenan

Umur panen buncis bervariasi tergantung varietas. Varietas buncis biasa dapat dipanen pada umur 6-8 minggu setelah tanam, sedangkan varietas unggul bisa lebih cepat atau lambat.

Ciri-ciri buah yang siap dipanen adalah ukuran polong sudah cukup panjang terisi, permukaan buah masih penuh, belum membuncit bijinya, dan kulit buah masih segar. Cara pemanenan dilakukan dengan cara memetik atau memotong tangkai buah menggunakan gunting/hati-hati untuk meremasnya agar tidak merusak cabang tanaman. Pemetelahan sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore hari untuk menjaga kesegaran.

Pemanenan dapat dilakukan beberapa kali (multip harvest) karena buncis dapat berbunga dan berbuah terus menerus selama tanaman masih produktif. Rata-rata masa panen berlangsung selama 2-3 minggu sekali.

```

File Referensi Untuk Karakteristik Dan Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus Vulgaris L.)
Screenshoot
Nama File
bab_ii.pdf

Ukuran File
0.20 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Karakteristik Dan Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus Vulgaris L.). Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Karakteristik Dan Budidaya Tanaman Buncis (Phaseolus Vulgaris L.) dan Link Download File R...


admin
Admin
2026-06-07 12:46:19

Budidaya Tanaman Buncis Blue Lake Dengan Penggunaan Mulsa Dan Kerapatan Tanaman dan Link D...


admin
Admin
2026-06-07 16:22:21

Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Buncis dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 13:52:16

Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Buncis Tegak dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 17:30:22

Budidaya Buncis Organik dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-07 11:16:15