Kejang Demam pada Anak
Memahami, mengenali, dan menangani kejang yang dipicu demam pada bayi dan balita.
Apa Itu Kejang Demam?
Kejang demam (febrile seizure) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, yang dipicu oleh demam tinggi (suhu tubuh di atas 38C) tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat atau penyebab lain yang jelas. Kondisi ini tergolong umum dan biasanya tidak berbahaya, meskipun sangat menakutkan bagi orang tua. Sekitar 25% anak di seluruh dunia pernah mengalami setidaknya satu episode kejang demam.
Kejang demam bukanlah epilepsi. Epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu demam, sedangkan kejang demam hanya terjadi saat demam. Sebagian besar anak yang mengalami kejang demam tidak akan mengalami epilepsi di kemudian hari.
Mengapa Kejang Demam Terjadi?
Mekanisme pasti kejang demam belum sepenuhnya dipahami. Teori utama menyebutkan bahwa otak anak yang masih berkembang memiliki ambang rangsang yang lebih rendah terhadap demam. Lonjakan suhu tubuh yang mendadak, bukan tingginya suhu absolut, sering kali menjadi pemicu. Faktor genetik juga berperan: anak dengan riwayat keluarga kejang demam memiliki risiko lebih tinggi.
Beberapa infeksi yang sering memicu kejang demam antara lain:
- Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti flu atau faringitis.
- Radang telinga tengah (otitis media).
- Roseola infantum (eksantema subitum) yang disebabkan virus herpes manusia tipe 6.
- Infeksi saluran kemih.
- Gastroenteritis (infeksi saluran cerna).
Vaksinasi tertentu, seperti vaksin MMR atau DPT, kadang dapat memicu demam yang berujung pada kejang, namun risiko ini sangat kecil dibandingkan manfaat perlindungan dari penyakit.
Gejala dan Jenis Kejang Demam
Kejang demam diklasifikasikan menjadi dua jenis utama: sederhana dan kompleks.
Kejang Demam Sederhana
- Berlangsung singkat, biasanya kurang dari 15 menit (seringkali hanya 13 menit).
- Kejang bersifat umum (tonik-klonik) seluruh tubuh kaku dan tersentak-sentak.
- Hanya terjadi satu kali dalam 24 jam.
- Anak pulih sepenuhnya setelah kejang berhenti tanpa kelemahan atau kelumpuhan.
Kejang Demam Kompleks
- Berlangsung lebih dari 15 menit.
- Kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh (fokal) atau berulang dalam 24 jam.
- Setelah kejang berhenti, anak mungkin mengalami kelemahan sementara (paresis Todd).
Gejala yang menyertai kejang: anak mendadak kehilangan kesadaran, mata berputar ke atas, rahang mengatup, kulit tampak kebiruan (sianosis) karena napas terhenti sesaat, dan terkadang mulut berbusa. Ini menakutkan, tetapi penting untuk tetap tenang.
Penting: Kejang demam sederhana biasanya tidak meninggalkan dampak permanen. Kejang demam kompleks memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi otak atau kelainan saraf lainnya.
Pertolongan Pertama yang Tepat
Saat anak kejang demam, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tetap tenang. Kejang biasanya berhenti sendiri dalam beberapa menit. Berikut langkah-langkah pertolongan pertama yang benar:
- Baringkan anak di permukaan yang datar dan aman, jauh dari benda keras atau tajam.
- Miringkan tubuh anak ke posisi recovery (posisi miring) untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan memudahkan air liur atau muntahan keluar.
- Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada agar ia lebih leluasa bernapas.
- Catat durasi kejang gunakan jam atau ponsel. Ini penting untuk dokter.
- Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak (termasuk jari, sendok, atau kain) hal ini justru berbahaya dan bisa melukai gigi atau gusi.
- Jangan menahan gerakan tubuh anak biarkan kejang berlangsung alami. Menahan hanya meningkatkan risiko cedera.
- Setelah kejang berhenti, baringkan anak tetap miring. Bersihkan mulut jika ada busa atau muntahan. Bayi biasanya akan mengantuk atau lemas setelahnya (post-ictal).
Kapan harus segera ke dokter atau IGD? Segera bawa ke fasilitas kesehatan jika: kejang berlangsung lebih dari 5 menit, anak belum pernah kejang sebelumnya, kejang berhenti tetapi anak tidak sadar, atau kejang terjadi lagi dalam 24 jam yang sama. Jika anak sulit bernapas, biru, atau kejang akibat cedera kepala, jangan tunda.
Penanganan Medis dan Obat-obatan
Penanganan utama kejang demam adalah mengatasi demam dan menghentikan kejang yang berlangsung lama. Dokter biasanya tidak memberikan obat antikejang jangka panjang untuk kejang demam sederhana, karena risikonya lebih besar daripada manfaatnya. Berikut pendekatan medis:
Pengendalian Demam
- Parasetamol (15 mg/kgBB setiap 46 jam) atau ibuprofen (10 mg/kgBB setiap 68 jam) digunakan untuk menurunkan demam. Penting diingat: obat penurun demam tidak mencegah kejang demam, hanya membuat anak lebih nyaman.
- Kompres air hangat (bukan air dingin atau alkohol) di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Hindari kompres es karena dapat meningkatkan kedinginan dan justru memicu ketidaknyamanan.
Penghentian Kejang
- Untuk kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit, dokter akan memberikan diazepam rektal (melalui anus) atau midazolam yang disemprotkan ke hidung. Obat ini bekerja cepat untuk menghentikan kejang.
- Jika kejang terus berlanjut, pasien mungkin memerlukan obat antikejang intravena di rumah sakit.
Pemeriksaan tambahan seperti EEG (elektroensefalogram), CT scan, atau pungsi lumbal hanya dilakukan jika ada kecurigaan kejang kompleks, infeksi otak (meningitis/ensefalitis), atau kelainan neurologis lainnya.
Mitos dan Fakta Seputar Kejang Demam
Beredar banyak mitos di masyarakat yang justru membahayakan penanganan. Berikut klarifikasinya:
- Mitos: Lidah anak bisa tersedak saat kejang, sehingga harus dijepit. Fakta: Jangan pernah memasukkan apapun ke mulut. Lidah adalah otot yang kuat dan kecil kemungkinan tersedak. Justru benda asing bisa menyumbat saluran napas.
- Mitos: Anak tidak boleh dimandikan setelah kejang. Fakta: Mandi air hangat diperbolehkan untuk menurunkan demam, asalkan anak sudah sadar penuh.
- Mitos: Kejang demam menyebabkan kerusakan otak permanen. Fakta: Pada kejang demam sederhana, tidak ada bukti kerusakan otak. Bahkan kejang berdurasi panjang sekalipun jarang menyebabkan kerusakan jika ditangani cepat.
- Mitos: Semua anak yang kejang demam harus dirawat inap. Fakta: Anak dengan kejang demam sederhana dan sudah pulih biasanya bisa dirawat di rumah dengan pemantauan ketat. Rawat inap hanya jika ada tanda bahaya.
Kapan Kejang Demam Berbahaya?
Meskipun sebagian besar kejang demam tidak berbahaya, ada kondisi yang memerlukan evaluasi neurologis serius. Risiko meningkat pada:
- Kejang pertama pada anak di bawah usia 12 bulan (terutama di bawah 6 bulan).
- Kejang demam kompleks (fokal, durasi panjang, atau berulang).
- Anak dengan keterlambatan perkembangan sebelumnya.
- Riwayat kejang tanpa demam sebelumnya atau epilepsi dalam keluarga.
Pada kasus-kasus ini, dokter mungkin akan merekomendasikan observasi lebih lanjut atau pengobatan profilaksis (obat antikejang saat demam) untuk mencegah kejang berulang.
Prognosis: Kebanyakan anak kejang demam tumbuh normal. Hanya sekitar 2% dari mereka yang mengalami kejang demam sederhana akan mengembangkan epilepsi. Risiko ini sedikit lebih tinggi pada kejang demam kompleks. Secara keseluruhan, kejang demam tidak memengaruhi kecerdasan, prestasi sekolah, atau fungsi otak jangka panjang.
Pencegahan Kejang Demam Berulang
Karena kejang demam dipicu oleh demam, mencegah demam ekstrem bisa mengurangi risiko, tapi tidak selalu efektif. Beberapa strategi yang dianjurkan:
- Imunisasi lengkap: Vaksinasi mengurangi risiko infeksi penyebab demam seperti campak, rubella, dan pneumokokus.
- Pantau suhu tubuh saat anak sakit. Berikan obat penurun demam sesuai dosis jika suhu di atas 38,5C dan anak tampak rewel atau tidak nyaman.
- Hindari penggunaan antipiretik secara berlebihan tidak ada bukti bahwa menurunkan demam mencegah kejang.
- Diazepam profilaksis terkadang diresepkan oleh dokter anak untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam berulang atau kompleks. Obat ini diberikan saat demam muncul (bukan terus-menerus).
Diskusikan dengan dokter anak mengenai rencana tindakan bila anak Anda rentan kejang demam. Orang tua sebaiknya memiliki persediaan obat antikejang (seperti diazepam rektal) di rumah jika diresepkan.
Kesimpulan
Kejang demam adalah kondisi yang umum dan umumnya jinak pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Meskipun tampak menakutkan, mayoritas kejang berhenti sendiri tanpa menimbulkan kerusakan otak. Penanganan yang tepat di rumah tetap tenang, posisi miring, jangan memasukkan apapun ke mulut, dan catat durasi sangat penting. Segera cari bantuan medis jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau terdapat tanda bahaya. Dengan pemahaman yang benar, orang tua dapat mengurangi rasa panik dan memberikan pertolongan yang aman serta cepat. Pencegahan melalui imunisasi dan pemantauan demam adalah langkah terbaik, namun ingatlah bahwa kejang demam bukanlah kesalahan Anda. Konsultasi dengan dokter anak akan memberikan panduan spesifik sesuai kondisi anak.
Semoga informasi ini bermanfaat dan membantu Anda lebih siap dalam menghadapi kejang demam pada buah hati.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.