Dalam studi ekonomi dan sosiologi, kemiskinan merupakan fenomena multidimensional yang sering kali sulit didefinisikan secara tunggal. Salah satu cara yang paling umum digunakan untuk membedah masalah ini adalah melalui konsep kemiskinan relatif. Berbeda dengan kemiskinan absolut yang mengukur kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, kemiskinan relatif melihat kedudukan seseorang dalam struktur distribusi pendapatan di dalam suatu masyarakat.
Kemiskinan relatif adalah kondisi di mana seseorang atau sebuah keluarga memiliki pendapatan atau sumber daya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar hidup rata-rata masyarakat di tempat mereka tinggal. Singkatnya, seseorang dikatakan miskin secara relatif jika mereka tidak mampu menikmati gaya hidup atau kebutuhan yang dianggap wajar oleh masyarakat sekitarnya.
Konsep ini sangat bergantung pada konteks sosial dan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, seseorang yang dikategorikan miskin secara relatif di sebuah negara maju mungkin justru dianggap hidup berkecukupan di negara berkembang. Standar "kewajaran" ini terus bergeser seiring dengan kemajuan ekonomi sebuah bangsa.
Penting untuk membedakan kedua konsep ini agar kebijakan penanggulangan kemiskinan dapat lebih tepat sasaran. Kemiskinan absolut lebih berfokus pada kelangsungan hidupseperti akses terhadap pangan, air bersih, tempat tinggal, dan kesehatan dasar. Jika seseorang tidak bisa memenuhi hal-hal tersebut, mereka jatuh dalam kemiskinan absolut.
Sebaliknya, kemiskinan relatif lebih berfokus pada ketimpangan. Meskipun seseorang mungkin memiliki cukup makanan untuk bertahan hidup, jika pendapatan mereka jauh di bawah rata-rata nasional, mereka akan merasa terpinggirkan dari partisipasi sosial yang normal. Kemiskinan relatif menyoroti bahwa kemiskinan bukan hanya soal kelaparan, tetapi juga soal ketidakmampuan untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat.
Ada beberapa alasan mengapa kemiskinan relatif tetap relevan dalam perdebatan kebijakan publik:
Kemiskinan relatif sering kali dipicu oleh faktor-faktor sistemik. Ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas, diskriminasi di pasar tenaga kerja, serta struktur pajak yang tidak progresif sering kali membuat kelompok tertentu tertinggal jauh di belakang rata-rata pendapatan masyarakat. Ketika pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh kelompok atas, jurang antara si kaya dan si miskin akan semakin lebar, yang pada gilirannya meningkatkan angka kemiskinan relatif.
Kemiskinan relatif mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan hanya tentang angka kelaparan, melainkan tentang posisi seseorang di dalam masyarakat. Upaya untuk menanggulangi kemiskinan relatif memerlukan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar pemberian bantuan pangan. Hal ini melibatkan perbaikan distribusi pendapatan, penciptaan kesempatan kerja yang setara, dan pemberian akses yang adil terhadap pendidikan dan layanan publik bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan memahami kemiskinan relatif, pemerintah dan lembaga terkait dapat menciptakan kebijakan yang tidak hanya menjaga kelangsungan hidup warga negara, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk hidup layak dan berpartisipasi aktif dalam kemajuan bangsa.
