1. Pengantar
Ekologi serangga merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi serangga dengan lingkungannya, termasuk hubungan dengan tumbuhan, hewan lain, serta faktor abiotik. Praktikum ekologi serangga biasanya dilakukan di laboratorium dan lapangan untuk memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam mengamati, mengidentifikasi, dan menganalisis perilaku serta peran ekologis serangga.
2. Tujuan Praktikum
- Memahami konsep dasar ekologi serangga.
- Mengidentifikasi spesies serangga yang ditemukan di habitat tertentu.
- Menganalisis hubungan serangga dengan sumber makanan, predator, dan faktor lingkungan.
- Menggunakan teknik sampling dan analisis data statistik sederhana.
- Menulis laporan ilmiah yang terstruktur dan jelas.
3. Metode
3.1. Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan di area tropis semiterbuka (hutan sekunder) pada bulan AprilMei, dengan tiga sesi pengambilan sampel: pagi (06.0009.00), siang (12.0015.00), dan sore (17.0020.00).
3.2. Teknik Sampling
Berikut teknik yang dipakai:
- Metode Timba (Sweep Net): Menggunakan jaring berukuran 30cm untuk menangkap serangga pada vegetasi rendah.
- Metode Penangkap Cahaya (Light Trap): Menggunakan lampu UV dengan papan perekat khusus pada malam hari.
- Metode Pitfall Trap: Menggunakan wadah berisi air sabun yang tertanam di tanah untuk menangkap serangga merayap.
3.3. Identifikasi
Serangga yang terkumpul diidentifikasi sampai tingkat famili dengan bantuan kunci determinasi (Kristensen, 2010) dan referensi foto digital.
3.4. Pengukuran Parameter Lingkungan
| Parameter | Satuan | Alat |
|---|---|---|
| Suhu udara | C | Termometer digital |
| Kelembapan relatif | % | Hygrometer |
| Cahaya (lux) | lux | Luxmeter |
| Kecepatan angin | m/s | Anemometer |
3.5. Analisis Data
Data keanekaragaman dihitung menggunakan indeks ShannonWiener (H) dan indeks Simpson (D). Hubungan antara keanekaragaman dan variabel lingkungan dianalisis dengan regresi linier sederhana.
4. Hasil & Analisis
4.1. Komposisi Serangga
Secara total, tercatat 462 individu serangga yang termasuk 12 famili. Famili dengan jumlah terbanyak adalah:
- Formicidae (semut) 140 individu
- Culicidae (nyamuk) 95 individu
- Chrysopidae (green lacewing) 56 individu
4.2. Indeks Keanekaragaman
Indeks ShannonWiener (H) untuk masingmasing periode pengambilan sampel:
- Pagi: 2.31
- Siang: 1.87
- Sore: 2.05
Nilai tertinggi pada pagi menunjukkan aktivitas serangga paling beragam ketika suhu sedang menanjak.
4.3. Hubungan dengan Faktor Lingkungan
Regresi linier mengungkapkan korelasi positif signifikan antara suhu udara dan jumlah total serangga (R = 0.68, p < 0.01). Kelembapan relatif menunjukkan korelasi negatif lemah (R = 0.22, p = 0.12).
5. Kesimpulan
Praktikum ekologi serangga berhasil memberikan gambaran nyata tentang dinamika komunitas serangga di habitat tropis semiterbuka. Hasil menunjukkan bahwa suhu udara merupakan faktor utama yang memengaruhi keanekaragaman dan kepadatan serangga selama periode observasi. Teknik sampling yang dipilih (sweep net, light trap, pitfall) terbukti efektif dalam menangkap kelompok serangga yang berbeda, sehingga memberikan data yang representatif.
Rekomendasi untuk praktikum selanjutnya meliputi:
- Memperluas durasi pengambilan sampel selama beberapa minggu untuk melihat variasi musiman.
- Menambahkan metode pengukuran kualitas tanah (pH, kandungan organik) untuk menilai pengaruh faktor abiotik lain.
- Mengintegrasikan analisis molekuler (DNA barcoding) guna meningkatkan akurasi identifikasi spesies.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam, mahasiswa dapat menyusun strategi konservasi yang lebih tepat untuk melindungi peran penting serangga dalam ekosistem.
