Tempe merupakan salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang telah mendunia. Terbuat dari fermentasi biji kedelai menggunakan kapang Rhizopus oligosporus atau Rhizopus oryzae, tempe tidak hanya menawarkan cita rasa yang gurih khas, tetapi juga kandungan gizi yang luar biasa tinggi. Proses produksinya menggabungkan seni fermentasi tradisional dengan ilmu bioteknologi sederhana yang dapat dipraktikkan baik dalam skala rumah tangga maupun industri besar.
Keberhasilan dalam memproduksi tempe sangat bergantung pada pemilihan bahan baku. Kualitas bahan baku yang prima akan menghasilkan tempe yang padat, harum, dan tahan lama.
Kedelai adalah media tumbuh utama bagi miselium kapang tempe. Gunakan biji kedelai yang bersih, kering, bernas (berisi penuh), dan bebas dari kotoran seperti kerikil atau sisa kulit polong. Kedelai lokal maupun impor dapat digunakan, asalkan memiliki kadar air yang rendah agar tidak mudah membusuk saat proses perendaman.
Ragi tempe mengandung spora kapang Rhizopus sp. yang berperan dalam merajut biji-biji kedelai menjadi satu kesatuan yang padat. Ragi harus disimpan di tempat yang kering dan sejuk agar sporanya tetap aktif. Takaran ragi harus pas; terlalu sedikit menyebabkan fermentasi lambat, sedangkan terlalu banyak membuat tempe cepat membusuk.
Memproduksi tempe membutuhkan ketelatenan dan tingkat kebersihan yang tinggi. Berikut adalah langkah-langkah sistematis dalam pembuatan tempe:
Biji kedelai disortir secara manual atau menggunakan mesin untuk memisahkan kotoran, batu, atau biji kedelai yang rusak dan keriput. Setelah bersih, kedelai dicuci dengan air bersih yang mengalir hingga kotoran yang menempel hilang sepenuhnya.
Kedelai direbus dalam air mendidih selama kurang lebih 30 hingga 45 menit. Proses perebusan awal ini bertujuan untuk melunakkan biji kedelai, memudahkan pengupasan kulit ari, serta menonaktifkan zat antinutrisi (seperti antitripsin) yang terdapat secara alami pada kedelai mentah.
Setelah direbus, kedelai direndam dalam air bersih selama 12 hingga 24 jam pada suhu ruang. Selama proses perendaman, terjadi fermentasi asam laktat secara alami yang ditandai dengan munculnya buih dan aroma asam yang khas. Penurunan pH (keasaman) hingga mencapai kisaran 4,5 - 5,3 sangat penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri pembusuk yang dapat menggagalkan fermentasi tempe.
Kulit ari kedelai harus dikupas agar miselium kapang dapat menembus dan tumbuh langsung ke dalam biji kedelai. Pengupasan dilakukan dengan cara meremas-remas kedelai dalam air, atau menggunakan mesin pengupas mekanis. Kulit ari yang terkelupas kemudian diapungkan dan dibuang.
Kedelai yang telah bersih dari kulit ari direbus kembali atau dikukus selama 30 menit. Langkah ini bertujuan untuk mematangkan kedelai sepenuhnya, mensterilkan kedelai dari bakteri kontaminan yang mungkin tumbuh selama perendaman, serta memantapkan tekstur kedelai.
Kedelai dihamparkan di atas tampah bersih atau meja penirisan khusus. Tahap ini sangat krusial; kedelai harus benar-benar kering dari air permukaan dan suhunya harus turun hingga mencapai suhu ruang (sekitar 30C). Jika kedelai terlalu basah atau terlalu panas saat diberi ragi, spora kapang akan mati atau membusuk akibat pertumbuhan bakteri air.
Setelah kedelai dingin dan kering secara merata, ragi tempe ditaburkan secara perlahan sambil diaduk hingga benar-benar homogen. Takaran standar berkisar antara 1 hingga 2 gram ragi per 1 kilogram kedelai kering, tergantung pada kekuatan ragi dan kondisi lingkungan produksi.
Kedelai yang telah diberi ragi segera dikemas. Wadah pengemas tradisional yang paling baik adalah daun pisang atau daun jati, karena memberikan sirkulasi udara yang ideal dan aroma khas yang harum. Namun, untuk skala komersial, kantong plastik berperekat (klip) atau plastik biasa yang diberi lubang-lubang ventilasi kecil menggunakan jarum sering digunakan karena lebih praktis dan higienis.
Bungkusan kedelai diletakkan di atas rak-rak kayu atau bambu dengan sirkulasi udara yang baik. Proses fermentasi berlangsung selama 36 hingga 48 jam pada suhu ruang ideal berkisar antara 28C hingga 32C. Selama fase ini, kapang tumbuh membentuk benang-benang putih (miselium) yang akan menyelimuti dan mengikat biji kedelai menjadi struktur yang kompak dan padat.
Memproduksi tempe merupakan interaksi biologis yang sensitif. Beberapa parameter yang wajib dijaga keajekannya meliputi:
Proses fermentasi pada pembuatan tempe tidak hanya mengubah tekstur dan rasa kedelai, tetapi juga meningkatkan nilai fungsional nutrisinya secara signifikan. Selama fermentasi, enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang mendegradasi protein kompleks menjadi asam amino bebas yang jauh lebih mudah diserap oleh tubuh manusia.
Tempe kaya akan protein nabati berkualitas tinggi, serat pangan, kalsium, zat besi, vitamin B kompleks (termasuk B12 yang jarang ditemukan pada makanan nabati), serta senyawa isoflavon yang berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan jantung.
Bagi para produsen tempe, baik skala mikro maupun menengah, terdapat beberapa tantangan klasik yang sering dihadapi, di antaranya:
Dengan pemahaman mendalam mengenai prinsip biologi fermentasi, ketekunan dalam menjaga higienitas, serta manajemen suhu yang baik, memproduksi tempe dapat menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan sekaligus berkontribusi dalam menyediakan sumber protein sehat yang terjangkau bagi masyarakat luas.
