Sektor pertanian, khususnya budidaya padi sawah, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) yang signifikan, terutama gas metana (CH4). Metana memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan karbon dioksida. Oleh karena itu, penerapan teknik mitigasi yang efektif sangat krusial untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Emisi metana pada padi sawah terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri anaerob di dalam tanah yang tergenang air. Ketika lahan sawah digenangi air secara terus-menerus, suplai oksigen ke dalam tanah terhambat. Kondisi anaerobik ini memicu aktivitas mikroba metanogenik yang menghasilkan gas metana. Gas tersebut kemudian dilepaskan ke atmosfer melalui jaringan aerenkim pada tanaman padi atau melalui gelembung udara dari dalam tanah.
Terdapat beberapa pendekatan teknis yang telah terbukti efektif dalam menekan emisi metana tanpa mengorbankan produktivitas tanaman padi:
Teknik pengairan berselang (Alternative Wetting and Drying - AWD) adalah metode yang paling efektif. Dengan membiarkan lahan mengalami periode kering secara berkala, oksigen dapat masuk ke dalam tanah. Masuknya oksigen akan menekan aktivitas bakteri metanogenik sekaligus meningkatkan aktivitas bakteri metanotrof yang mampu mengoksidasi metana menjadi karbon dioksida yang dampaknya jauh lebih rendah.
Penggunaan jerami segar yang langsung dibenamkan ke dalam tanah saat lahan masih tergenang akan memicu produksi metana yang tinggi karena ketersediaan bahan organik yang melimpah bagi bakteri. Strategi mitigasinya meliputi:
Varietas padi yang berbeda memiliki kemampuan yang bervariasi dalam mentransfer metana dari akar ke atmosfer. Pemanfaatan varietas yang memiliki efisiensi tinggi dan struktur akar yang meminimalkan kebocoran gas dapat menjadi pilihan jangka panjang. Penelitian varietas yang tahan kekeringan juga mendukung penerapan irigasi berselang.
Penggunaan pupuk anorganik, terutama urea, perlu diperhatikan dosis dan caranya. Penempatan pupuk secara dalam (deep placement) dapat membantu tanaman menyerap hara lebih efektif dan mengurangi potensi emisi dari nitrogen serta pengaruhnya terhadap ekosistem tanah.
Mitigasi emisi metana tidak hanya berperan dalam menekan laju perubahan iklim global, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi petani. Penggunaan air yang lebih efisien melalui irigasi berselang dapat menghemat biaya operasional pompa air. Selain itu, kondisi tanah yang lebih sehat akibat aerasi yang baik dapat mendukung kesehatan perakaran padi, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan hasil panen.
Mitigasi emisi metana pada tanaman padi adalah tanggung jawab bersama untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim. Dengan mengadopsi praktik budidaya yang lebih cerdas seperti irigasi berselang dan manajemen residu tanaman yang tepat, sektor pertanian dapat bertransformasi menjadi bagian dari solusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca di Indonesia.
