Sistem pernapasan adalah salah satu sistem organ yang paling vital sekaligus paling rentan terhadap berbagai agen etiologis. Karena fungsinya sebagai tempat pertukaran gas langsung dengan lingkungan eksternal, sistem ini secara konstan terpapar oleh partikel aerosol, mikroorganisme, dan polutan udara. Dalam patologi veteriner sistemik, pemahaman mengenai respon paru terhadap cedera adalah kunci untuk mendiagnosis penyakit infeksius, toksik, maupun neoplastik pada hewan.
Gangguan Sirkulasi
Gangguan peredaran darah di paru seringkali merupakan manifestasi dari penyakit sistemik atau penyakit kardiovaskular. Dua bentuk utama gangguan sirkulasi yang sering dijumpai adalah hiperemia dan kongesti, serta edema paru.
Hiperemia dan Kongesti
Hiperemia aktif biasanya terjadi akibat peningkatan aliran darah arteri, seringkali sebagai respon awal terhadap peradangan (inflamasi akut). Sebaliknya, kongesti pasif adalah akumulasi darah vena yang disebabkan oleh gagal jantung, khususnya gagal jantung kiri. Pada kasus kongesti pasif kronis, paru akan tampak berat, padat, dan berwarna coklat kemerahan (indurasi coklat). Histologis, terdapat pemendekan kapiler dan penyimpanan hemosiderin dalam makrofag alveolar, yang dikenal sebagai "sel jantung gagal" (heart failure cells).
Edema Paru
Edema paru ditandai dengan akumulasi cairan yang kaya protein dalam alveoli dan ruang interstitialis. Kondisi ini bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan hidrostatis (gagal jantung), penurunan tekanan onkotik plasma (hipoproteinemia), atau kerusakan barrier alveolar-kapiler (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS). Secara makroskopis, paru akan membesar, berat, dan memunculkan cairan berbusa pada permukaan potongan.
Pneumonia: Peradangan Paru
Pneumonia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peradangan pada parenkim paru. Berdasarkan distribusi anatomi dan etiologinya, pneumonia dikelompokkan menjadi beberapa kategori penting dalam kedokteran hewan.
Bronkopneumonia
Bronkopneumonia, atau pneumonia lobular, adalah peradangan yang berawal dari bronkus dan menyebar ke lobulus paru sekitarnya. Ini adalah bentuk pneumonia yang paling sering terjadi, biasanya disebabkan oleh bakteri yang terhirup atau berasal dari penyebaran hematogen. Contoh klasik adalah Pasteurella multocida pada sapi (pneumonia enzootik) atau Bordetella bronchiseptica pada anjing. Secara makroskopis, lesi tampak sebagai bercak-bercak merah tuju (hepatikasi merah) atau abu-abu (hepatikasi abu-abu) yang tersebar tidak merata, terutama pada lobus apikal kranial dan kaudal.
Pneumonia Lobaris
Berbeda dengan bronkopneumonia, pneumonia lobaris mengenai seluruh lobus atau sebagian besar lobus secara kontinu. Biasanya disebabkan oleh bakteri virulen yang menyebar melalui saluran limfa dalam parenkim dan memicu respon eksudatif fibrinous masif. Contohnya adalah pneumonia kronis progresif sapi yang disebabkan oleh Mycoplasma mycoides. Ciri khasnya adalah adanya "pleuritis" (radang selaput paru) dengan eksudat fibrinos yang kental ("false membrane").
Pneumonia Interstisial
Tipe ini ditandai oleh peradangan yang dominan pada dinding alveolar (septa interalveolar), bukan pada ruang alveolar itu sendiri. Kondisi ini sering kali memiliki etiologi virus atau toksik. Contoh mencakup PRRS (Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome) pada babi atau infeksi virus Distemper pada anjing. Secara makroskopis, paru tampak pucat, bertiup (emfisematosa), dan tidak berat karena eksudat di alveoli minimal, namun jaringannya menjadi kaku dan tidak kempis.
Penyakit Parasiter
Infeksi parasit pada sistem pernapasan juga signifikan, terutama pada hewan ternak ruminansia kecil dan hewan peliharaan. Verminous pneumonia (pneumonia akibat cacing) terjadi ketika larva nematoda bermigrasi melalui jaringan paru, menyebabkan trauma mekanis dan reaksi peradangan.
- Dictyocaulus viviparus: Cacing paru pada sapi yang menyebabkan bronkitis dan pneumonia interstisial, seringkali dengan area emfisema yang jelas.
- Angiostrongylus vasorum: Nematoda pada anjing yang hidup di arteri pulmonalis dan jantung kanan, menyebabkan trombosis dan peradangan.
- Aelurostrongylus abstrusus: Cacing paru kucing yang menyebabkan granuloma fokal di sekitar larva di parenkim paru.
Neoplasma (Tumor)
Tumor primer pada paru relatif jarang dibandingkan tumor metastasis. Namun, beberapa jenis neoplasma perlu dikenali.
Karsinoma sel skuamosa primer dapat muncul pada bronkus anjing. Papiloma dan adenoma juga pernah dilaporkan. Seringkali, yang ditemukan pada necropsi adalah metastasis dari tumor di bagian tubuh lain, seperti karsinoma mammary, osteosarkoma (tulang), atau melanoma. Metastasis paru biasanya muncul sebagai nodul-nodul keras ganda di permukaan pleura viseralis dan parenkim paru.
Patologi Spesies: Ringkasan Singkat
Untuk membedahkan diagnosis, penting untuk mengetahui pola penyakit yang umum pada setiap spesies:
Sapi: Rentan terhadap kompleks penyakit pernapasan sapi (BRD) yang melibatkan faktor stres, virus (IBR, BVD), dan bakteri sekunder (Mannheimia haemolytica), menyebabkan pneumonia fibrinous nekrotik hemoragik yang berat.
Babi: Sering mengalami pneumonia enzootik oleh Mycoplasma hyopneumoniae yang memberikan gambaran "cranioventral pulmonary consolidation" (pengerasan bagian depan paru).
Anjing & Kucing: Penyakit yang sering dijumpai termasuk infeksi bakteri sekunder setelah virus parainfluenza (kennel cough), asma (pada kucing), dan dirofilariasis (cacing jantung) yang menyebabkan lesi vaskular.
Memahami berbagai bentuk patologi ini memungkinkan dokter hewan untuk merumuskan diagnosis banding yang akurat, menentukan prognosis, dan merancang strategi terapi serta pencegahan yang efektif untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan hewan.
