Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai sarana pengembangan kecerdasan dan identitas. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah atas (SMA), kemampuan siswa dalam memahami struktur bahasa dan penggunaannya dalam berbagai teks sangatlah krusial. Salah satu aspek tata bahasa yang menarik untuk dikaji adalah pronomina persona atau kata ganti orang. Analisis terhadap pemakaian bentuk dan pergeseran pengacuan pronomina persona khususnya dalam media cetak remaja, seperti tabloid Remaja Gaul, dapat menjadi materi ajar yang relevan dan kontekstual bagi siswa.
Pronomina persona adalah kata ganti yang digunakan untuk menggantikan nomina atau frasa nomina yang berfungsi sebagai pelaku atau penderita dalam suatu tindakan, atau yang disebut dalam pembicaraan. Dalam tata bahasa Indonesia, pronomina persona dibedakan berdasarkan orang (pertama, kedua, dan ketiga) serta jumlah (tunggal dan jamak).
Pemahaman mengenai pronomina persona bukan hanya sekadar menghafal bentuk kata, melainkan memahami bagaimana kata tersebut digunakan secara efektif dalam sebuah wacana. Penggunaan pronomina yang tepat akan membuat wacana menjadi kohesif dan mudah dipahami, sebaliknya penggunaan yang sembarangan dapat menimbulkan kekaburan makna.
Tabloid Remaja Gaul merupakan salah satu media populer di masanya yang menyajikan berbagai konten khusus remaja, mulai dari mode, musik, hubungan, hingga karya sastra seperti cerita pendek (cerpen). Cerpen dalam media ini biasanya ditulis dengan bahasa yang dekat dengan dunia pergaulan remaja, seringkali menggunakan ragam bahasa gaul atau informal.
Karakteristik bahasa dalam cerpen remaja seringkali menunjukkan eksperimentasi bahasa. Penulis berupaya menyesuaikan gaya bahasa dengan karakter para tokoh yang diceritakan. Hal ini menyebabkan adanya variasi pemakaian bentuk pronomina persona yang bervariasi dari bentuk baku hingga non-baku, serta pergeseran pengacuan yang didorong oleh konteks pragmatik atau suasana keakraban.
Dalam analisis cerpen pada tabloid remaja, ditemukan variasi pemakaian bentuk pronomina yang kaya. Siswa SMA perlu diajak untuk mengidentifikasi variasi tersebut agar mereka memahami bahwa bahasa itu dinamis.
Bentuk baku untuk penutur tunggal adalah aku dan saya, sedangkan untuk jamak adalah kami (penutur tidak termasuk pendengar) dan kita (penutur termasuk pendengar). Dalam cerpen remaja, penggunaan aku sangat mendominasi karena teknik penceritaan sering menggunakan sudut pandang orang pertama (aku-sentris) untuk mengekspresikan kehidupan pribadi dan emosi remaja yang intens.
Selain bentuk baku, sering ditemukan bentuk gaul atau canggih seperti gue (akar dari bahasa Hokkien) atau ce (pengaruh daerah tertentu). Penggunaan gue biasanya muncul dalam dialog antar remaja untuk menunjukan keakraban dan pergaulan yang santai. Sebagai contoh, kalimat "Gue nggak sanggup lagi" sering digunakan menggantikan "Aku tidak sanggup lagi" untuk memberikan nuansa emosional yang lebih kuat dan informal.
Bentuk baku untuk orang kedua tunggal adalah kamu, engkau, atau anda. Dalam cerpen remaja, kamu adalah bentuk yang paling umum digunakan ketika tokoh berbicara kepada teman sebaya. Namun, bentuk anda hampir tidak pernah digunakan karena dianggap terlalu kaku dan formal.
Menariknya, bentuk non-baku seperti loe (pasangan dari gue), elu, atau dik (adik) sering muncul. Misalnya, "Loe jangan macam-macam sama gue ya!". Pergeseran bentuk ini penting untuk dikenalkan kepada siswa agar mereka memahami penggunaan bahasa sesuai dengan situasi (situational variety).
Bentuk baku orang ketiga tunggal adalah ia, dia, atau -nya. Dalam cerpen, selain bentuk baku, penulis sering menggunakan nama panggilan spesifik, julukan, atau istilah gaul untuk merujuk pada orang ketiga. Misalnya, penggunaan nama si Doi untuk merujuk pada pasangan kekasih, atau musuh bebuyutan untuk merujuk pada rival.
Aspek yang lebih kompleks dan menantang untuk dianalisis siswa adalah pergeseran pengacuan. Pergeseran pengacuan terjadi ketika thereferen yang dimaksud oleh suatu pronomina berubah dalam suatu konteks percakapan atau penceritaan.
Dalam suatu cerita, seorang tokoh awalnya disebut dengan nama orang ketiga, namun saat dialog berlangsung, pengacuan bergeser ke orang kedua (kamu) atau sebaliknya. Misalnya, narator bercerita tentang Rini (orang ketiga), kemudian dalam dialog, tokoh lain berkata, "Kamu harus berani, Rin!". Di sini terjadi pergeseran pengacuan dari narator (dia) ke tokoh dalam dialog (kamu).
Pergeseran ini sering terjadi karena perubahan hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. Seorang tokoh mungkin awalnya menggunakan Anda atau Kamu yang formal kepada orang lain karena baru kenal, namun seiring berjalannya cerita dan terjalinnya kedekatan, bentuknya berubah menjadi Loe atau Kamu yang santai. Pergeseran ini menandai dinamika hubungan interpersonal dalam cerita.
Beberapa cerpen mungkin menggunakan teknik di mana narasi berpindah dari sudut pandang orang pertama (Aku) ke orang ketiga (Dia), atau sebaliknya. Meskipun jarang, analisis terhadap fenomena ini dapat melatih ketajaman berbahasa siswa dalam membedakan sudut pandang narator.
Penggunaan cerpen tabloid Remaja Gaul sebagai bahan ajar memiliki beberapa relevansi strategis dalam kurikulum Bahasa Indonesia SMA:
Guru dapat menerapkan materi ini dengan pendekatan berbasis teks (Text-Based Approach). Langkah-langkahnya antara lain:
Pertama, Observasi. Guru menyediakan potongan cerpen dari tabloid remaja (arsip atau digital) dan meminta siswa mencatat semua kata ganti orang yang ditemukan.
Kedua, Identifikasi. Siswa mengelompokkan kata ganti tersebut ke dalam kategori orang pertama, kedua, dan ketiga, serta membedakan mana yang baku dan nondemikian.
Ketiga, Analisis. Siswa diminta menganalisis mengapa penulis memilih bentuk tertentu. Apakah untuk menunjukkan kemarahan? Keakraban? Atau formalitas? Siswa juga mencari bagian di mana terjadi pergeseran pengacuan dan mendiskusikan dampaknya terhadap pemahaman cerita.
Keempat, Produksi. Sebagai tindak lanjut, siswa diminta menulis cerpen pendek atau dialog dengan consciously menggunakan variasi pronomina persona untuk menunjukkan dinamika hubungan antartokoh.
Pemakaian bentuk dan pergeseran pengacuan pronomina persona dalam cerpen pada tabloid Remaja Gaul merupakan fenomena bahasa yang kaya akan nilai pedagogis. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada kebenaran tata bahasa secara normatif, tetapi juga bagaimana bahasa digunakan secara strategis dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan media yang dekat dengan dunia siswa, diharapkan pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan mampu menghasilkan pembelajar yang kompeten secara komunikatif dan sensitif terhadap fungsi sosial bahasa.
