Tanaman kubis (Brassica oleracea var. capitata) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Sayuran ini banyak dikonsumsi masyarakat karena mengandung berbagai nutrisi penting, seperti vitamin C, serat, dan senyawa antioksidan. Namun, budidaya kubis seringkali menghadapi kendala utama berupa serangan penyakit tular tanah dan udara, yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen secara signifikan. Penyakit seperti layu rebah (damping-off), busuk akar, dan busuk daun disebabkan oleh berbagai patogen jamur, di antaranya Rhizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, Pythium spp., dan Fusarium spp.
Selama ini, pengendalian penyakit tanaman masih sangat bergantung pada penggunaan pestisida kimia sintetik. Penggunaan berlebihan terhadap pestisida ini membawa dampak negatif, antara lain pencemaran lingkungan, residu kimia pada produk panen, kerusakan organisme tanah yang berguna, serta munculnya resistensi hama dan penyakit. Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, pengendalian hayati (biological control) menggunakan agensia hayati menjadi solusi yang semakin diminati. Dua agensia hayati yang memiliki potensi besar dalam mengendalikan penyakit tanaman dan mempromosikan pertumbuhan tanaman adalah genus Trichoderma dan Gliocladium.
Trichoderma spp. merupakan jamur tanah yang bersifat saprofit dan oportunis. Jamur ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai jenis tanah, terutama tanah yang kaya akan bahan organik. Sebagai agensia hayati, Trichoderma memiliki peran ganda, yaitu sebagai pengendali hayati terhadap patogen tanaman sekaligus sebagai pendorong pertumbuhan tanaman. Kemampuan Trichoderma dalam bersaing membuatnya mampu mendominasi ekosistem tanah (rhizosphere) dan menekan perkembangan patogen berbahaya.
Beberapa spesies Trichoderma yang sering digunakan sebagai agen bio Kontrol antara lain T. harzianum, T. viride, dan T. koningii. Mereka memiliki daya adaptasi yang tinggi dan mampu tumbuh dengan cepat pada berbagai kondisi lingkungan.
Gliocladium spp. juga merupakan jamur saprofit tanah yang memiliki kedekatan hubungan dengan Trichoderma. Genus ini sering ditemukan di tanah dan menjadi kompetitor potensial bagi patogen tular tanah. Mirip dengan Trichoderma, Gliocladium juga dikenal mampu menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat toksik (toksin) bagi jamur patogen, serta memiliki kemampuan mikoparasitisme. Dalam praktik pertanian, Gliocladium virens dan G. catenulatum adalah spesies yang paling banyak banyak dikaji dan dikembangkan.
Keefektifan Trichoderma dan Gliocladium dalam mengendalikan penyakit pada tanaman kubis didukung oleh berbagai mekanisme kompleks. Mekanisme tersebut bekerja secara simultan melindungi tanaman tanaman kubis dari serangan patogen, yaitu:
Selain berfungsi sebagai pengendali penyakit, pemanfaatan Trichoderma dan Gliocladium pada budidaya kubis juga bermanfaat dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas tanaman. Hal ini disebabkan karena kedua jamur ini memiliki peran sebagai biofertilizer atau pemupuk hayatis. Mekanisme peningkatatan pertumbuhan meliputi:
Dalam praktik budidaya kubis, aplikasi agen hayati ini dapat dilakukan pada berbagai fase pertumbuhan tanaman. Penyakit yang sering menyerang kubis dan dapat ditekan oleh kedua jamur ini antara lain penyakit layu rebah (damping-off) yang disebabkan oleh Pythium dan Rhizoctonia, busuk leher akar (Sclerotium), serta penyakit layu fusarium. Berikut adalah uraian penerapannya:
Fase persemaian adalah fase paling kritis terhadap serangan damping-off. Media semai dapat dicampur dengan Trichoderma atau Gliocladium berbentuk butiran (granules) atau serbuk pada saat pembuatan bedengan semai. Dosis yang digunakan umumnya berkisar antara 510 gram per kg media tanah. Hal ini memberikan perlindungan sejak awal kecambah tumbuh.
Benih kubis sebelum disemaikan bisa direndam terlebih dahulu dalam larutan suspensi spora Trichoderma atau Gliocladium. Penyemprotan benih atau pengelapan benih dengan campuran bubuk jamur juga dapat dilakukan. Tujuannya adalah untuk membungkus benih dengan perlindungan biologis agar segera terbentuk mikrokoloni jamur pelindung saat benih berkecambah.
Saat memindahkan bibit dari persemaian ke lahan (jalan benur), lubang tanam dapat diberi kocor (inokulan) berbasis Trichoderma atau Gliocladium. Ini membantu meminimalkan cekaman tanam (transplanting shock) dan mencegah serangan jamur tanah di awal vegetatif.
Trichoderma dan Gliocladium berkembang sangat baik dalam media organik. Pada budidaya kubis, aplikasi pupuk kandang yang sudah diperkaya atau dikulturkan dengan jamur ini sangat efektif. Pupuk kandang difermentasi dengan agensia hayati ini tidak hanya memicu pertumbuhan tetapi juga menekan populasi Ralstonia (penyakit layu bakteri) yang sering menjadi masalah pada tanaman sayur daun.
Untuk tanaman dewasa, aplikasi agensia hayati juga bisa dilakukan melalui pemupukan dasar berbentuk butiran yang ditanam di sekeliling tanaman kubis atau dicampur dengan pupuk NPK saat aplikasi ke dalam tanah. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan tanah hingga menjelang masa pembentukan kepala (curd) kubis.
Menggunakan Trichoderma dan Gliocladium memiliki banyak keunggulan dibandingkan pestisida kimiawi. Selain aman bagi lingkungan, produk hasil panen juga menjadi lebih sehat, bebas residu kimia berbahaya, dan memiliki umur simpan panen yang lebih baik. Jamur ini juga relatif aman bagi hewan dan manusia.
Namun, perlu diperhatikan bahwa pengendalian hayati bukanlah "silver bullet" yang bekerja secepat pestisida kontak kimia. Efek kerjanya bersifat kuratif dan preventif, serta agak lambat terlihat reaksinya pada serangan yang sudah parah. Karena itu, aplikasi harus dilakukan lebih awal (secara preventif). Selain itu, keberlanjutan keberadaan jamur ini di tanah sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimia tanah seperti pH, suhu, dan kelembaban tanah. Tanah yang terlalu miskin bahan organik atau tidak dijaga kandungan airnya dapat mematikan jamur ini.
Pemanfaatan agensia hayati Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. pada budidaya tanaman kubis merupakan langkah strategis dalam menuju pertanian berkelanjutan. Kedua jamur ini terbukti efektif dalam mengendalikan penyakit tular tanah yang merugikan, melalui mekanisme kompetisi, antibiosis, dan mikoparasitisme. Selain melindungi tanaman dari penyakit, aplikasi kedua agensia hayati ini juga merangsang pertumbuhan akar dan pucuk, sehingga meningkatkan hasil panen kubis secara kuantitas maupun kualitas. Integrasi pengendalian hayati ini dengan praktik budidaya yang baik dan sanitas lahan akan menjamin keberhasilan usaha pertanian kubis yang sehat, produktif, dan ramah lingkungan.
