Tapestri merupakan salah satu seni kerajinan tradisional yang menggabungkan unsur estetika, ketelitian, dan kreativitas. Pada jenjang SMP, khususnya kelas VIII, pembelajaran seni budaya bertujuan mengembangkan kompetensi estetika serta ketrampilan praktis siswa. Penggunaan benang wol dalam pembuatan tapestri dipilih karena sifatnya yang lembut, mudah dibentuk, serta mampu menghasilkan warna yang kaya dan bergradasi.
SMP Negeri 1 Tamalatea berkomitmen untuk memperkaya kurikulum seni budaya dengan materi yang relevan dengan kearifan lokal sekaligus memupuk rasa kebanggaan terhadap warisan Indonesia. Kegiatan pembuatan tapestri berbahan benang wol memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan konsep seni visual, matematika (pengukuran, pola), serta nilainilai kerja keras dan kerjasama.
Guru memaparkan sejarah singkat tapestri di Indonesia, menyoroti contoh karya tradisional dari Timor, Sulawesi, dan Jawa. Siswa diajak mengamati gambar tapestri yang ditampilkan, kemudian berdiskusi tentang fungsi sosial dan estetika dari karya tersebut.
Guru memperagakan cara menyiapkan benang wol, mengikat simpul pada ujung benang, dan memulai pola dasar (misalnya herringbone atau chevron). Selama demonstrasi, guru menekankan pentingnya menjaga ketegangan benang agar tidak melorot serta cara memotong benang secara rapi.
Siswa mempresentasikan hasil tapestri ke kelas, menjelaskan pilihan warna, kesulitan yang dihadapi, serta solusi yang dipakai. Guru menilai berdasarkan Rubrik Kualitas Karya (30%), Proses Kerja (25%), Kreativitas Desain (20%), Penyajian Lisan (15%), dan Dokumentasi (10%).
Evaluasi terdiri atas dua fase utama: Formatif dan Sumatif. Pada fase formatif, guru memberikan umpan balik secara langsung selama proses pembuatan. Pada fase sumatif, karya akhir diukur dengan rubrik yang sudah dijelaskan sebelumnya serta tes tertulis singkat yang menanyakan teori dasar tapestri serta keterkaitan dengan kebudayaan lokal. Nilai akhir merupakan gabungan antara nilai praktik (70%) dan nilai tes tertulis (30%).
Setelah menguasai dasar tapestri benang wol, siswa dapat diarahkan untuk mengeksplorasi media lain seperti benang katun, serat sintetis, atau kain kanvas berukuran lebih besar. Proyek kolaboratif berupa mural tapestri yang dipasang di ruang guru atau koridor sekolah dapat menjadi media publikasi karya siswa sekaligus meningkatkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah.
Selain itu, guru dapat mengundang seniman lokal untuk memberikan workshop khusus, sehingga siswa mendapat pengalaman belajar langsung dari praktisi seni tradisional. Kegiatan pameran karya di tingkat kecamatan atau kabupaten juga dapat menjadi ajang kompetisi yang memotivasi siswa untuk terus berinovasi.
Pembelajaran tapestri berbahan benang wol untuk kelas VIII di SMP Negeri 1 Tamalatea bukan sekadar mengajarkan teknik kerajinan, melainkan juga menumbuhkan rasa hormat terhadap warisan budaya, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, serta mengasah kreativitas siswa. Dengan pendekatan yang terstrukturdimulai dari pendahuluan historis, demonstrasi praktis, praktik mandiri, hingga refleksi kritissiswa dapat menginternalisasi nilai estetika sekaligus mengaplikasikan pengetahuan matematika dan bahasa Indonesia dalam konteks nyata. Diharapkan, hasil akhir berupa tapestri yang estetis dan bermakna akan menjadi bukti keberhasilan proses belajar yang berpusat pada siswa.
