Pengantar
Rajungan atau kepiting lumpur (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di wilayah pesisir Indonesia. Karena permintaan pasar yang terus meningkat, budidaya rajungan mulai beralih dari penangkapan liar ke produksi berbasis pembenihan (broodstock). Pembenihan rajungan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membantu pelestarian populasi liar.
Siklus Hidup Rajungan
Rajungan memiliki siklus hidup yang terdiri dari empat fase utama:
- Telur dilepaskan oleh betina setelah perkawinan, menetas dalam 35 hari tergantung suhu.
- Larus (larva) fase planktonik selama 23 minggu, memerlukan air bersih dan plankton sebagai pakan awal.
- Juvenil setelah metamorfosis menjadi kepiting kecil, mulai mencari substrat dan makanan dasar (alga, detritus).
- Adult mencapai kematangan seksual pada umur 56 bulan (3040g), siap untuk reproduksi.
Keberhasilan pembenihan sangat dipengaruhi oleh suhu air (2430C), salinitas (015ppt) dan kualitas air (pH 7,58,5).
Persiapan Kolam atau Tank
Berikut adalah poin penting dalam menyiapkan fasilitas pembenihan:
- Ukuran: Untuk fase larva, tank 5001000L cukup; untuk juvenil dan adult, gunakan kolam tanah atau terpal berukuran 25m.
- Sistem sirkulasi: Pompa udara dan pompa air harus dapat menghasilkan aliran 23 kali volume kolam per jam.
- Substrat: Pasir halus atau kerikil berukuran 24mm untuk tempat bersembunyi dan mengurangi stres.
- Pengendalian suhu: Gunakan heater atau pendingin sesuai kebutuhan untuk menjaga suhu konstan.
Teknik Pembenihan
1. Induksi Pemijahan
Rajungan biasanya memijahkan pada bulan merahasi maksimalkan cahaya dan suhu tinggi (28C). Untuk menginduksi secara buatan, lakukan langkah berikut:
- Rendam betina dan jantan dalam air laut 15ppt selama 12jam.
- Naikkan suhu menjadi 30C selama 23 jam, kemudian turunkan secara perlahan ke 26C.
- Berikan cahaya 12 jam per hari.
2. Penyerbukan
Setelah betina mengeluarkan telur, letakkan jantan pada bagian yang sama selama 3045 menit. Pastikan keduanya tidak terpisah terlalu jauh agar sperma dapat mencapai telur.
3. Inkubasi Telur
Telur biasanya menempel pada dinding tank atau substrat. Biarkan di dalam air bersih dengan aerasi lembut. Ganti air 20% setiap hari untuk menghindari pertumbuhan jamur.
4. Pembesaran Larva
Setelah menetas, larva membutuhkan makanan mikro (rotifer, Artemia nauplii). Beri pakan 45 kali sehari dengan konsentrasi 1015ratu/L.
5. Transisi ke Juvenil
Ketika larva berukuran 57mm, pindahkan ke kolam berisi pasir halus dan tambahkan pakan alami (rumput laut, alga hijau).
Pemeliharaan dan Manajemen
| Parameter | Rentang Ideal | Frekuensi Pemeriksaan |
|---|---|---|
| Suhu | 2430C | Setiap 2 jam |
| Salinitas | 015ppt | Setiap hari |
| pH | 7,58,5 | Setiap 12 jam |
| Ammonia (NH) | <0,02mg/L | Setiap hari |
Ganti sebagian air (1020%) setiap minggu untuk menjaga kualitas. Jika terjadi kematian massal, periksa kadar amonia dan lakukan perawatan biofilter.
Pemasaran Hasil Pembenihan
Setelah rajungan mencapai ukuran 150200g (sekitar 45 bulan), mereka siap dipasarkan. Beberapa jalur pemasaran yang umum:
- Pasar tradisional: Penjualan langsung ke pedagang pasar ikan.
- Restoran & hotel: Memberikan nilai tambah dengan menyediakan produk segar.
- Ekspor: Dengan sertifikasi HACCP, rajungan dapat dijual ke pasar Asia Timur.
Penting untuk mencatat bahwa rajungan segar harus disimpan pada suhu 04C dan dikirim dalam wadah berisi es serabut untuk menjaga kualitas.
