Urbanisasi yang masif membawa konsekuensi bagi penyediaan ruang untuk bercocok tanam bagi warga perkotaan. Lahan yang sempit dan harga tanah yang tinggi membatasi masyarakat untuk melakukan aktivitas pertanian tradisional. Di sisi lain, kebutuhan akan konsumsi sayuran segar yang bebas pestisida terus meningkat.
Melihat kondisi ini, masyarakat Putat Jaya yang bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk mahasiswa pengabdi dan komunitas lokal, mencoba solusi alternatif yang tidak hanya menjawab masalah ketahanan pangan, tetapi juga estetika lingkungan. Inilah awal mula dicanangkannya program budidaya kangkung hidroponik dan pengembangan konsep Kampung Warna.
