Vitamin C (asam askorbat) merupakan antioksidan penting yang sering ditambahkan dalam sediaan injeksi untuk meningkatkan stabilitas produk dan memberikan manfaat klinis tambahan. Namun, vitamin C sangat sensitif terhadap kondisi fisikkimia seperti suhu, pH, cahaya, serta adanya ion logam. Oleh karena itu, proses sterilisasi dapat menjadi faktor penentu dalam menjaga kualitas sediaan yang mengandung vitamin C.
Vitamin C mengalami degradasi oksidatif yang dipercepat pada suhu tinggi. Pada suhu 121C selama 15menit, penurunan kadar vitamin C dapat mencapai 2040% tergantung pada pH dan kehadiran buffer. Penambahan antioksidan seperti asam sitrat atau edetaten dapat mengurangi kerusakan.
Metode ini tidak melibatkan suhu tinggi, sehingga vitamin C umumnya tetap stabil. Namun, interaksi dengan material membran (poliviniliden fluorida atau poliester) dapat menyebabkan adsorpsi. Pilihan membran dengan kompatibilitas kimia yang tinggi diperlukan.
Radiasi menghasilkan radikal bebas yang dapat mengoksidasi asam askorbat. Penurunan konsentrasi vitamin C biasanya 515% pada dosis 25kGy. Penambahan agen penangkap radikal (misalnya, mannitol) dapat meningkatkan stabilitas.
EO tidak menimbulkan suhu tinggi, namun proses aerasasi memerlukan suhu dan kelembaban yang dapat memicu dekomposisi ringan. Penurunan kadar vitamin C biasanya kurang dari 10%, asalkan waktu aerasasi tidak berlebih.
| Faktor | Pengaruh terhadap Vitamin C |
|---|---|
| Suhu | Degradasi termal meningkat seiring kenaikan suhu. |
| pH | Vitamin C lebih stabil pada pH 34; pH netral atau basa mempercepat oksidasi. |
| Keberadaan logam | Ion Fe/Cu mempercepat degradasi melalui reaksi Fenton. |
| Oksigen terlarut | Oksigen memicu pembentukan dehidroaskorbat, menurunkan aktivitas. |
| Durasi proses | Waktu lebih lama meningkatkan paparan terhadap faktor degradasi. |
Penelitian oleh Sari et al. (2022) membandingkan tiga metode sterilisasi pada larutan vitamin C 10mg/mL dalam larutan saline 0,9%:
Hasil tersebut menegaskan bahwa filtrasi adalah pilihan paling aman bila kompatibilitas sterilisasi mikroba dapat dipenuhi.
Metode sterilisasi memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas vitamin C dalam sediaan injeksi. Sterilisasi panas kering (autoklaf) paling merusak, sedangkan filtrasi, EO, dan radiasi memberikan tingkat kehilangan yang lebih rendah. Pemilihan metode harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti pH, keberadaan antioksidan, dan profil mikrobiologis produk. Dengan strategi formulasi yang tepat, vitamin C dapat dipertahankan dalam batas yang dapat diterima untuk memastikan keamanan dan efektivitas sediaan injeksi.
Referensi:
