Seksio sesaria adalah prosedur pembedahan kelahiran bayi dengan melakukan insisi pada dinding perut dan rahim ibu. Prosedur ini merupakan salah satu tindakan bedah mayor yang paling sering dilakukan di seluruh dunia. Meskipun teknologi anestesi modern telah berkembang pesat, komplikasi pasca operasi tetap menjadi perhatian utama bagi tenaga kesehatan, salah satunya adalah fenomena shivering atau menggigil.
Shivering pasca bedah adalah kejadian yang sering terjadi pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi regional maupun umum. Pada pasien seksio sesaria, insidensi shivering dapat mencapai angka yang cukup tinggi, berkisar antara 30% hingga 60%. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan subjektif yang signifikan bagi ibu, tetapi juga dapat berdampak negatif pada fisiologis, seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan konsumsi oksigen, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pemulihan pasca operasi.
Shivering terjadi sebagai mekanisme kompensasi tubuh untuk mempertahankan suhu inti tubuh (core temperature). Selama operasi seksio sesaria, kemungkinan terjadinya penurunan suhu tubuh (hipotermia) sangat besar disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Secara fisiologis, shivering disebabkan oleh gangguan termoregulasi di hipotalamus. Anestesi menyebabkan penurunan ambang suhu untuk respon vasokonstriksi dan menggigil, sehingga tubuh merespons sedikit penurunan suhu dengan kontraksi otot yang tidak terkontrol untuk menghasilkan panas.
Dalam dunia keperawatan, pemberian terapi hangat merupakan salah satu intervensi independen untuk mengatasi masalah ketidakteraturan suhu tubuh. Hot pack merupakan alat terapi kompres panas yang berisi bahan-bahan yang mampu menahan panas dalam waktu tertentu. Penerapan panas permukaan melalui hot pack bekerja dengan beberapa mekanisme:
Berdasarkan kajian literatur dan berbagai penelitian keperawatan, pemberian hot pack menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan grade shivering pada pasien post operasi seksio sesaria. Penilaian grade shivering umumnya menggunakan skala tertentu, misalnya skala yang membagi tingkat keparahan menjadi Grade 0 (tidak ada shivering) hingga Grade 3 atau 4 (shivering berat).
Sebelum diberikan intervensi, pasien sering kali ditemukan dalam keadaan shivering Grade 2 (moderat) atau Grade 3 (severe) ditandai dengan kontraksi otot yang terlihat jelas pada kelompok otot leher, toraks, dan ekstremitas atas, bahkan menggigil seluruh tubuh. Setelah penerapan hot pack selama durasi tertentu (misalnya 20-30 menit) pada area ekstremitas atas atau toraks, terjadi penurunan grade shivering.
Mekanisme utama yang berperan adalah peningkatan suhu permukaan kulit. Ketika reseptor kulit mendeteksi sensasi hangat, sinyal dikirim ke hipotalamus. Hal ini mengurangi impulsasi simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi dan menggigil. Dengan kata lain, hot pack "membingungkan" hipotalamus dengan memberi sinyal bahwa tubuh sudah hangat, sehingga respon menggigil dihentikan.
Selain mengurangi intensitas shivering, pemberian hot pack juga memberikan dampak psikologis yang positif, yaitu rasa nyaman dan relaksasi. Pasien melaporkan perasaan tenang yang lebih besar, yang membantu mengurangi kecemasan pasca bedah. Kecemasan itu sendiri adalah faktor pencetus shivering, sehingga penurunannya membantu mempercepat penghentian episode menggigil.
Temuan mengenai efektivitas hot pack ini memiliki implikasi penting bagi praktik keperawatan ruang bedah dan pemulihan (ruang bersalin). Intervensi ini termasuk dalam kategori tindakan mandiri perawat yang sederhana, murah, minim risiko, dan mudah dilaksanakan tanpa memerlukan resep dokter. Berikut adalah pertimbangannya:
Perawat sebaiknya memasukkan pemberian hot pack ke dalam standar operasional prosedur (SOP) asuhan keperawatan pasien post seksio sesaria, terutama pada pasien dengan faktor risiko hipotermia. Pemantauan suhu tubuh dan grade shivering harus dilakukan secara berkala, misalnya setiap 15 menit, untuk mengevaluasi keefektifan intervensi.
Shivering post operasi seksio sesaria adalah masalah keperawatan yang signifikan akibat gangguan regulasi suhu tubuh. Pemberian hot pack terbukti efektif secara signifikan dalam menurunkan grade shivering pada pasien tersebut. Melalui mekanisme vasodilatasi dan transfer panas, hot pack membantu menormalkan suhu tubuh dan menghambat respon menggigil pusat. Intervensi ini merupakan tindakan non-farmakologis yang aman, efektif, dan ekonomis untuk meningkatkan kenyamanan serta mencegah komplikasi yang lebih berat akibat hipotermia pasca bedah. Oleh karena itu, penerapan hot pack sangat disarankan sebagai bagian integral dari asuhan keperawatan pasca operasi seksio sesaria.
