Sistem bioflok merupakan teknologi budidaya ikan yang mengandalkan interaksi mikroorganisme dengan limbah organik untuk menghasilkan partikel mengapung (floc) yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan. Kelebihan utama bioflok terletak pada kemampuannya mengurangi kebutuhan air ganti, menurunkan akumulasi amonia, serta meningkatkan konversi pakan. Namun, performa sistem ini sangat dipengaruhi oleh keseimbangan mikroba dalam kolam. Probiotik, mikroorganisme menguntungkan yang diproduksi secara industri, dapat memperkuat populasi bakteri mengurai amonia, meningkatkan kualitas air, dan sekaligus menambah nilai gizi pada floc. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pemberian probiotik seperti Bacillus subtilis, Lactobacillus plantarum, dan Saccharomyces cerevisiae dapat meningkatkan pertumbuhan ikan nila salin (Oreochromis niloticus) pada sistem bioflok. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana pemberian probiotik yang berbeda memengaruhi: Empat kolam bioflok berkapasitas 500L masingmasing diperlakukan dengan: Ikan nila salin subadult dipindahkan ke setiap kolam (densitas 30ekor/m). Pemberian pakan komersial (35% protein) dilakukan 3 kali sehari. Probiotik ditambahkan pada malam hari setiap minggu untuk memastikan distribusi merata dalam kolam. Kelompok yang diberi probiotik menunjukkan penurunan amonia signifikan dibanding kontrol (p<0,05). Ratarata amonia pada K1 mencapai 0,45mg/L, sedangkan K2, K3, dan K4 masingmasing hanya 0,18, 0,22, dan 0,20mg/L. Nilai nitrit dan nitrat juga lebih stabil pada K2K4, dengan fluktuasi kurang dari 0,05mg/L. Penambahan Bacillus subtilis (K2) menghasilkan kepadatan floc tertinggi (3,5mL/L) dan kandungan protein floc tertinggi (18%). Lactobacillus plantarum (K3) memberikan floc dengan ukuran partikel lebih kecil (150m) yang mudah dimakan ikan, sedangkan Saccharomyces cerevisiae (K4) meningkatkan kandungan vitamin B pada floc. Ratarata bobot akhir ikan setelah 60hari: FCR paling rendah terdapat pada K2 (1,38), diikuti K3 (1,44) dan K4 (1.47), sementara kontrol memiliki FCR 1,62. Hasil menunjukkan bahwa probiotik Bacillus subtilis memiliki efek paling signifikan terhadap penurunan amonia dan peningkatan pertumbuhan ikan. Kemampuan B. subtilis dalam menghasilkan enzim amilase, protease, dan nitrifikasi mempercepat degradasi limbah organik serta konversi amonia menjadi nitrat, sehingga mengurangi stres pada ikan. Lactobacillus plantarum berperan sebagai asam laktat pembentuk biofilm, yang meningkatkan stabilitas floc dan memperbaiki tekstur partikel sehingga lebih mudah dikonsumsi. Sementara itu, Saccharomyces cerevisiae menambah nilai gizi floc (vitamin B, glukan) namun tidak sebanyak B. subtilis dalam hal pengendalian amonia. Pengaruh positif probiotik pada kualitas air juga menurunkan kebutuhan penggantian air, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan sustainability budidaya. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi kombinasi probiotik (misalnya B. subtilis + L. plantarum) untuk mendapatkan sinergi yang lebih besar. Pemberian probiotik berbeda pada sistem bioflok memberikan dampak yang beragam terhadap kualitas air dan pertumbuhan ikan nila salin. Dari keempat perlakuan, Bacillus subtilis terbukti paling efektif dalam menurunkan amonia, meningkatkan kepadatan floc, dan memperbaiki konversi pakan. Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae juga memberikan manfaat, terutama pada struktur floc dan penambahan mikronutrien. Implementasi probiotik dalam budidaya bioflok dapat menjadi strategi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perikanan.Pengaruh Pemberian Probiotik Berbeda Terhadap Kualitas Air pada Sistem Bioflok Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus)
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Metodologi
Desain Eksperimen
Kelompok Probiotik Dosis K1 (Kontrol) Tanpa probiotik - K2 Bacillus subtilis 110CFU/L K3 Lactobacillus plantarum 110CFU/L K4 Saccharomyces cerevisiae 110CFU/L Parameter yang Diukur
Prosedur
Hasil
Kualitas Air
Floc dan Komposisi Nutrisi
Pertumbuhan Ikan
Diskusi
Kesimpulan
Referensi
