Admin 06 Jun 2026 13:52

 

Pengaruh Penundaan Pembuatan Preparat Apusan Darah Tepi pada Sampel EDTA terhadap Morfologi Sel Darah Merah

Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pilar penting dalam diagnosis medis. Di antara berbagai jenis pemeriksaan darah, analisis morfologi sel darah melalui preparat apusan darah tepi (PADT) memiliki peranan yang sangat krusial. Preparat ini memungkinkan ahli laboratorium untuk mengevaluasi bentuk, ukuran, dan struktur sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, dan keping darah secara langsung. Namun, kualitas dan akurasi interpretasi morfologi ini sangat bergantung pada teknik pengambilan sampel dan, yang tidak kalah penting, waktu penundaan sebelum pembuatan preparat.

Secara umum, darah vena yang diambil untuk pemeriksaan rutin ditempatkan ke dalam tabung yang mengandung antikoagulan. Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) adalah antikoagulan pilihan standar untuk pemeriksaan hitung jenis darah karena kemampuannya yang sangat baik dalam menjaga integritas seluler. Namun, meskipun EDTA efektif mencegah pembekuan, penundaan pembuatan apusan darah tepi setelah pengambilan sampel dapat menimbulkan perubahan artifisial pada morfologi sel darah merah. Perubahan ini dapat mengganggu diagnosis atau menyesatkan interpretasi klinis.

Mekanisme Kerja EDTA dan Stabilitas Sampel

EDTA bekerja dengan cara mengikat ion kalsium (Ca2+), yang merupakan ion esensial dalam rangkaian reaksi koagulasi. Dengan absennya kalsium, darah tetap berada dalam keadaan cair. Selain itu, EDTA juga diketahui dapat mempertahankan morfologi sel sehingga cocok untuk pemeriksaan hematologi otomatis maupun manual.

Namun, "stabilitas" dalam konteks sampel darah EDTA bersifat relatif dan terbatas pada waktu tertentu. Meskipun hitung sel darah (jumlah) dapat tetap stabil selama beberapa jam (biasanya hingga 24-48 jam pada suhu dingin), morfologi sel jauh lebih sensitif terhadap perubahan waktu dan suhu. Ketika darah berada dalam tabung EDTA dalam jangka waktu yang lama tanpa segera dibuatkan preparatnya, terjadi proses metabolisme seluler yang terus berjalan dan perubahan lingkungan yang memicu degenerasi sel.

Perubahan Morfologi Sel Darah Merah Akibat Penundaan

Penundaan pembuatan preparat apusan darah tepi pada sampel EDTA menyebabkan beberapa perubahan morfologi utama pada sel darah merah. Perubahan ini bersifat progresif, artinya semakin lama penundaannya, semakin berat kerusakan yang terjadi. Beberapa perubahan paling signifikan meliputi:

  • Echinositosis (Burr Cells): Ini adalah perubahan morfologi yang paling sering terjadi akibat penundaan. Eritrosit normal berupa bikonkaf (cekung di kedua sisinya). Pada echinositosis, sel darah merah mengalami pertumbuhan benjolan-benjolan kecil (spikula) secara merata di permukaannya. Fenomena ini sering disebut sebagai *crenation* dalam bahasa sehari-hari laboratorium. Penyebab utamanya adalah perubahan permeabilitas membran sel terhadap ion natrium dan kalium seiring berjalannya waktu dan penurunan ATP intraseluler, yang mengubah tonisitas cairan di dalam dan luar sel.
  • Fragmentasi Sel: Pada penundaan yang sangat lama, sel darah merah dapat menjadi rapuh dan mengalami kerusakan mekanis, mengakibatkan ter Fragmentasi. Dapat muncul sel-sel pecah yang disebut *schistocytes*. Jika tidak diketahui konteks waktunya, hal ini dapat disalahartikan sebagai hemolitik anemia mikroangiopati atau penyakit lain yang menghancurkan sel darah.
  • Perubahan Warna (Kromasia): Warna sitoplasma sel darah merah dapat berubah menjadi lebih pucat (hipokromia) akibat pengeluaran hemoglobin atau cairan sel, atau sebaliknya, dapat terlihat lebih gelap dan tidak rata. Pembuatan apusan yang terlambat juga sering menyebabkan pewarnaan (selama proses Giemsa atau Wright) menjadi tidak optimal, menghasilkan latar belakang biru yang berlebihan (blue haze) sehingga mengaburkan detail seluler.
  • Penyusutan Sel (Sferosit Pseudu): Meskipun lebih jarang dibandingkan echinositosis, beberapa sel mungkin kehilangan membran plasmanya dan berubah menjadi lebih bulat dan kecil, menyerupai sferosit. Ini dapat mengganggu diagnosis anemia hemolitik autoimun atau defisiensi G6PD jika dokter tidak mengetahui bahwa penundaan sampel telah terjadi.

Faktor Waktu dan Suhu

Durasi waktu adalah faktor penentu utama dalam keberadaan artifak ini. Secara ideal, apusan darah tepi harus dibuat segera setelah pengambilan sampel, atau paling lambat dalam waktu 1 sampai 2 jam. Penelitian menunjukkan bahwa setelah 2 hingga 3 jam pada suhu kamar, perubahan morfologi mulai terlihat secara signifikan. Setelah 6 jam atau lebih, artefak seperti *crenation* biasanya sudah sangat jelas dan merata pada hampir seluruh sel darah merah.

Suhu penyimpanan juga memainkan peran. Penyimpanan sampel di suhu kamar mempercepat metabolisme dan degradasi sel dibandingkan dengan penyimpanan di suhu dingin (2-4C). Namun, pendinginan juga memiliki efeknya sendiri, seperti menginduksi pembentukan kristal Renal tubular pada leukosit atau *cold agglutination*. Oleh karena itu, tidak ada pengganti untuk kecepatan dalam pembuatan preparat darah segar.

Implikasi Klinis: Salah interpretasi morfologi sel darah merah dapat berujung pada diagnosis yang keliru. Misalnya, keberadaan *burr cells* tingkat tinggi pada pasien yang dicurigai mengalami gagal ginjal kronis adalah tandanya yang spesifik. Namun, jika pasien tersebut sebenarnya sehat, tetapi sampel darahnya dibuatkan preparatnya setelah 8 jam, maka hasil pemeriksaan akan menunjukkan *burr cells* hanya karena efek artefak (pseudoburr cells). Hal ini dapat memicu serangkaian pemeriksaan medis yang tidak perlu, meningkatkan biaya perawatan, dan kecemasan pasien.

Kesimpulan

Pembuatan preparat apusan darah tepi pada sampel EDTA haruslah dianggap sebagai prosedur yang mendesak. Meskipun EDTA adalah antikoagulan yang sangat baik, penundaan pembuatan apusan darah memiliki dampak negatif yang nyata terhadap morfologi sel darah merah, terutama dalam bentuk *echinocytosis* (crenation) dan fragmentasi sel.

Dalam praktik laboratorium sehari-hari, disiplin terkait waktu pengerjaan sampel menjadi kunci kualitas. Apusan darah harus dibuat segera, saat sel-sel masih dalam keadaan yang mendekati keadaan fisiologinya dalam tubuh. Penundaan yang tidak dihindari harus dicatat pada formulir pemeriksaan sebagai catatan penting bagi patolog atau dokter penanggung jawab, sehingga mereka dapat membedakan antara abnormalitas patologis yang sesungguhnya dengan artefak yang disebabkan oleh prosedur laboratorium. Hal ini penting untuk memastikan akurasi diagnosa, perencanaan terapi yang tepat, dan akhirnya keselamatan pasien.

File Referensi Untuk PENGARUH PENUNDAAN PEMBUATAN PREPARAT APUSAN DARAH TEPI PADA SAMPEL EDTA TERHADAP MORFOLOGI SEL DARAH MERAH
Screenshoot
Nama File
manuscript.pdf

Ukuran File
0.86 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk PENGARUH PENUNDAAN PEMBUATAN PREPARAT APUSAN DARAH TEPI PADA SAMPEL EDTA TERHADAP MORFOLOGI SEL DARAH MERAH. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

PENGARUH PENUNDAAN PEMBUATAN PREPARAT APUSAN DARAH TEPI PADA SAMPEL EDTA TERHADAP MORFOLOG...


admin
Admin
2026-06-06 13:52:16

GAMBARAN MORFOLOGI SELEOSINOFIL DAN LIMFOSIT PADA SEDIAAN APUSAN DARAH TIPIS DALAM PEWARNA...


admin
Admin
2026-06-06 12:54:11

PENGARUH VOLUME DARAH PADA TABUNG VAKUM DENGAN ANTIKOAGULAN EDTA TERHADAP INDEKS ERITROSIT...


admin
Admin
2026-06-06 06:22:13

Jumlah Sel Darah Merah Eritrosit dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-03 09:58:03

Pemeriksaan Sediaan Apus Darah Tepi dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 13:26:17