Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pilar penting dalam diagnosis medis. Di antara berbagai jenis pemeriksaan darah, analisis morfologi sel darah melalui preparat apusan darah tepi (PADT) memiliki peranan yang sangat krusial. Preparat ini memungkinkan ahli laboratorium untuk mengevaluasi bentuk, ukuran, dan struktur sel darah merah (eritrosit), sel darah putih, dan keping darah secara langsung. Namun, kualitas dan akurasi interpretasi morfologi ini sangat bergantung pada teknik pengambilan sampel dan, yang tidak kalah penting, waktu penundaan sebelum pembuatan preparat.
Secara umum, darah vena yang diambil untuk pemeriksaan rutin ditempatkan ke dalam tabung yang mengandung antikoagulan. Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA) adalah antikoagulan pilihan standar untuk pemeriksaan hitung jenis darah karena kemampuannya yang sangat baik dalam menjaga integritas seluler. Namun, meskipun EDTA efektif mencegah pembekuan, penundaan pembuatan apusan darah tepi setelah pengambilan sampel dapat menimbulkan perubahan artifisial pada morfologi sel darah merah. Perubahan ini dapat mengganggu diagnosis atau menyesatkan interpretasi klinis.
EDTA bekerja dengan cara mengikat ion kalsium (Ca2+), yang merupakan ion esensial dalam rangkaian reaksi koagulasi. Dengan absennya kalsium, darah tetap berada dalam keadaan cair. Selain itu, EDTA juga diketahui dapat mempertahankan morfologi sel sehingga cocok untuk pemeriksaan hematologi otomatis maupun manual.
Namun, "stabilitas" dalam konteks sampel darah EDTA bersifat relatif dan terbatas pada waktu tertentu. Meskipun hitung sel darah (jumlah) dapat tetap stabil selama beberapa jam (biasanya hingga 24-48 jam pada suhu dingin), morfologi sel jauh lebih sensitif terhadap perubahan waktu dan suhu. Ketika darah berada dalam tabung EDTA dalam jangka waktu yang lama tanpa segera dibuatkan preparatnya, terjadi proses metabolisme seluler yang terus berjalan dan perubahan lingkungan yang memicu degenerasi sel.
Penundaan pembuatan preparat apusan darah tepi pada sampel EDTA menyebabkan beberapa perubahan morfologi utama pada sel darah merah. Perubahan ini bersifat progresif, artinya semakin lama penundaannya, semakin berat kerusakan yang terjadi. Beberapa perubahan paling signifikan meliputi:
Durasi waktu adalah faktor penentu utama dalam keberadaan artifak ini. Secara ideal, apusan darah tepi harus dibuat segera setelah pengambilan sampel, atau paling lambat dalam waktu 1 sampai 2 jam. Penelitian menunjukkan bahwa setelah 2 hingga 3 jam pada suhu kamar, perubahan morfologi mulai terlihat secara signifikan. Setelah 6 jam atau lebih, artefak seperti *crenation* biasanya sudah sangat jelas dan merata pada hampir seluruh sel darah merah.
Suhu penyimpanan juga memainkan peran. Penyimpanan sampel di suhu kamar mempercepat metabolisme dan degradasi sel dibandingkan dengan penyimpanan di suhu dingin (2-4C). Namun, pendinginan juga memiliki efeknya sendiri, seperti menginduksi pembentukan kristal Renal tubular pada leukosit atau *cold agglutination*. Oleh karena itu, tidak ada pengganti untuk kecepatan dalam pembuatan preparat darah segar.
Implikasi Klinis: Salah interpretasi morfologi sel darah merah dapat berujung pada diagnosis yang keliru. Misalnya, keberadaan *burr cells* tingkat tinggi pada pasien yang dicurigai mengalami gagal ginjal kronis adalah tandanya yang spesifik. Namun, jika pasien tersebut sebenarnya sehat, tetapi sampel darahnya dibuatkan preparatnya setelah 8 jam, maka hasil pemeriksaan akan menunjukkan *burr cells* hanya karena efek artefak (pseudoburr cells). Hal ini dapat memicu serangkaian pemeriksaan medis yang tidak perlu, meningkatkan biaya perawatan, dan kecemasan pasien.
Pembuatan preparat apusan darah tepi pada sampel EDTA haruslah dianggap sebagai prosedur yang mendesak. Meskipun EDTA adalah antikoagulan yang sangat baik, penundaan pembuatan apusan darah memiliki dampak negatif yang nyata terhadap morfologi sel darah merah, terutama dalam bentuk *echinocytosis* (crenation) dan fragmentasi sel.
Dalam praktik laboratorium sehari-hari, disiplin terkait waktu pengerjaan sampel menjadi kunci kualitas. Apusan darah harus dibuat segera, saat sel-sel masih dalam keadaan yang mendekati keadaan fisiologinya dalam tubuh. Penundaan yang tidak dihindari harus dicatat pada formulir pemeriksaan sebagai catatan penting bagi patolog atau dokter penanggung jawab, sehingga mereka dapat membedakan antara abnormalitas patologis yang sesungguhnya dengan artefak yang disebabkan oleh prosedur laboratorium. Hal ini penting untuk memastikan akurasi diagnosa, perencanaan terapi yang tepat, dan akhirnya keselamatan pasien.
