Tradisi Hajatan Bumi merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat Desa Cikeleng, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan. Tradisi ini bukan sekadar ritual seremonial belaka, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur masyarakat agraris atas hasil panen dan kelimpahan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Lebih jauh dari itu, Hajatan Bumi berfungsi sebagai perekat utama dalam struktur sosial masyarakat desa.
Di Desa Cikeleng, Hajatan Bumi dipandang sebagai momen sakral untuk menyelaraskan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan alam, serta manusia dengan sesamanya. Masyarakat percaya bahwa dengan menggelar tradisi ini, keseimbangan ekosistem dan keberkahan hidup akan terjaga. Nilai-nilai gotong royong, kerendahan hati, dan kebersamaan menjadi napas utama dalam setiap rangkaian acaranya.
Hajatan Bumi di Cikeleng memiliki peran krusial dalam mempererat tali silaturahmi. Dalam proses persiapannya, masyarakat melakukan kerja bakti secara massal. Mulai dari membersihkan lingkungan desa, menyiapkan panggung, hingga memasak hidangan khas secara bersama-sama. Proses "dapur umum" yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK dan pemuda desa menjadi ajang komunikasi informal yang efektif untuk mempererat hubungan antarwarga.
Pada hari puncak, Hajatan Bumi menjadi ajang reuni bagi warga yang merantau. Mereka kembali ke kampung halaman untuk merayakan tradisi ini bersama keluarga besar. Interaksi lintas generasi pun terjadi secara alami, di mana para sesepuh desa membagikan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal kepada generasi muda melalui narasi-narasi saat perayaan berlangsung.
Secara sosiologis, tradisi ini berfungsi sebagai instrumen mitigasi konflik. Ketika seluruh warga berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan dan syukur, potensi gesekan antartetangga dapat diminimalisir. Tradisi ini menciptakan ruang dialog di mana setiap perbedaan pendapat dalam keseharian dikesampingkan demi keberhasilan acara komunitas. Inilah yang disebut sebagai penguatan kohesi sosial; sebuah perasaan memiliki (*sense of belonging*) terhadap desa yang semakin kuat.
Meskipun arus modernisasi telah menyentuh berbagai aspek kehidupan di Kabupaten Kuningan, masyarakat Desa Cikeleng tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisi Hajatan Bumi. Mereka menganggap bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas budaya yang menjadi akar jati diri mereka. Dukungan dari pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat sangat membantu dalam mendokumentasikan dan mempromosikan tradisi ini sebagai kekayaan budaya lokal yang harus terus dirawat.
Hajatan Bumi di Desa Cikeleng, Kecamatan Japara, bukan hanya sekadar seremoni syukur atas panen, melainkan sebuah mekanisme sosial yang sangat kuat untuk merawat persaudaraan. Melalui gotong royong dan kebersamaan, masyarakat Cikeleng berhasil menjaga integrasi sosial mereka. Tradisi ini terbukti ampuh dalam menjawab tantangan zaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur leluhur yang menjunjung tinggi kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat.
