Latar Belakang
Obat bebas (overthecounter/OTC) merupakan produk farmasi yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada banyak negara, termasuk Indonesia, pemakaian obat tanpa resep menjadi praktik umum dalam mengatasi gejala sederhana seperti flu, sakit kepala, atau sakit perut. Meskipun kemudahan akses memiliki manfaat, penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan efek samping, interaksi obat, dan resistensi antibiotik.
Berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang indikasi, dosis, kontraindikasi, dan efek samping obat OTC masih bervariasi. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi profil pengetahuan, faktorfaktor yang memengaruhi, serta implikasinya terhadap kesehatan publik.
Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat crosssectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 1.200 responden dipilih secara purposive dari lima provinsi (Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Bali) yang mewakili variasi demografis. Instrumen berupa kuesioner tertutup berisi 25 pertanyaan tentang:
- Pengetahuan umum tentang obat OTC (indikasi, dosis, masa simpan).
- Sikap dan perilaku beli obat tanpa resep.
- Sumber informasi yang dipakai (apoteker, tenaga kesehatan, internet, keluarga).
- Karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan).
Skor pengetahuan dikategorikan menjadi rendah (010), sedang (1117), dan tinggi (1825). Analisis statistik menggunakan chisquare dan regresi logistik untuk menguji hubungan antara faktor demografis dengan tingkat pengetahuan.
Hasil & Analisis
Distribusi Tingkat Pengetahuan
| Kategori Pengetahuan | Jumlah Responden | Persentase |
|---|---|---|
| Rendah | 322 | 26,8% |
| Sedang | 564 | 47,0% |
| Tinggi | 314 | 26,2% |
FaktorFaktor yang Berpengaruh
- Usia: Responden berusia 1835 tahun cenderung memiliki pengetahuan lebih tinggi (OR=1,45, p<0,01) dibandingkan kelompok usia >55 tahun.
- Pendidikan: Lulusan perguruan tinggi memiliki peluang tiga kali lebih besar memiliki pengetahuan tinggi dibandingkan lulusan SD (OR=3,12, p<0,001).
- Sumber Informasi: Mereka yang rutin berkonsultasi dengan apoteker memperoleh skor pengetahuan ratarata 4 poin lebih tinggi daripada yang hanya mengandalkan internet.
- Pendapatan: Tidak menunjukkan hubungan signifikan setelah mengontrol pendidikan dan usia.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Obat OTC
- Menggandakan dosis ketika gejala tidak mereda dalam 24 jam (34% responden).
- Menggunakan obat yang sama lebih dari batas maksimal yang tertera (28%).
- Memadukan dua obat yang mengandung bahan aktif serupa (misalnya parasetamol + kombinasi analgesik) (22%).
- Penggunaan obat antibiotik tanpa resep (meski termasuk kategori nonOTC, masih terjadi pada 7% responden).
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sekitar satu perempat masyarakat memiliki pengetahuan tinggi tentang penggunaan obat tanpa resep. Tingkat pengetahuan sangat dipengaruhi oleh usia muda, tingkat pendidikan, serta interaksi dengan tenaga apoteker. Kesalahan penggunaan masih cukup tinggi, khususnya pada kelompok dengan pengetahuan rendah hingga sedang.
Kurangnya pemahaman yang memadai berpotensi meningkatkan risiko efek samping, interaksi obat, serta mengurangi efektivitas terapi. Oleh karena itu, upaya edukasi yang terarah dan penyediaan informasi yang mudah dipahami menjadi kunci untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat OTC.
Rekomendasi
- Peningkatan peran apoteker: Memperbanyak konseling singkat di apotek, terutama bagi konsumen yang membeli produk OTC pertama kali.
- Program edukasi masyarakat: Kampanye melalui media sosial, televisi, dan poster di tempat umum yang menekankan dosis yang tepat, batas penggunaan, dan pentingnya membaca kemasan.
- Pembinaan literasi kesehatan: Integrasi materi penggunaan obat OTC dalam kurikulum pendidikan menengah dan pelatihan kerja.
- Pemanfaatan teknologi: Pengembangan aplikasi mobile yang menyediakan informasi dosis, interaksi, dan peringatan alergi secara personal.
- Regulasi dan pengawasan: Penegakan regulasi yang melarang penjualan obat yang memerlukan resep kepada konsumen tanpa validasi dokumen.
Sumber: Survei Nasional Penggunaan Obat OTC 2025, Kementerian Kesehatan RI; WHO. Selfmedication: A public health perspective.
