Kacang tanah (Arachis hypogaea) adalah salah satu komoditas penting di Indonesia karena nilai gizi tinggi dan permintaan pasar yang stabil. Keberhasilan produksi kacang tanah tidak hanya dipengaruhi oleh varietas atau iklim, melainkan juga oleh praktik agronomi, khususnya sistem olah tanah dan penyiangan. Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana pengolahan tanah yang tepat dan penentuan waktu penyiangan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman serta meningkatkan hasil panen.
Persiapan lahan meliputi pembersihan gulma, pembajakan, dan perataan. Pada tanah bertekstur lempung atau berpasir, pembajakan harus cukup dalam (1520cm) untuk menghancurkan lapisan keras dan meningkatkan aerasi. Penggunaan traktor atau rotavator dapat mempercepat proses, namun pada skala kecil dapat memakai cangkul tradisional.
Pemupukan dasar harus disesuaikan dengan analisis tanah. Pada umumnya, kacang tanah membutuhkan nitrogen (N), fosfor (PO), dan kalium (KO) dengan perbandingan 302030kgha. Karena kacang tanah mampu melakukan fiksasi nitrogen, pemupukan N dapat dikurangi menjadi 1015kgha bila inokulasi Rhizobium efektif.
Struktur tanah yang baik meningkatkan infiltrasi air dan mengurangi risiko erosi. Penambahan bahan organik (pupuk kandang atau kompos) 1015tha dapat meningkatkan porositas tanah dan menyuplai unsur mikro. Penggunaan kapur pertanian (CaCO) 23tha dibutuhkan bila pH tanah berada di bawah 5,5.
Kacang tanah toleran terhadap kekeringan, tetapi kelembaban optimal pada fase vegetatif (2530% Kelembaban Tanah Lapisan 030cm) meningkatkan pembentukan rumpun akar. Irigasi tetes atau sprinkler ringan dapat diterapkan pada daerah dengan curah hujan tidak merata.
Penyiangan adalah pengendalian gulma yang tumbuh bersamaan dengan tanaman kacang tanah. Gulma bersaing untuk cahaya, air, dan nutrisi, sehingga dapat menurunkan hasil panen hingga 30% bila tidak dikendalikan.
Penyiangan yang dilakukan terlalu lama (misalnya setelah 4 minggu) dapat menyebabkan stres kompetisi, mengurangi jumlah daun produktif dan menurunkan fotosintesis. Sebaliknya, penyiangan terlalu dini (sebelum akar utama terbentuk) dapat merusak sistem perakaran yang rapuh. Penelitian menunjukkan bahwa penyiangan pada minggu ke3 dan ke7 memberikan hasil paling optimal, dengan peningkatan biomassa di atas tanah sebesar 18% dan peningkatan bobot biji 12% dibandingkan tanpa penyiangan.
Pengolahan tanah yang baik mempengaruhi efektivitas penyiangan. Tanah yang gembur memudahkan pencangkokan alat penyiangan, sementara kandungan bahan organik yang tinggi menurunkan populasi gulma dengan meningkatkan kompetisi mikroba. Sebaliknya, penyiangan yang teratur membantu mengurangi tekanan kompetitif pada tanaman, sehingga unsur hara yang telah dioptimalkan melalui pemupukan dapat lebih mudah diserap.
Sistem olah tanah yang terintegrasi dengan penyiangan tepat waktu menjadi faktor kunci dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah. Pengolahan tanah yang meliputi pembajakan yang cukup dalam, pemupukan berbasis analisis tanah, penambahan bahan organik, serta pengaturan irigasi menciptakan kondisi fisikkimia yang optimal bagi kacang tanah. Penyiangan yang dilakukan pada fase kritis pertumbuhan (minggu ke3, ke7, dan ke11) mengurangi kompetisi gulma tanpa merusak akar muda, sehingga tanaman dapat memaksimalkan penggunaan unsur hara yang tersedia. Kombinasi kedua praktik ini memungkinkan petani meningkatkan hasil biji kacang tanah hingga 2030% dibandingkan dengan sistem konvensional yang tidak terstruktur.
