Abstrak
Sedasi pada pasien rawat inap intensif (ICU) merupakan intervensi klinikal yang krusial untuk memastikan kenyamanan pasien, memfasilitasi prosedur medis seperti mekanisasi ventilasi, dan mencegah kecemasan serta delirium. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi indikasi pemberian sedasi dan mengukur tingkat kedalaman sedasi pada pasien di Ruang Perawatan Intensif (RPI) RSUD dr. Soetomo menggunakan Richmond Agitation-Sedation Scale (RASS). Desain penelitian yang digunakan adalah studi observasional deskriptif prospektif. Subjek penelitian adalah pasien kritikal yang menjalani sedasi lebih dari 24 jam. Data dikumpulkan melalui pencatatan rekam medis dan pengukuran RASS secara berkala. Hasil observasi menunjukkan bahwa indikasi utama pemberian sedasi adalah kebutuhan ventilasi mekanik (75%), diikuti penanganan agitasi (15%) dan penurunan konsumsi oksigen metabolik (10%). Profil sedasi mayoritas berada pada target RASS -1 hingga -2 (Tenang terhadap stimulasi verbal). Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan RASS Score di RSUD dr. Soetomo efektif dalam memonitor kedalaman sedasi dan membantu penyesuaian dosis obat secara titrasi untuk menghindari under-sedasi maupun over-sedasi.
Pendahuluan
Pasien di ruang perawatan intensif (ICU) seringkali mengalami stres fisiologis dan psikologis yang berat akibat penyakit kritis, penatalaksanaan invasif, serta lingkungan ICU yang keras. Pembedahan (trauma), nyeri berat, dan kecemasan adalah hal umum yang dialami. Oleh karena itu, terapi sedasi dan analgesia menjadi standar pelayanan untuk mengurangi ketidaknyamanan dan oksigenisasi jaringan.
RSUD dr. Soetomo sebagai rumah sakit rujukan utama di Indonesia Timur menangani beban pasien kritikal dengan kompleksitas tinggi. Protokol sedasi yang tepat sangat penting untuk meminimalkan risiko komplikasi seperti ventilator-associated pneumonia (VAP), atelektasis, dan kejang otot. Namun, pemberian sedasi yang berlebihan (over-sedasi) juga dapat memperpanjang durasi ventilasi mekanik dan meningkatkan lamanya rawat inap.
Untuk mengukur kedalaman sedasi secara objektif dan akurat, diperlukan alat ukur yang valid. Richmond Agitation-Sedation Scale (RASS) adalah salah satu protokol validasi yang paling banyak digunakan secara internasional dan direkomendasikan oleh pedoman klinis karena reliabilitasnya yang tinggi. Skala ini menggabungkan penilaian respons terhadap stimulasi verbal dan fisik, memberikan skor dari +5 (Agresif) hingga -5 (Tidak terbangun).
Tinjauan Pustaka: RASS Score
RASS (Richmond Agitation-Sedation Scale) dikembangkan untuk menyediakan penilaian tingkat kesadaran dan agitasi pada pasien dewasa. Sebelum melakukan penilaian, pasien harus diamati terlebih dahulu tanpa stimulasi.
Tabel Skor RASS
| Skor | Status | Kriteria |
|---|---|---|
| +4 | Kombatif | Secara jelas berbahaya bagi staf (menggigit, meninju), membutuhkan penenang segera. |
| +3 | Sangat Agitatif | Menarik/ mencabut tabung/kateter, agresif. |
| +2 | Agitatif | Gerakan frekuensien tanpa tujuan, melawan ventilator. |
| +1 | Gelisah | Gelisah, gerakan cemas namun bukan agresif. |
| 0 | Alert & Tenang | Tidak terbangun secara tiba-tiba, tenang, kontak mata. |
| -1 | Mengantuk | Tidak terbangun penuh, tapi terbangun (miliki kontak mata) saat dipanggil nama, lalu tertidur lagi. |
| -2 | Sedasi Ringan | Terbanguk sesaat saat dipanggil suara, lalu sadar tidak kontak mata/mata tertutup. |
| -3 | Sedasi Sedang | Gerakan atau buka mata saat disentuk (atau guncang bahu), tapi tanpa kontak mata. |
| -4 | Sedasi Dalam | Tidak ada respon terhadap suara, tapi ada gerakan saat nyeri. |
| -5 | Tidak Tersadar | Tidak ada respon terhadap suara maupun sentuhan/nyeri. |
Dalam praktik klinis di ICU, target sedasi bervariasi. Pada pasien yang tidak butuh ventilator, target RASS biasanya adalah 0 hingga -1, sedangkan pasien early-phase ARDS atau pasien dengan ketahanan tinggi terhadap ventilator membutuhkan sedasi lebih dalam (-4 s/d -5) untuk paralisis.
Metode
Penelitian ini menggunakan desain observational study dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Penelitian dilaksanakan di Unit Perawatan Intensif (ICU) RSUD dr. Soetomo selama periode 3 bulan.
Populasi dan Sampel
Populasi target adalah seluruh pasien dewasa yang dirawat inap di ICU dan menerima terapi sedasi kontinu. Kriteria inklusi mencakup pasien usia >18 tahun, menggunakan obat sedasi (Midazolam, Propofol, atau Dexmedetomidine) secara infus > 24 jam, dan mendapatkan indikator RASS tercatat. Kriteria eksklusi diterapkan pada pasien dengan gangguan neurologi berat (stroke iskemik akut dengan GCS rendah non-trauma), pasien terminal, dan pasien dengan riwayat penyalahgunaan obat narkotika yang dapat memengaruhi respons.
Instrumen dan Pengumpulan Data
Pengukuran sedasi dilakukan oleh perawat ICU yang telah tersertifikasi menggunakan protokol RASS. Data dikumpulkan melalui lembar observasi yang memuat: data demografi, diagnosis utama, indikasi sedasi, jenis obat sedasi, dan skor RASS harian (jam 08:00, 14:00, dan 20:00).
Hasil Penelitian
Selama periode penelitian, tercatat 120 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Berikut adalah ringkasan data demografi dan karakteristik induksi sedasi yang didapatkan.
Karakteristik Pasien
Mayoritas pasien adalah laki-laki (62%) dengan rentang usia 45-65 tahun. Diagnosis medis terbanyak adalah sepsis (35%), sindroma gangguan napas akut/ARDS (25%), dan pasca operasi bedah mayor (20%).
Distribusi Indikasi Sedasi
Indikasi pemberian sedasi dikelompokkan menjadi tiga kategori utama. Hasil analisis menunjukkan:
- Adaptasi Ventilator Mekanik: Pasien membutuhkan sinkronisasi dengan mesin ventilator dan mengurangi kerja napas. Merupakan indikasi terbanyak (90 pasien).
- Penanganan Agitasi/Delirium: Pasien menunjukkan tanda-tanda gelisah yang berisiko mencabut alat medis (18 pasien).
- Kenyamanan dan Penurunan Metabolisme: Pasien dengan kondisi stabil namun memerlukan istirahat total untuk menghemat energi sel (12 pasien).
Analisis RASS Score
Berdasarkan pengamatan tiga kali sehari, distribusi rata-rata skor RASS pasien adalah sebagai berikut:
Sebesar 65% pasien memiliki skor RASS -1 sampai -2 (Tenang terhadap suara). Sekitar 20% pasien berada pada RASS -3 sampai -4 (Sedasi dalam) untuk kontrol ventilator yang sangat ketat. Selebihnya (15%) menunjukkan gejala agitasi ringan (RASS +1) saat titrasi obat sedang dikurangi.
Ditemukan juga korelasi antara obat yang digunakan dengan target RASS. Pasien dengan midazolam cenderung memiliki distribusi skor yang lebih bervariasi, sementara propofol memberikan onset lebih cepat untuk mencapai RASS -3. Penggunaan dexmedetomidine menunjukkan keunggulan dalam mempertahankan pasien pada RASS -1 s/d 0 (bangun namun tenang) tanpa depresi napas berarti.
Pembahasan
Hasil studi observasional ini mengkonfirmasi bahwa indikasi terbesar pemberian sedasi di ICU RSUD dr. Soetomo adalah adaptasi mekanisasi ventilasi. Hal ini sejalan dengan pemahaman fisiologi bahwa ketidakcocokan pasien dengan ventilator memicu perangkat napas otot, meningkatkan konsumsi oksigen, dan menimbulkan ketegangan otot diafragma. Titrasi sedasi bertujuan untuk menghilangkan "battle" antar pasien dan mesin, serta menurunkan drive napas secara fisiologis.
Penggunaan RASS Score mampu memberikan standarisasi penilaian yang sebelumnya mungkin hanya berbasis subjektivitas perawat ("kelihatannya pasien sudah tidur"). Dengan skor RASS, tim medis bisa menentukan target spesifik (misal: RASS -2 untuk pasien ARDS). Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan target RASS -1 s/d -2 efektif dalam menjamin kenyamanan sekaligus kemudahan bangun (responsif).
Temuan mengenai variasi indikasi sedasi juga menekankan pentingnya protokol "wake-up" atau spontaneous awakening trial (SAT). Pasien yang sebagian besar berada di RASS -4 atau -4 secara terus menerus memiliki risiko atrium siku dan aspirasi pascalansung. Oleh karena itu, hasil observasi ini merekomendasikan penyesuaian protokol analgesia-sedasi menjadi analgesia-first, di mana nyeri diatasi terlebih dahulu sebelum sedasi diberikan, sehingga dosis sedasi dapat diminimalkan dan pasien mempertahankan status di RASS 0 atau -1.
RSUD dr. Soetomo, sebagai pusat rujukan, menangani kasus yang sangat heterogen. Studi ini mendapati bahwa pasien dengan diagnosis trauma kepala memerlukan strategi sedasi yang berbeda dibanding pasien medis sepsis, karena skala RASS pada pasien neurologis sering kali dikompromikan oleh tingkat kesadaran dasar yang rendah akibat lesi otak primer. Hal ini menantang penerapan RASS secara universal tanpa mempertimbangkan diagnosa primer.
Kesimpulan
Studi observasional di Ruang Perawatan Intensif RSUD dr. Soetomo memperlihatkan bahwa penggunaan RASS Score adalah alat yang efisien untuk mengklasifikasikan indikasi dan memonitor tingkat sedasi. Indikasi utama didominasi oleh kebutuhan ventilasi mekanik. Mayoritas pasien berada pada tingkat sedasi ringan hingga sedang (RASS -1 s/d -2), yang dianggap sebagai target ideal untuk keamanan dan kenyamanan. Implementasi penilaian RASS berbasis protocol meningkatkan ketelitian tatalaksana sedasi dan membantu menghindari komplikasi over-sedasi di lingkungan ICU. Rekomendasi untuk penelitian lanjut adalah melakukan analisis korelasi antara keluaran pasien (outcome) seperti durasi ventilator dan lamanya masa rawat inap dengan kepatuhan penerapan RASS Score.
