Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) merupakan penyakit paru progresif yang ditandai oleh batuk kronis produksi sputum, sesak napas, dan pembatasan aliran udara yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Salah satu pilar utama dalam patofisiologi PPOK adalah peradangan kronik pada saluran napas, paru-paru, dan jaringan vaskular pulmonal. Oleh karena itu, agen anti-inflamasi seperti kortikosteroid menjadi salah satu terapi yang sering diteliti dan digunakan dalam pengelolaan penyakit ini, meskipun penggunaannya tidak tanpa kontroversi dan risiko. Studi mengenai penggunaan kortikosteroid pada PPOK mencakup dua bentuk utama: kortikosteroid inhalasi (ICS) dan kortikosteroid sistemik (oral atau intravena).
Kortikosteroid bekerja dengan cara mengikat reseptor glukokortikoid di sitoplasma sel target, kemudian kompleks reseptor-ligand ini bertranslokasi ke inti sel untuk memodulasi ekspresi gen. Mekanisme ini menghambat produksi sitokin pro-inflamasi (seperti IL-8, TNF-), menurunkan aktivitas enzim fosfolipase A2, serta menurunkan adhesi molekul pada sel endotel. Pada asma, respons terhadap kortikosteroid sangat baik karena peradangan bersifat eosinofilik. Namun, pada PPOK, peradangan didominasi oleh neutrofil dan makrofag yang relatif lebih resisten terhadap efek anti-inflamasi kortikosteroid. Hal ini menyebabkan perbedaan signifikan dalam efektivitas terapi antara kedua penyakit tersebut.
Penggunaan kortikosteroid inhalasi pada pasien PPOK stabil telah menjadi subjek berbagai studi klinis besar. Terapi ICS umumnya direkomendasikan untuk pasien PPOK dengan eksaserbasi berulang meskipun telah mendapatkan terapi bronkodilator jangka panjang, atau untuk pasien yang memiliki fenotipe bercampur dengan asma (asthma-COPD overlap).
Salah satu studi landmark, yaitu Towards a Revolution in COPD Health (TORCH), mengevaluasi efek kombinasi salmeterol (LABA) dan flutikason (ICS) dibandingkan dengan masing-masing komponen tunggal dan plasebo. Studi ini menunjukkan bahwa kombinasi ICS dan LABA dapat mengurangi laju penurunan fungsi paru meskipun tidak signifikan secara statistik dibandingkan plasebo, namun lebih efektif dalam meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi eksaserbasi sedang hingga berat. Namun, studi ini juga menyoroti peningkatan risiko pneumonia pada pasien yang menggunakan ICS.
Efek utama dari ICS pada PPOK adalah pengurangan frekuensi eksaserbasi. Eksaserbasi PPOK adalah episode eksaserbasi akut dari gejala respiratorik normal pasien yang melampaui variasi harian normal, seringkali memerlukan perubahan terapi pengobatan. Meta-analisis berbagai uji klinis terkontrol secara acak (randomized controlled trials) telah mengkonfirmasi bahwa penambahan ICS pada terapi bronkodilator jangka panjang (LABA atau LAMA) dapat menurunkan risiko eksaserbasi moderat hingga berat sekitar 20-30%. Selain itu, ICS juga terbukti efektif dalam memperlambat penurunan kualitas hidup yang diukur menggunakan kuesioner seperti St. Georges Respiratory Questionnaire (SGRQ).
Meskipun bermanfaat, penggunaan jangka panjang ICS pada PPOK memiliki risiko spesifik. Risiko paling signifikan adalah peningkatan insiden pneumonia. Penelitian seperti Inspire study menunjukkan bahwa pasien yang menerima kombinasi tiotropium (LAMA) dan salmeterol/flutikason memiliki tingkat pneumonia yang lebih rendah dibandingkan yang menerima tiotropium saja, namun peningkatan risiko pneumonia tetap dikaitkan dengan penggunaan ICS. Gejala pneumonia pada pasien PPOK yang menggunakan ICS sering kali tidak klasik, sehingga memerlukan kewaspadaan klinis yang tinggi.
Efek samping lainnya meliputi kandidiasis orofaring, suara serak (disfonia), dan mudah memar (purpura). Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai peningkatan risiko tuberkulosis dan osteoporosis, terutama pada penggunaan dosis tinggi dalam jangka waktu lama. Karena adanya risiko-risiko ini, pedoman pengobatan PPOK terkini, seperti pedoman Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), menyarankan penggunaan ICS secara selektif. ICS disarankan hanya pada pasien dengan frekuensi eksaserbasi tinggi (2 eksaserbasi per tahun atau 1 eksaserbasi yang memerlukan rawat inap) dan memiliki kadar eosinofil darah tinggi (300 sel/L), yang menandakan respons inflamasi yang lebih mungkin baik terhadap steroid.
Selain terapi jangka panjang, studi juga berfokus pada penggunaan kortikosteroid sistemik (oral atau intravena) pada fase eksaserbasi akut PPOK (AE-COPD). Eksaserbasi seringkali dipicu oleh infeksi (viral atau bakterial) atau polusi udara, yang menyebabkan peningkatan peradangan pada saluran napas.
Studi klinis telah menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid sistemik selama eksaserbasi akut dapat mempercepat pemulihan fungsi paru, memperpendek masa rawat inap, dan mengurangi kegagalan pengobatan atau kejadian eksaserbasi ulang jangka pendek. Namun, durasi pemberian steroid harus dibatasi. Pengobatan Standar biasanya menggunakan prednisone oral setara 40 mg selama 5 hari. Studi yang membandingkan durasi 5 hari versus 14 hari tidak menemukan perbedaan signifikan dalam outcome pasien, sehingga durasi yang lebih singkat kini lebih disarankan untuk meminimalkan efek samping sistemik seperti hiperglikemia, myopathy, dan psikosis.
Penting untuk dicatat bahwa kortikosteroid sistemik tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang pada PPOK stabil karena efek sampingnya yang berat melebihi manfaatnya dalam mengontrol gejala sehari-hari dibandingkan dengan bronkodilator. Penggunaan jangka panjang steroid oral dikaitkan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas yang signifikan, termasuk risiko osteoporosis, katarak, penyakit kardiovaskular, dan diabetes mellitus.
Penelitian terkini berupaya mengidentifikasi biomarker yang dapat memprediksi pasien PPOK mana yang akan mendapatkan manfaat paling besar dari kortikosteroid. Hematologi yang paling banyak diteliti adalah eosinofil darah perifer. Pasien dengan eosinofil darah tinggi tampaknya memiliki profil peradangan yang lebih responsif terhadap kortikosteroid, dengan pengurangan risiko eksaserbasi yang lebih nyata saat diberi ICS. Sebaliknya, pada pasien dengan eosinofil rendah, risiko pneumonia akibat ICS dapat melebihi manfaatnya. Temuan ini membawa perubahan besar dalam strategi penatalaksanaan PPOK yang lebih personalisasi atau precision medicine.
Studi-studi klinis selama beberapa dekade telah mengklarifikasi peran kortikosteroid dalam pengelolaan PPOK. Kortikosteroid inhalasi memiliki peran penting dalam mencegah eksaserbasi pada pasien PPOK yang dipilih dengan cermat, terutama mereka yang memiliki riwayat eksaserbasi sering dan profil inflamasi eosinofilik. Namun, penggunaan ICS harus dipertimbangkan secara hati-hati melawan risiko pneumonia dan efek samping lainnya, serta seringkali diberikan dalam kombinasi dengan bronkodilator jangka panjang (LABA/LAMA). Sementara itu, kortikosteroid sistemik tetap menjadi standar perawatan untuk eksaserbasi akut PPOK, tetapi penggunaannya harus berdurasi pendek untuk memitigasi toksisitas sistemik. Pendekatan terapi modern PPOK menekankan pada seleksi pasien berdasarkan fenotipe dan biomarker untuk memastikan bahwa kortikosteroid digunakan hanya pada pasien yang paling mungkin mendapatkan manfaat bersih dari obat tersebut.
