Maha Guru dari Tanah Banjar dan Pejuang Dakwah di Nusantara
Dalam sejarah keislaman di Nusantara, nama Syekh Muhammad Arsyad al Banjariyang sering dikenal dengan gelar kehormatan Datu Kalimantanbersinar sebagai salah satu ulama paling berpengaruh. Beliau bukan hanya seorang ahli fikih dan tasawuf, tetapi juga seorang pendidik, arsitek, dan pembaharu sosial yang karya-karyanya masih dirasakan dampaknya hingga hari ini, terutama di provinsi Kalimantan Selatan dan masyarakat Banjar pada umumnya.
Syekh Muhammad Arsyad al Banjari dilahirkan pada tahun 1710 M (1122 H) di desa Martapura, Kesultanan Banjar, Kalimantan. Ayahnya, Syekh Abdullah, adalah seorang bangsawan dan ulama yang cukup terkenal, memberikan fondasi pendidikan agama yang kuat bagi Arsyad sejak usia dini. Ketertarikan Arsyad terhadap ilmu pengetahuan agama sudah terlihat sejak kecil, di mana ia dikenal memiliki kecerdasan yang tajam dan daya ingat yang luar biasa.
Pada usia remaja, sebagaimana tradisi keilmuan Islam pada masa itu, Arsyad merantau untuk menuntut ilmu yang lebih mendalam. Ia meninggalkan kampung halamannya untuk menuju pusat-pusat pendidikan Islam yang terkemuka di dunia Melayu dan Jawa, sebelum akhirnya menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekkah.
Perjalanan Syekh Arsyad ke Mekkah menjadi titik balik penting dalam perjalanan intelektualnya. Di sana, ia mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari Tauhid, Fikih, Hadis, hingga Tasawuf. Ia berguru kepada banyak ulama besar di masjidil Haram dan Madrasah as-Sawlatiyah. Di antara guru-gurunya yang paling ternama adalah Syekh Athaillah as-Sundani dan Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi.
Selama kurang lebih 30 tahun tinggal di Mekkah, Syekh Arsyad tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga berinteraksi dengan intelektual Muslim dari berbagai penjuru dunia. Pengalaman ini memperkaya wawasannya dan membentuk metodologi dakwahnya yang inklusif namun tetap kokoh berpegang pada Sunnah. Gelar "al-Banjari" yang disematkan pada namanya adalah penanda nasab dan kebanggaannya terhadap tanah kelahirannya, meskipun ia telah lama menetap di tanah Arab.
Setelah mencapai tingkat kematangan ilmu yang tinggi, Syekh Muhammad Arsyad al Banjari menerima panggilan untuk kembali ke kampung halamannya. Pada masa itu, Kesultanan Banjar masih berkuasa, dan Sultan Tahmidillah II mendengar tentang kedatangan ulama besar ini. Sultan menyambut kedatangan Syekh Arsyad dengan tangan terbuka dan memberikan dukungan penuh untuk syiar Islam di wilayah tersebut.
Kepulangan Syekh Arsyad membawa angin segar bagi masyarakat Banjar. Ia mulai mengajar di masjid-masjid dan meluruskan keyakinan-aliran kepercayaan yang menyimpang dari ahlus sunnah wal jamaah. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dalam prinsip akidah namun lembut dalam pergaulan. Metode pengajaran yang digunakannya sangat efektif karena ia mampu menerjemahkan konsep-konsep agama yang kompleks ke dalam bahasa sehari-hari masyarakat Banjar.
Salah satu keunikan Syekh Arsyad al Banjari adalah pendekatannya dalam berdakwah. Ia menyadari bahwa tidak semua masyarakat mampu memahami kitab-kitab kuning berbahasa Arab yang berat. Oleh karena itu, ia menyusun karya-karya tulis dengan menggunakan bahasa Melayu (Busra) atau Bahasa Banjar menggunakan aksara Arab gundul (pegon).
Karya paling fenomenalnya adalah Idah al-Salik fi Hukm al-Musafir atau lebih dikenal sebagai Kitab Idah, yang kemudian dimodifikasi menjadi Sabil al-Muhtadin. Kitab Sabil al-Muhtadin ini merupakan karya agung yang membahas fikih ibadah dan muamalah dengan gaya bahasa yang indah dan mudah dipahami. Kitab ini menjadi rujukan utama bagi kaum awam di nusantara, bahkan sampai saat ini masih diajarkan di pesantren-pesantren tradisional.
Selain sebagai penulis, Syekh Arsyad juga dikenal sebagai arsitek sosial. Ia mendirikan sebuah masjid besar di Kampung Dalam, Martapura, yang kini dikenal sebagai Masjid Jami Datu Abulung. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah mahdhah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan tingkat tinggi (universitas Islam masa kala itu). Di sini, lahir ribuan ulama yang kemudian menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Kalimantan.
Kontribusi tak terlupakan lainnya dari Syekh Muhammad Arsyad al Banjari adalah perannya dalam penentuan arah kiblat bagi masjid-masjid di wilayah Banjar dan sekitarnya. Pada masa itu, terjadi perbedaan pendapat dan kebingungan di kalangan masyarakat mengenai arah kiblat yang tepat sebagai akibat minimnya alat ukur presisi dan astronomi.
Dengan pengetahuan astronomi yang dimilikinyayang ia pelajari semasa di MekkahSyekh Arsyad meneliti dan mengoreksi arah kiblat yang kemiringannya sempat menyimpang. Ia menggunakan metode rukyat dan hisab untuk memastikan bahwa kaum Muslimin di Banjar menghadap ke arah Ka'bah dengan seakurat mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa Syekh Arsyad bukan hanya seorang ahli teologi, tetapi juga memiliki wawasan sains yang luas.
Selain fikih, aspek tasawuf juga menjadi pilar penting dalam ajaran Syekh Arsyad. Ia adalah seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Melalui tarekat ini, ia mendidik murid-muridnya untuk memiliki kesucian hati, zuhud terhadap dunia, dan senantiasa mengingat Allah dalam setiap lantai nafas.
Ajaran tasawuf yang ia bawa tidak bertentangan dengan syariat. Ia menekankan bahwa tasawuf yang benar adalah tasawuf sunni, yaitu jalan mendekatkan diri kepada Allah denganmematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini merupakan benteng kokoh bagi masyarakat Banjar dari aliran-aliran sesat yang membawa ajaran lari dari realita kehidupan.
Syekh Muhammad Arsyad al Banjari wafat pada tahun 1812 M (1227 H). Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman di Tunggul Irang, Martapura. Hingga kini, makam beliau selalu ramai diziarahi oleh peziarah dari berbagai daerah, bukan hanya dari Kalimantan, tetapi juga berbagai daerah lain di Indonesia, bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Kehadiran peziarah ini adalah bukti nyata pengaruh besar dan kharisma yang dimilikinya secara historis dan spiritual.
Warisan intelektualnya terus hidup melalui karya-karya tulisnya yang selalu dikaji dari generasi ke generasi. Sistem pendidikan pesantren yang ia dirintis menjadi cikal bakal lembaga pendidikan Islam di Kalimantan. Semangat beliau dalam merawat aqidah dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan menjadi inspirasi bagi generasi Muslim modern untuk mensinergikan antara agama dan sains.
"Ilmu tanpa amal adalah sia-sia, amal tanpa ilmu adalah bodoh."
Kalimat filosofis tersebut sangat mencerminkan kehidupan Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Ia adalah teladan bagi seorang ulama yang tidak hanya membenamkan diri dalam khazanah buku, tetapi juga menerapkan ilmunya untuk membangun peradaban. Sebagai Datu Kalimantan, ia berhasil membawa Banjar menjadi wilayah yang gemilang dalam perspektif Islam.
Mengingat kembali perjalanan hidupnya mengajarkan kepada kita tentang pentingnya keteguhan hati, semangat menuntut ilmu tanpa henti, dan kemauan untuk berbagi ilmu demi kemaslahatan umat. Syekh Muhammad Arsyad al Banjari bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sosok panutan abadi dalam khazanah Islam Nusantara.
