Sistem tumpangsari atau intercropping merupakan salah satu strategi pertanian yang cukup populer di Indonesia. Metode ini menanam dua atau lebih jenis tanaman secara bersamaan pada satu lahan dalam periode waktu yang bertepatan. Kombinasi yang sangat menguntungkan dan banyak diterapkan petani adalah budidaya jagung manis (Zea mays saccharata) dengan kedelai edamame (Glycine max). Keduanya memiliki simbiosis yang saling menguntungkan karena memiliki tinggi tanaman yang berbeda serta kebutuhan hara yang melengkapi.
Menanam jagung manis dan edamame secara bersamaan memberikan berbagai keuntungan ekonomis dan biologis. Secara ekologis, jagung yang bertangkai tinggi dapat memberikan naungan parsial bagi tanaman kedelai di bawahnya, sehingga menjaga kelembapan tanah. Selain itu, akar kedelai yang memiliki bakteri Rhizobium mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya di dalam tanah. Nitrogen ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh tanaman jagung yang merupakan tanaman pemakan nitrogen berat. Hal ini membuat penggunaan pupuk urea menjadi lebih efisien. Dari sisi ekonomi, petani dapat memperoleh dua hasil panen dalam satu siklus tanam sekaligus meningkatkan indeks lahan serta meminimalisir risiko gagal panen total karena jika satu tanaman terserang hama, tanaman lainnya masih tetap dapat dipanen.
Langkah awal yang krusial adalah persiapan lahan. Tanaman jagung manis dan edamane memerlukan tanah yang gembur, subur, dan memiliki pH tanah yang ideal berkisar antara 5,5 hingga 6,5. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul sedalam 2030 cm untuk memutus lapisan tanah yang padat dan mematikan gulma. Setelah itu, lahan dibiarkan selama 12 minggu sebelum diolah lagi dengan kultivator untuk merapikan permukaan tanah.
Pembuatan bedeng atau lubang tanam adalah langkah berikutnya. Untuk sistem tumpangsari, pola yang sering digunakan adalah pola jalur. Contoh yang umum diterapkan adalah satu baris jagung manis diapit oleh dua baris kedelai edamame, atau sebaliknya. Jarak tanam yang dianjurkan untuk jagung manis adalah 75 cm x 20 cm, sedangkan untuk kedelai edamame adalah 40 cm x 20 cm. Penentuan jarak ini harus tepat agar tidak terjadi kompetisi cahaya dan nutrisi yang terlalu ketat di antara tanaman.
Suksesnya budidaya dimulai dari kualitas benih. Pilihlah benih jagung manis hibrida yang memiliki potensi hasil tinggi, rasa manis yang stabil, dan tahan terhadap penyakit bulir. Sedangkan untuk edamame, pilih varietas yang memiliki bobot biji besar (misalnya 100 biji per 40 gram), warna hijau cerah, serta rasanya yang gurih. Pastikan benih yang dibeli bersertifikat dan sehat untuk menghindari penyakit bawaan biji.
Kedua tanaman ini biasanya ditanam langsung dengan benih (tanam langsung) di lahan, bukan melalui persemaian terpisah, untuk meminimalkan kerusakan akar saat pemindahan. Sebelum ditanam, biji kedelai sebaiknya diinokulasi terlebih dahulu dengan rhizobium (bakteri pengikat nitrogen) yang Biasanya sudah tersedia dalam bentuk pupuk hayati. Ini sangat penting untuk memaksimalkan kemampuan kedelai memfiksasi nitrogen.
Pola Tanam Jajar Legowo: Pola ini sangat efektif untuk memaksimalkan penyerapan cahaya matahari. Misalnya menggunakan pola 2:1, di mana dua baris tanaman diikuti satu jalur kosong yang lebih lebar. Namun, untuk tumpangsari jagung-kedelai, pola selang seling (strip intercropping) lebih disarankan dengan perbandingan 2 baris jagung dan 2-4 baris kedelai.
Benih jagung manis ditanam sedalam 35 cm dengan kedalaman lubang tanam yang konsisten. Setiap lubang diisi satu benih. Jagung biasanya ditanam terlebih dahulu atau bersamaan dengan kedelai, namun mempertimbangkan masa tanam (umur panen), jagung manis membutuhkan waktu sekitar 65-75 hari, sedangkan edamame sekitar 70-80 hari. Menanam keduanya secara bersamaan adalah pilihan yang paling praktis sehingga waktu panen berdekatan. Untuk menjamin keberhasilan persemaian, tanamlah 2-3 benih per lubang, kemudian setelah berkecambah dan berumur sekitar 7-10 hari (hari tua 2), lakukan penjarangan dengan menyisakan satu tanaman yang terkuat.
Karena edamame mampu mengikat nitrogen, dosis pupuk urea untuk jagung dapat dikurangi hingga 25-30% dibandingkan dengan sistem monokultur. Pemupukan dasar diberikan saat pengolahan tanah menggunakan pupuk kandang (5-10 ton per hektar) serta pupuk buatan TSP (SP-36) dan KCl.
Pemupukan susulan dilakukan saat tanaman berumur 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Pada fase ini, jagung membutuhkan nitrogen tinggi untuk pertumbuhan vegetatif, sementara kedelai hanya membutuhkan sedikit tambahan N. Pupuk urea diberikan secara ditugal di samping barisan tanaman dengan jarak sekitar 5-10 cm dari batang, kemudian ditutup tanah. Pemberian pupuk K (Kalium) menjadi sangat penting bagi kedelai edamame untuk meningkatkan kualitas dan kemanisan biji.
Kedua tanaman ini membutuhkan air yang cukup, terutama pada fase pembungaan hingga pengisian biji. Jadwal penyiraman ideal dilakukan 2-3 hari sekali tergantung kondisi cuaca. Pada musim hujan, pastikan saluran drainase berfungsi baik karena genangan air yang terlalu lama akan membuat tanaman membusuk, terutama pada batang jagung yang masih muda.
Sistem irigasi tetes (drip irrigation) adalah pilihan terbaik untuk efisiensi air, namun jika menggunakan sistem tradisional, pastikan pengairan dilakukan secara merata ke seluruh bedeng. Pengurangan air sebelum masa panen dilakukan untuk meningkatkan kadar gula pada jagung manis dan mengurangi kadar air pada biji kedelai.
Sistem tumpangsari ini sebenarnya telah membantu mencegah serangan hama karena bau tanaman yang beragam membingungkan hama pencari inang. Namun, pengawasan tetap harus dilakukan secara intensif. Hama utama pada jagung manis adalah penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan ulat grayak (Spodoptera litura). Untuk ulat penggerek, kontrol dapat dilakukan dengan memasukkan sedikit insektisida ke dalam tongkol (melalui rambut jagung) saat mulai muncul tongkol atau menggunakan feromon (perangkap hama).
Pada tanaman kedelai edamame, hama yang sering menyerang adalah kepik hijau (Nezara viridula) yang menghisap cairan biji, menyebabkan biji menjadi keriput dan jelek. Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sesuai dosis anjuran pada saat awal pembungaan. Penyakit seperti karat daun atau bercak coklat juga perlu diwaspadai, terutama jika kelembapan terlalu tinggi. Gunakan fungisida tembok bila gejala mulai terlihat.
Jagung manis memiliki indikasi panen ketika rambut tongkol telah mengering dan berwarna coklat kehitaman. Cobalah tusuk biji jagung dengan kuku, jika keluar cairan susu yang sedikit pekat, berarti jagung siap dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menjaga kesegaran dan rasa manis. Setelah dipanen, jagung harus segera dipasarkan atau diproses karena kandungan gula akan cepat berubah menjadi pati dalam waktu 24 jam.
Kedelai edamame dipanen saat polong telah penuh terisi biji namun kulit polong masih berwarna hijau cerah dan terasa kasar saat diraba. Jika dipanen terlalu tua, biji akan berubah menjadi kuning dan rasanya menjadi keras atau 'kanji'. Setelah panen, tangkai dan daun kedelai dapat dibajak kembali ke dalam tanah sebagai bahan organik hijau yang kaya nitrogen untuk persiapan musim tanam berikutnya.
Kesimpulannya, budidaya tumpangsari jagung manis dan kedelai edamame adalah solusi cerdas untuk pertanian yang berkelanjutan dan menguntungkan. Dengan pengelolaan lahan, pemupukan yang tepat, serta pengendalian hama yang disiplin, petani dapat memaksimalkan produktivitas lahan dalam satu waktu musim tanam. Pola ini tidak hanya hemat biaya pupuk tetapi juga menjaga kesehatan tanah untuk jangka panjang.
