Tuberkulosis paru atau yang biasa disingkat TB paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meskipun bakteri ini dapat menyerang organ lain, paruparu menjadi lokasi paling umum. TB paru masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang.
TB paru menular melalui droplet (tetesan udara) yang dihasilkan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Droplet ini dapat terhirup oleh orang lain dan memasuki alveolus paru, tempat bakteri mulai berkembang.
Gejala biasanya muncul 212 minggu setelah terinfeksi, namun pada sebagian orang dapat terjadi latensi (bakteri berada dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala). Gejala umum meliputi:
Untuk memastikan TB paru, dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan:
Regimen standar WHO meliputi kombinasi 4 obat selama 2 bulan fase intensif, diikuti oleh 2 obat selama 4 bulan fase lanjutan (regimen 2HRZE/4HR). Obatobatan utama:
Adherensi (kepatuhan) sangat penting; penghentian terapi dini dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten.
Jika bakteri tidak merespon isoniazid dan rifampisin, kondisi disebut MDRTB. Untuk kasus yang lebih parah (extensively drugresistant, XDRTB) diperlukan kombinasi obat yang lebih lama dan toksik. Penanganannya memerlukan pusat khusus dan kontrol ketat.
Berbagai langkah dapat menurunkan risiko penularan:
Jika tidak diobati, TB paru dapat menyebabkan:
Segera temui dokter jika Anda mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam yang tidak turun, penurunan berat badan, atau mengeluarkan dahak berdarah. Penderita HIV, diabetes, atau yang pernah kontak dengan penderita TB aktif harus waspada lebih tinggi.
Berbagai organisasi menyediakan informasi dan bantuan bagi penderita TB:
Tuberkulosis paru masih menjadi tantangan kesehatan utama, terutama di daerah dengan fasilitas medis terbatas. Edukasi, deteksi dini, pengobatan lengkap, dan tindakan pencegahan kolektif merupakan kunci untuk menurunkan beban penyakit ini. Dengan komitmen bersama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah, penurunan angka kejadian dan mortalitas TB dapat tercapai.
