Admin 08 Jun 2026 08:54

 

Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium polyanthum) pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Oleum Ricini

Studi Eksperimen Bioaktivitas Fitofarmaka

Abstrak

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara berkembang dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak. Penggunaan tanaman obat tradisional sebagai alternatif pengobatan anti-diare semakin diminati karena ketersediaannya mudah dan efek samping yang relatif rendah. Daun salam (Syzygium polyanthum / Poliyanthi folium) telah dikenal luas dalam masyarakat sebagai rempah dapur yang juga memiliki khasiat pengobatan, termasuk sebagai anti-diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas anti-diare dari ekstrak etanol daun salam pada hewan uji mencit (Mus musculus) jantan yang diinduksi Oleum Ricini (minyak jarak).

Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan desain post-test only control group. Sebanyak 25 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok secara acak, yaitu Kelompok I (Kontrol Negatif, diberikan CMC-Na 1%), Kelompok II (Kontrol Positif, diberikan Loperamid 2 mg/kgBB), Kelompok III, IV, dan V diberikan ekstrak etanol daun salam dengan dosis berturut-turut 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB. Parameter yang diamati meliputi frekuensi defekasi, konsistensi feses, dan lama onset diare selama 4 jam pasca induksi Oleum Ricini. Data dianalisis menggunakan uji statistik One-Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun salam pada berbagai dosis mampu menurunkan frekuensi defekasi dan memperbaiki konsistensi feces dibandingkan dengan kontrol negatif. Perlindungan maksimum tertinggi ditunjukkan pada dosis 400 mg/kgBB yang tidak berbeda signifikan dengan loperamid (p > 0,05). Ekstrak daun salam juga memperpanjang masa onset diare. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun salam memiliki aktivitas anti-diare yang kuat pada mencit yang diinduksi Oleum Ricini, dengan efektivitas meningkat sesuai peningkatan dosis.

Pendahuluan

Diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) dengan konsistensi feses yang lebih cair dari biasanya, atau frekuensi BAB lebih dari tiga kali sehari. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar pada anak di bawah usia lima tahun. Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, atau faktor non-infeksi seperti intoleransi makanan dan efek samping obat. Salah satu metode standar untuk menginduksi diare pada hewan uji adalah dengan menggunakan Oleum Ricini (minyak jarak). Minyak jarak mengandung asam risinoleat yang merangsang peristaltik usus dan meningkatkan sekresi elektrolit serta air ke dalam lumen usus, sehingga menimbulkan diare osmotik dan sekretori.

Saat ini, pengobatan diare banyak mengandalkan obat sintetis seperti loperamid, attapulgit, dan antibiotik. Namun, penggunaan jangka panjang obat-obatan ini seringkali disertai efek samping, seperti konstipasi, mual, atau resistensi bakteri khususnya pada penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Oleh karena itu, pencarian obat alternatif dari bahan alam menjadi fokus utama penelitian farmakologi modern.

Daun salam (Syzygium polyanthum, sinonim: Eugenia polyantha) adalah tanaman hijau abadi yang tumbuh subur di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Secara tradisional, daun salam digunakan sebagai obat herbal untuk berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, asam urat, dan gangguan pencernaan. Daun salam dilaporkan mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri. Senyawa flavonoid dan tanin diduga berperan penting dalam aktivitas anti-diare melalui mekanisme penghambatan pergerakan usus (anti-peristaltik) dan pengurangan sekresi cairan usus.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan secara ilmiah potensi daun salam sebagai anti-diare melalui pengujian ekstrak etanol daun salam terhadap mencit yang diinduksi minyak jarak. Etanol dipilih sebagai pelarut ekstraksi karena bersifat polar dan dapat menarik senyawa golongan flavonoid dan tanin yang larut dalam alkohol/metanol.

Metode Penelitian

Alat dan Bahan

Bahan: Daun salam segar (Syzygium polyanthum), Oleum Ricini (minyak jarak), Loperamid (standar), CMC-Na (Carboxymethyl cellulose sodium), etanol 96%, air suling, aquades. Hewan Uji: Mencit jantan (Mus musculus) umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram sebanyak 25 ekor. Alat: Kandang mencit, timbangan analitis, blender, alat maserasi (botol kaca), rotary evaporator, dan alat tulis rekaman data.

Pembuatan Ekstrak

Daun salam dikeringkan pada suhu ruang yang teduh untuk mencegah kerusakan senyawa aktif, kemudian digiling menjadi serbuk kering. Serbuk simplisia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% selama 3 x 24 jam dengan pengadukan berkala. Filtrat yang diperoleh dipusatkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40-50C untuk mendapatkan ekstrak kental. Ekstrak kemudian dibuat suspensi dengan menggunakan CMC-Na 1% sebagai kendaraan sebelum diberikan kepada hewan uji.

Tahap Adaptasi dan Penanganan Hewan Uji

Mencit dikondisikan terlebih dahulu di laboratorium selama 7 hari untuk adaptasi dengan suhu ruang dan kelembaban standar, serta diberikan pakan dan minum ad libitum. Sebelum hari perlakuan, mencit dipuasakan (dibiarkan lapar) selama 18 jam, namun tetap diberikan akses air minum untuk memastikan kondisi lambung kosong dan memaksimalkan absorbsi obat serta induksi diare.

Rancangan Percobaan

Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok secara acak (Randomized Complete Block Design), masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit. Pembagian kelompok perlakuan adalah sebagai berikut:

  • Kelompok I (Kontrol Negatif): Diberikan CMC-Na 1% secara oral.
  • Kelompok II (Kontrol Positif): Diberikan Loperamid 2 mg/kgBB secara oral.
  • Kelompok III: Diberikan ekstrak etanol daun salam dosis 100 mg/kgBB secara oral.
  • Kelompok IV: Diberikan ekstrak etanol daun salam dosis 200 mg/kgBB secara oral.
  • Kelompok V: Diberikan ekstrak etanol daun salam dosis 400 mg/kgBB secara oral.

Satu jam setelah pemberian perlakuan standar/ekstrak, semua hewan uji diinduksi diare dengan pemberian Oleum Ricini secara oral dengan dosis 1 mL/ekor. Setelah induksi, mencit ditempatkan di atas kertas saring yang diletakkan di dasar kandang yang telah diberi alas kering. Kertas saring diganti setiap jam selama 4 jam pengamatan.

Pengamatan dan Analisis Data

Parameter yang diukur meliputi:

  1. Frekuensi Buang Air Besar (Defekasi): Jumlah tinja yang keluar dalam selang waktu 4 jam.
  2. Lama Onset Diare: Waktu yang diperlukan sejak induksi Oleum Ricini hingga keluarnya feses pertama yang berbentuk cair/lembek.
  3. Konsistensi Feses: Diklasifikasikan menjadi normal (padat), lembek, dan cair (diare).

Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji normalitas dan homogenitas, kemudian dilanjutkan dengan uji One-Way ANOVA. Apabila terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05), dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Pengamatan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan data pengamatan mengenai pengaruh pemberian ekstrak etanol daun salam terhadap frekuensi defekasi mencit yang diinduksi Oleum Ricini. Hasil rata-rata frekuensi defekasi menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada kelompok yang diberi ekstrak dibandingkan kontrol negatif.

Pada Kelompok Kontrol Negatif (K1), hewan uji menunjukkan diare yang parah dengan jumlah feses berbentuk cair (pupus) yang banyak, rata-rata melebihi 5-6 kali dalam 4 jam. Hal ini menandakan bahwa induksi minyak jarak bekerja efektif memicu diare osmotik. Sebaliknya, Kelompok Kontrol Positif (K2) yang diberi Loperamid menunjukkan frekuensi defekasi yang sangat rendah dan sebagian besar tinja berbentuk normal (padat), mengindikasikan efektivitas obat standar dalam menghambat peristaltik dan sekresi.

Pada kelompok perlakuan ekstrak (K3, K4, K5), terlihat kecenderungan penurunan frekuensi defekasi sesuai dengan peningkatan dosis ekstrak. Pada dosis terendah (100 mg/kgBB), masih ditemukan beberapa feses lembek namun jumlahnya lebih sedikit dibanding kontrol negatif. Pada dosis 200 mg/kgBB, frekuensi diare menurun lebih tajam. Efek anti-diare yang paling optimal terlihat pada Kelompok V dengan dosis 400 mg/kgBB, di mana frekuensi defekasi menurun drastis dan konsistensi kembali mendekati normal (padat).

Pembahasan

Mekanisme Kerja Oleum Ricini
Minyak jarak bekerja melalui enzim lipase di usus halus, memecah trigliserida menjadi asam risinoleat dan asam risinoleol. Asam risinoleat ini bersifat iritan pada mukosa usus, menyebabkan rangsang saraf Auerbach untuk meningkatkan motilitas usus. Selain itu, senyawa ini juga menghambat pompa Na+/K+ ATPase dan adenil siklase, yang menyebabkan akumulasi cairan dan elektrolit dalam lumen usus, yang kemudian diikuti oleh diare.

Analisis Efektivitas Ekstrak Daun Salam
Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak etanol daun salam memiliki aktivitas anti-diare yang bermakna. Efek ini diduga terkait dengan kandungan senyawa tanin dan flavonoid di dalamnya. Tanin memiliki kemampuan untuk mengendapkan protein pada permukaan mukosa usus (efek astringen), membentuk lapisan film pelindung. Lapisan ini mengurangi iritasi yang disebabkan oleh asam risinoleat dan mengurangi sekresi cairan ke dalam usus. Selain itu, tanin dapat menghambat pergerakan usus yang berlebihan.

Flavonoid, yang ditemukan melimpah dalam daun salam, bekerja melalui beberapa mekanisme anti-diare. Pertama, flavonoid memiliki aktivitas antagonism terhadap reseptor kalsium di otot polos usus, sehingga menghambat kontraksi spastik (relaksasi otot). Kedua, flavonoid dapat menghambat sintesis prostaglandin E2 (PGE2). Prostaglandin merupakan mediator inflamasi yang berperan dalam meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus. Dengan menghambat prostaglandin, ekstrak daun salam mampu menekan penyebab sekretori diare.

Hubungan Dosis-respon
Pola hasil yang menunjukkan peningkatan efektivitas sesuai kenaikan dosis (100, 200, hingga 400 mg/kgBB) mengikuti prinsip farmakologi yang logis. Pada dosis tinggi, konsentrasi senyawa aktif (tanin dan flavonoid) dalam plasma dan jaringan usus lebih tinggi, sehingga interaksi dengan reseptor atau target fisiologis menjadi lebih maksimal. Pada dosis 400 mg/kgBB, efek anti-diare yang dihasilkan setara dengan loperamid (obat standar 2 mg/kgBB). Hal ini menunjukkan potensi daun salam sebagai kandidat obat anti-diare alami yang kuat.

Lama Onset Diare
Perlakuan ekstrak daun salam juga memperpanjang masa onset diare, artinya mencit membutuhkan waktu lebih lama untuk mulai mengeluarkan feses cair setelah minum minyak jarak. Ini mengindikasikan bahwa ekstrak tersebut memiliki efek protektif pada lapisan usus dan memperlambat mekanisme hiperpolaritas yang dipicu oleh asam risinoleat. Peningkatan waktu onset ini memberikan kesempatan lebih banyak bagi tubuh untuk melakukan reabsorpsi air dan elektrolit sehingga terhindar dari dehidrasi akut.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap mencit (Mus musculus) jantan yang diinduksi Oleum Ricini, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun salam (Syzygium polyanthum) memiliki aktivitas anti-diare yang efektif. Ekstrak ini mampu menurunkan frekuensi defekasi, memperbaiki konsistensi feses dari cair menjadi lebih padat, serta memperlambat onset timbulnya diare. Aktivitas anti-diare ini berjalan secara dosis-bergantung, di mana dosis 400 mg/kgBB menunjukkan efek yang paling optimum dan sebanding dengan obat standar Loperamid. Mekanisme kerjanya diduga melalui kandungan tanin (efek astringen) dan flavonoid (relaksasi otot polos dan antiinflamasi) yang terkandung dalam daun salam.

Daftar Pustaka

  1. Adriani, M. (2008). Dasar-dasar Farmakologi Klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  2. Boorsma, H., et al. (2020). The Efficacy of Herbal Medicines in Treating Diarrhea: A Systematic Review. Journal of Ethnopharmacology, 256(12), 45-67.
  3. Dalimartha, S. (2019). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus.
  4. Depkes RI. (2009). Materia Medika Indonesia (Jilid I-III). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  5. Jayaprakasam, B., et al. (2017). Antidiarrheal Activity of Syzygium polyanthum Leaf Extract. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 9(8), 112-115.
  6. WHO. (2018). Diarrhoeal disease. Fact sheet N330. World Health Organization.
```

File Referensi Untuk Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Salam (Poliyanthi Folium) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Di Induksi Oleum Ricini
Screenshoot
Nama File
tamzil_azizi.pdf

Ukuran File
1.68 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Salam (Poliyanthi Folium) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Di Induksi Oleum Ricini. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Salam (Poliyanthi Folium) Pada Mencit (Mus Mus...


admin
Admin
2026-06-08 08:54:11

UJI AKTIVITAS MUKOLITIK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL JAHE MERAH (Zingiber Officinale Var. Rubr...


admin
Admin
2026-06-08 15:52:41

Efek Imunostimulatori Beberapa Fraksi Teripang Lokal Phyllophorus Sp Terhadap Histologi Li...


admin
Admin
2026-06-06 10:56:05

Uji Aktivitas Mukolitik Ekstrak Etanol Daun Tembelekan (Lantana Camara Linn.) Secara In Vi...


admin
Admin
2026-06-08 08:48:16

Pengaruh Minyak Dedak Terhadap Kadar Kolesterol Total Mencit (Mus Musculus) Jantan Galur S...


admin
Admin
2026-06-06 15:44:10