Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengonsumsi informasi dari berbagai sumber, mulai dari berita di televisi, artikel di internet, hingga percakapan di media sosial. Tanpa kita sadari, cara informasi tersebut disajikan memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memandang suatu masalah. Proses inilah yang dikenal dengan istilah framing atau bingkai.
Apa itu framing? Secara sederhana, framing adalah proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas untuk mengkomunikasikan sebuah pesan sehingga audiens memiliki pemahaman khusus tentang isu tersebut. Framing bukan tentang menciptakan kebohongan, melainkan tentang memilih sudut pandang mana yang ingin ditonjolkan. Framing membentuk cara audiens mendefinisikan masalah, mendiagnosis penyebab, membuat penilaian moral, dan menyarankan solusi.
Inti Sarana: Framing menentukan apa yang dibicarakan dan bagaimana hal itu dibicarakan. Ia adalah "kacamata" yang dipakaikan komunikator kepada audiens untuk melihat sebuah kejadian.
Istilah framing dalam ilmu komunikasi dan sosiologi sering dikaitkan dengan pemikiran Erving Goffman. Dalam bukunya yang seminal berjudul Frame Analysis (1974), Goffman menjelaskan bahwa individu menggunakan "bingkai" (schema) untuk menginterpretasi pengalaman dan mengorganisir pengalaman mereka menjadi dunia yang bermakna.
Robert Entman, seorang ilmuwan politik dan komunikasi, memberikan salah satu definisi yang paling sering dikutip. Menurut Entman, "To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in a communicating text, in such a way as to promote a particular problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and/or treatment recommendation for the item described."
Artinya, ada empat fungsi utama dalam sebuah frame:
Framing bekerja melalui dua mekanisme utama, yaitu selection (pemilihan) dan salience (penonjolan).
Dunia yang kita tinggali penuh dengan peristiwa, fakta, dan data yang tak terhingga jumlahnya. Tidak mungkin seorang jurnalis, politisi, atau pembuat konten memuat semua informasi tersebut ke dalam satu pesan. Oleh karena itu, harus ada pemilihan. Proses seleksi ini melibatkan keputusan atas apa yang dimasukkan (included) dan yang ditinggalkan (excluded).
Contohnya, dalam meliput demonstrasi, seorang reporter bisa memilih untuk menulis tentang jumlah massa yang hadir, atau justru memilih untuk menulis tentang kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh demonstrasi tersebut. Apa yang dipilih menentukan fokus pembaca.
Setelah informasi dipilih, langkah selanjutnya adalah membuatnya menonjol atau salient. Penonjolan ini bisa dilakukan melalui placement (penempatan informasi di bagian paling atas atau headline), pengulangan, penggunaan kata-kata spesifik, atau penggunaan gambar atau visual tertentu.
Jika sebuah koran menempatkan berita tentang korupsi di halaman utama dengan judul besar dan foto tersangka, maka isu tersebut menjadi sangat menonjol di benak pembaca dibandingkan jika berita tersebut ditaruh di halaman kecil di bagian belakang.
Seringkali orang bingung membedakan antara framing dengan agenda setting (penagendaan). Keduanya memang memiliki keterkaitan yang erat dalam teori efek media, namun memiliki fokus yang berbeda.
Agenda setting berfokus pada "apa yang dipikirkan" publik. Teori ini menyatakan bahwa media tidak memberi tahu apa yang harus dipikirkan orang, namun memberi tahu tentang apa yang harus dipikirkan. Jika media memberitakan isu lingkungan secara intens, maka publik akan menganggap isu lingkungan sebagai masalah penting.
Sedangkan framing berfokus pada "bagaimana cara memikirkan" sesuatu. Jika agenda setting mendorong kita untuk memikirkan ekonomi, framing menentukan apakah kita memandang ekonomi tersebut dari sudut pandang inflasi yang tinggi, atau dari sudut pandang pertumbuhan pasar saham.
Dalam studi komunikasi dan psikologi, terdapat beberapa jenis framing yang sering digunakan, antara lain:
Jenis framing ini sangat lazim dalam peliputan berita (journalism).
Dampak: Audiens cenderung menyalahkan individu tersebut atas masalah yang dihadapinya (sikap attributive blame).
Dampak: Audiens cenderung menyalahkan faktor struktural atau pemerintah (sikap societal blame).
Jenis ini sering digunakan dalam psikologi perilaku dan pemasaran.
Meskipun secara matematis kedua kalimat itu sama (sama-sama mengindikasikan 90:10), penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung lebih risk-averse (menghindari risiko) ketika sebuah pilihan disajikan dalam framing keuntungan, dan lebih risk-seeking (mencari risiko) ketika disajikan dalam framing kerugian.
Contoh Sederhana: Seorang restoran menulis menu daging sapinya. Jika tertulis "75% Lean Meat" (Daging sapi 75% tanpa lemak), itu adalah positive framing. Jika tertulis "25% Fat" (Mengandung 25% lemak), itu adalah negative framing, dan konsumen cenderung akan memilih menu positif meskipun kandungannya identik.
Mengenai perang atau konflik, memilih kata-kata sangat krusial. Jika sebuah media menyebut kelompok bersenjata sebagai "aktivis kebebasan" (freedom fighters), itu akan menciptakan simpati dan framing heroik. Namun, jika kelompok yang sama disebut sebagai "teroris" atau "pemberontak" (terrorist/rebels), maka framing yang muncul adalah ancaman, kekerasan, dan kejahatan.
Dalam kampanye politik, kandidat A mungkin melakukan framing terhadap kandidat B dengan selalu menyebut kata "pemboros" setiap kali menyinggung program-program kandidat B. Sebaliknya, kandidat B melakukan framing dirinya sendiri sebagai "sang visioner".
Framing pricing (harga) adalah teknik klasik. Toko online menulis barang seharga Rp 99.000,- daripada Rp 100.000,-. Ini disebut "Left-digit effect". Angka 9 di kiri membuat harga terasa jauh lebih murah di benak konsumen (framing kognitif).
Lain lagi dengan framing diskon. Tulisan "Diskon 50%" jauh lebih menarik daripada "Bayar separuh dari harga", meskipun hasil akhirnya sama. Kata "Diskon" menimbulkan rasa untung.
Framing juga terjadi dalam komunikasi antarmanusia. Misalnya, ketika seorang istri ingin suaminya membersihkan garasi.
Mengingat framing dapat mengubah persepsi kita secara signifikan, kemampuan untuk mengidentifikasi framing (media literacy) menjadi sangat penting di era informasi saat ini. Kita harus menyadari bahwa setiap berita, iklan, atau pidong yang kita konsumsi telah dikurasi dan dipilih oleh seseorang dengan motif tertentu.
Untuk menjadi konsumen informasi yang cerdas, kita bisa melakukan hal-hal berikut:
Framing adalah mekanisme alami dalam komunikasi manusia. Sama halnya seperti kita tidak bisa melihat dunia tanpa sudut pandang tertentu, kita juga tidak bisa mengomunikasikan informasi tanpa memilih aspek-aspek tertentu untuk ditekankan. Framing membuat informasi menjadi tertata dan mudah dipahami, namun ia juga berpotensi dimanipulasi untuk mempengaruhi opini publik secara tidak adil. Memahami apa itu framing memberikan kita kekuatan untuk melihat "di balik layar" sebuah pesan, sehingga kita dapat membentuk opini berdasarkan pemahaman yang lebih utuh dan kritis, bukan sekadar menerima apa yang disajikan di permukaan.
