Admin 06 Jun 2026 10:42

 

Asuhan Keperawatan Pada An. N. A dengan Asma Bronkial

Pendahuluan

Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronik pada saluran napas yang ditandai dengan episode berulang dari mengi, sesak napas, rasa sesak di dada, dan batuk. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Asma dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan berpotensi mengancam jiwa jika tidak dikelola dengan baik. Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada pasien An. N. A yang mengalami asma bronkial, mencakup pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Latar Belakang

An. N. A adalah pasien wanita berusia 35 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan sesak napas yang timbul sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengeluh sesak berat terutama pada malam hari dan pagi hari, disertai batuk dengan sputum sedikit dan kental. Pasien mengaku memiliki riwayat asma sejak usia 20 tahun, namun jarang minum obat secara teratur. Pasien menyebutkan bahwa serangan ini dipicu oleh paparan debu saat membersihkan rumah.

Riwayat penyakit keluarga menunjukkan bahwa ayah pasien juga menderita asma. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis lain seperti diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit jantung. Pasien memiliki status pernikahan dan bekerja sebagai guru SD.

Pengkajian

A. Anamnesis

1. Identitas Pasien

  • Nama: Ny. N. A
  • Umur: 35 tahun
  • Jenis kelamin: Perempuan
  • Agama: Islam
  • Suku: Jawa
  • Pendidikan: S1
  • Pekerjaan: Guru SD
  • Status perkawinan: Menikah
  • Alamat: Jl. Melati No. 15, Jakarta
  • Tanggal masuk RS: 20 Juni 2023
  • No. RM: 123456

2. Keluhan Utama

Sesak napas yang berat sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, terutama pada malam hari dan pagi hari.

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang timbul secara perlahan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Awalnya sesak ringan dan pasien mengira ini adalah serangan asma biasa yang akan hilang dengan istirahat. Namun, sesak napas semakin berat terutama pada saat tidur di malam hari dan saat bangun pagi. Pasien juga mengalami batuk dengan sputum yang sedikit dan kental berwarna putih. Pasien mengaku kesulitan bernapas saat melakukan aktivitas ringan. Sebelum masuk rumah sakit, pasien sudah mencoba mengonsumsi obat asma yang biasa diminum namun tidak memberikan efek yang berarti.

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengatakan memiliki riwayat asma sejak berusia 20 tahun. Serangan asma biasanya muncul 1-2 kali dalam sebulan, terutama saat terpapar debu, udara dingin, atau saat terlalu lelah. Pasien seringkali lupa minum obat secara teratur dan biasanya baru minum obat saat serangan muncul. Pasien tidak pernah dirawat inap karena asma sebelumnya. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis lain seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, atau penyakit ginjal.

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah pasien memiliki riwayat asma. Tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki penyakit yang sama. Ibu pasien memiliki riwayat diabetes mellitus tipe 2.

6. Riwayat Alergi

  • Alergi debu
  • Alergi udara dingin
  • Tidak ada alergi obat
  • Tidak ada alergi makanan

7. Riwayat Psikososial

Pasien terlihat cemas dan gelisah karena serangan asma yang dialami. Pasien khawatir tidak dapat bekerja dan mengurus keluarganya. Pasien mengaku sering merasa stres karena pekerjaannya yang menuntut. Pasien tinggal bersama suami dan dua anaknya. Suami dan keluarga pasien sangat mendukung proses penyembuhan.

B. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

  • Kesadaran: Compos mentis
  • Tanda-tanda vital:
    • Tekanan darah: 130/80 mmHg
    • Nadi: 96 kali/menit
    • Suhu: 36,8C
    • Respirasi: 28 kali/menit
    • SpO2: 93%
  • Berat badan: 58 kg
  • Tinggi badan: 160 cm

2. Pemeriksaan Fisik Sistem Organ

  • Kepala: Normocephal, rambut merata
  • Mata: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
  • Telinga: Tidak ada sekret, serumen normal
  • Hidung: Tidak ada sekret, tidak ada polip
  • Mulut & Tenggorokan: Mulut bersih, mukosa basah, tonsil tidak membesar
  • Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
  • Dada: Simetris, tidak ada retraksi
  • Paru-paru:
    • Inspeksi: Napas cuping hidung, penggunaan otot bantu napas, simetris
    • Palpasi: Fremitus raba meningkat, tidak ada nyeri tekan
    • Perkusi: Sonor
    • Auskultasi: Wheezing di seluruh lapangan paru, ronkhi halus di basis paru kanan
  • Jantung: B1/B2 reguler, tidak ada murmur
  • Abdomen: Supel, tidak ada turgor
  • Ekstremitas: Akral hangat, tidak ada edema
  • Kulit: Turgor baik, tidak ada keringat dingin

C. Pemeriksaan Penunjang

  • Tes fungsi paru:
    • KVP: 80%
    • FEV1: 65%
    • Rasio FEV1/FVC: 0,75
  • Foto toraks: Hiperinflasi paru, tidak ada infiltrat
  • Hemoglobin: 13,5 g/dL
  • Lekosit: 9.500/mm
  • Trombosit: 250.000/mm
  • Gula darah sewaktu: 110 mg/dL
  • Ureum: 25 mg/dL
  • Kreatinin: 0,9 mg/dL
  • Analisa gas darah: pH 7,38; pO2 85 mmHg; pCO2 40 mmHg; HCO3 24 mEq/L

Analisa Data

Subjektif Objektif Analisa
- Pasien mengeluh sesak napas berat
- Pasien mengatakan serangan asma muncul 2 hari sebelum masuk RS
- Pasien mengeluh batuk dengan sputum kental
- Pasien mengaku memiliki riwayat asma sejak usia 20 tahun
- RR: 28 kali/menit
- SpO2: 93%
- Wheezing di seluruh lapangan paru
- Menggunakan otot bantu napas
- Napas cuping hidung
- Tes fungsi paru: KVP 80%, FEV1 65%
Inefektif Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan peningkatan sekresi bronkial (batuk dengan sputum)
- Pasien mengeluh sesak napas berat
- Pasien mengatakan kesulitan bernapas saat melakukan aktivitas ringan
- RR: 28 kali/menit
- SpO2: 93%
- Wheezing di seluruh lapangan paru
- Menggunakan otot bantu napas
- Napas cuping hidung
- Tes fungsi paru: KVP 80%, FEV1 65%
- Foto toraks: Hiperinflasi paru
Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan permukaan membran alveolar (bronkokonstriksi, edema mukosa)
- Pasien terlihat cemas dan gelisah
- Pasien mengaku khawatir tidak dapat bekerja dan mengurus keluarganya
- Pasien tampak cemas
- Pasien gelisah saat serangan asma terjadi
Kecemasan berhubungan dengan dyspnea dan ancaman kematian
- Pasien mengatakan serangkaian serangan asma terjadi saat terpapar debu
- Pasien mengaku lupa minum obat secara teratur
- Pasien memiliki riwayat asma sejak usia 20 tahun
- Riwayat keluarga dengan asma (ayah)
Pengetahuan kurang tentang proses penyakit, pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data, maka didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut:

  1. Inefektif Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan peningkatan sekresi bronkial (batuk dengan sputum).
  2. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan permukaan membran alveolar (bronkokonstriksi, edema mukosa).
  3. Kecemasan berhubungan dengan dyspnea dan ancaman kematian.
  4. Pengetahuan kurang tentang proses penyakit dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Perencanaan

1. Diagnosa: Inefektif Bersihan Jalan Napas berhubungan dengan peningkatan sekresi bronkial

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Jalan napas bersih dan paten - Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang paten
- Tidak ada suara adventisius
- Sputum berkurang
- Frekuensi napas dalam batas normal
1. Kaji status pernapasan setiap 2 jam atau sesuai indikasi
2. Observasi tanda-tanda distress pernapasan
3. Lakukan teknik kedudukan (posisi semi fowler)
4. Tingkatkan masukan cairan hingga 2-3 liter/hari
5. Bantu pasien dalam latihan batuk efektif dan napas dalam
6. Kaji karakteristik sputu
7. Kolaborasi pemberian nebulizer bronkodilator
8. Kolaborasi pemberian mucolytic dan ekspektoran
9. Berikan fisioterapi dada bila diperlukan
10. Monitor hasil pemeriksaan penunjang
1. Untuk mengidentifikasi perubahan status pernapasan
2. Untuk mengidentifikasi hipoksemia atau asidosis
3. Memfasilitasi ekspansi paru maksimal
4. Mencairkan sekresi yang kental
5. Mengeluarkan sekresi dari jalan napas
6. Perubahan sputu dapat mengindikasikan infeksi
7. Membantu menghantarkan obat langsung ke jalan napas
8. Mengencerkan dan mengeluarkan sputum
9. Membantu mengeluarkan sekret yang terjebak
10. Mengevaluasi efektivitas terapi

2. Diagnosa: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan permukaan membran alveolar

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Pertukaran gas adequat - SpO2 dalam batas normal (95-100%)
- Gas dalam darah dalam batas normal
- Warna kulit normal
- Tidak ada dispnea
- Irama napas regular
1. Auskultasi bunyi napas setiap 2-4 jam
2. Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara kontinyu
3. Monitor tanda-tanda hipoksemia
4. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
5. Berikan oksigen sesuai indikasi
6. Dorong istirahat untuk berkurangnya kebutuhan metabolik
7. Monitor hasil analisa gas darah
8. Kolaborasi pemberian bronkodilator dan kortikosteroid
9. Kolaborasi pemberian oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi
10. Edukasi tentang teknik pernapasan diafragma
1. Mengidentifikasi perubahan status jalan napas
2. Mengetahui adequasi oksigenasi
3. Mengidentifikasi perburukan hipoksemia
4. Memaksimalkan ekspansi paru
5. Meningkatkan saturasi oksigen
6. Mengurangi konsumsi oksigen
7. Informasi status ventilasi dan oksigenasi
8. Mengurangi inflamasi dan bronkokonstriksi
9. Oksigen dengan konsentrasi lebih tinggi untuk kasus berat
10. Mengontrol frekuensi napas dan meningkatkan oksigenasi

3. Diagnosa: Kecemasan berhubungan dengan dyspnea dan ancaman kematian

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Kecemasan berkurang - Pasien mampu mengungkapkan perasaan dengan jujur
- Pasien tampak tenang dan rileks
- TTV dalam batas normal
- Pasien mampu melakukan teknik relaksasi
1. Kaji tingkat kecemasan pasien
2. Berikan dukungan emosional
3. Ciptakan lingkungan yang tenang
4. Berikan penjelasan mengenai kondisi pasien
5. Bimbing pasien untuk melakukan teknik relaksasi
6. Bantu pasien mengidentifikasi faktor pemicu
7. Anjurkan pasien untuk mempertahankan pola kehidupan normal
8. Kolaborasi pemberian sedatif bila diperlukan
9. Dorong keterlibatan keluarga
10. Monitor tanda-tanda vital secara periodik
1. Mengetahui tingkat kecemasan untuk rencana intervensi
2. Dukungan emosional menenangkan pasien
3. Mengurangi rangsangan yang meningkatkan kecemasan
4. Mengurangi ketidakpastian yang menyebabkan kecemasan
5. Mengurangi ketegangan fisik dan mental
6. Membantu pasien mengelola serangan di masa depan
7. Meningkatkan rasa kontrol dan mengurangi kecemasan
8. Mengurangi kecemasan bila intervensi non-farmakologis tidak efektif
9. Memberikan dukungan tambahan dan rasa aman
10. Mengevaluasi efektivitas intervensi

4. Diagnosa: Pengetahuan kurang tentang proses penyakit dan pengobatan

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Pengetahuan pasien meningkat - Pasien dapat menjelaskan proses terjadinya asma
- Pasien dapat menyebutkan faktor pemicu asma
- Pasien dapat menjelaskan cara penggunaan obat yang benar
- Pasien dapat menjelaskan tindakan pencegahan serangan asma
- Pasien dapat menjelaskan tindakan saat serangan muncul
1. Kaji tingkat pemahaman pasien tentang asma
2. Berikan pendidikan kesehatan mengenai proses terjadinya asma
3. Jelaskan faktor-faktor pemicu serangan asma
4. Jelaskan cara menghindari faktor pemicu
5. Demonstrasikan teknik penggunaan inhaler
6. Jelaskan pentingnya kepatuhan minum obat
7. Jelaskan perbedaan obat controller dan reliever
8. Jelaskan tanda-tanda serangan yang memerlukan penanganan segera
9. Berikan panduan tindakan saat serangan muncul
10. Berikan materi edukasi tertulis
1. Menentukan titik awal pendidikan kesehatan
2. Pemahaman proses penyakit membantu pasien mengelolanya
3. Pengetahuan faktor pemicu membantu pasien menghindari serangan
4. Penghindaran faktor pemicu merupakan kunci pencegahan
5. Teknik yang benar memastikan obat mencapai target
6. Kepatuhan minum obat mencegah serangan asma
7. Pemahaman perbedaan obat membantu penggunaan yang tepat
8. Pengenalan tanda-tanda awal memungkinkan penanganan dini
9. Panduan tindakan membantu pasien merasa lebih siap
10. Materi tambahan memperkuat pemahaman pasien

Implementasi

Implementasi dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Berikut adalah dokumentasi implementasi pada pasien Ny. N. A:

1. Implementasi untuk Inefektif Bersihan Jalan Napas

  • Melakukan pengkajian status pernapasan setiap 2 jam: frekuensi napas menurun dari 28 menjadi 20 kali/menit setelah 24 jam perawatan.
  • Mengobservasi tanda-tanda distress pernapasan: tidak ditemukan sianosis, warna kulit normal.
  • Melaksanakan teknik kedudukan semi fowler (30-45 derajat): pasien menyatakan lebih mudah bernapas.
  • Meningkatkan masukan cairan: pasien mampu minum 2 liter/hari.
  • Membimbing pasien melakukan latihan batuk efektif dan napas dalam: dilakukan 3x sehari masing-masing 5-10 menit.
  • Mengkaji karakteristik sputum: jumlah berkurang, konsistensi lebih cair.
  • Memfasilitasi pemberian nebulizer bronkodilator setiap 6 jam.
  • Mengkolaborasikan pemberian mucolytic (ambroxol 3x sehari).
  • Melakukan fisioterapi dada (vibration) 2x sehari selama 15 menit.

2. Implementasi untuk Gangguan Pertukaran Gas

  • Melakukan auskultasi bunyi napas setiap 4 jam: wheezing berkurang secara perlahan.
  • Monitoring saturasi oksigen secara kontinyu: meningkat dari 93% menjadi 97% setelah 24 jam.
  • Monitoring tanda-tanda hipoksemia: tidak ditemukan sianosis atau kebingungan mental.
  • Melaksanakan posisi semi fowler: pasien nyaman dalam posisi ini.
  • Memberikan oksigen 3 L/menit dengan nasal cannula: pasien merasa lega.
  • Menganjurkan istirahat yang cukup: pasien tidur siang 1-2 jam.
  • Mengkolaborasikan pemberian bronkodilator (salbutamol) dan kortikosteroid (metilprednisolon).
  • Membimbing pasien melakukan teknik pernapasan diafragma dan bibir mengecor: diperagakan dan pasien mampu mengikuti.

3. Implementasi untuk Kecemasan

  • Mengkaji tingkat kecemasan pasien: pasien masih tampak cemas pada hari pertama namun berkurang pada hari kedua.
  • Memberikan dukungan emosional: mendengarkan keluhan pasien dengan empatik.
  • Menciptakan lingkungan yang tenang: menurunkan intensitas cahaya dan mengurangi kebisingan.
  • Memberikan penjelasan mengenai kondisi dan tindakan: pasien mengerti dan kooperatif.
  • Membimbing pasien melakukan teknik relaksasi: napas dalam 10 menit 3x sehari.
  • Membantu pasien mengidentifikasi faktor pemicu: debu, udara dingin, dan stres.
  • Menganjurkan pasien untuk mempertahankan pola kehidupan sehari-hari yang normal: mendorong pasien untuk tetap beraktivitas ringan.
  • Mengkolaborasikan dengan tim dokter untuk pemberian sedatif pada hari pertama (alprazolam 1x sehari).
  • Mendorong keterlibatan keluarga: suami dan anak-anak mendukung dan menghibur pasien.
  • Monitoring tanda-tanda vital dan perubahan emosi secara periodik: stabil.

4. Implementasi untuk Pengetahuan Kurang

  • Mengkaji tingkat pemahaman pasien tentang asma: pasien memiliki pengetahuan dasar kurang.
  • Memberikan pendidikan kesehatan mengenai proses terjadinya asma: menggunakan leaflet dan poster.
  • Menjelaskan faktor-faktor pemicu serangan asma: pasien menyadari bahwa debu, udara dingin, dan stres adalah faktor pemicu utama.
  • Menjelaskan cara menghindari atau mengurangi paparan terhadap faktor pemicu: pasien menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
  • Mendemonstrasikan teknik penggunaan inhaler/MDI: pasien mampu menirukan dengan benar.
  • Menjelaskan pentingnya kepatuhan minum obat secara teratur: pasien menyatakan akan mematuhi.
  • Menjelaskan perbedaan obat pengontrol dan obat pereda: pasien mengerti perbedaannya.
  • Menjelaskan tanda-tanda serangan asma yang memerlukan penanganan segera: pasien menyadari tanda-tanda bahaya.
  • Memberikan panduan tindakan yang harus dilakukan saat serangan muncul: pasien mencatat panduan yang diberikan.
  • Memberikan materi edukasi tertulis: pasien membaca materi pada waktu luang.

Evaluasi

1. Evaluasi Inefektif Bersihan Jalan Napas

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, pasien menunjukkan perbaikan:

  • Jalan napas menjadi lebih paten, pasien tidak lagi mengeluh sesak berat.
  • Bunyi napas wheezing berkurang dan pada hari ketiga sudah tidak terdengar.
  • Sputum menurun volumenya dan lebih encer.
  • Frekuensi napas menurun dari 28 menjadi 18 kali/menit.

Tujuan: TERCAPAI SEBAGIAN. Masalah inefektif bersihan jalan napas teratasi dengan baik namun masih perlu monitoring lanjutan.

2. Evaluasi Gangguan Pertukaran Gas

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, pasien menunjukkan perbaikan:

  • SpO2 meningkat dari 93% menjadi 98% dengan udara ruangan.
  • Analisa gas darah kembali dalam batas normal.
  • Warna kulit dan mukosa normal, tidak ada sianosis.
  • Pasien tidak lagi mengalami dispnea pada istirahat.
  • Irama napas regular dan kedalaman napas membaik.

Tujuan: TERCAPAI. Masalah gangguan pertukaran gas teratasi dengan baik.

3. Evaluasi Kecemasan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, pasien menunjukkan perbaikan:

  • Pasien mampu mengungkapkan perasaan dengan lebih jujur dan tenang.
  • Pasien tampak lebih rileks dan tidak lagi gelisah.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal dan stabil.
  • Pasien mampu melakukan teknik relaksasi (napas dalam) secara independen.

Tujuan: TERCAPAI. Masalah kecemasan teratasi dengan baik.

4. Evaluasi Pengetahuan Kurang

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, pasien menunjukkan perbaikan:

  • Pasien dapat menjelaskan secara sederhana proses terjadinya asma.
  • Pasien dapat menyebutkan faktor pemicu asma yang dialami.
  • Pasien dapat mendemonstrasikan cara penggunaan inhaler dengan benar.
  • Pasien dapat menjelaskan beberapa tindakan pencegahan serangan asma.
  • Pasien dapat menjelaskan tindakan yang harus dilakukan saat serangan muncul.

Tujuan: TERCAPAI. Masalah pengetahuan kurang teratasi dengan baik.

Kesimpulan

Asuhan keperawatan pada pasien Ny. N. A dengan diagnosa medis Asma Bronkial telah dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan standar profesi. Pengkajian menyeluruh meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik mendapatkan masalah utama yaitu sesak napas, batuk dengan sputum, dan kecemasan. Berdasarkan analisa data, didapatkan 4 diagnosa keperawatan: Inefektif Bersihan Jalan Napas, Gangguan Pertukaran Gas, Kecemasan, dan Pengetahuan Kurang.

Intervensi keperawatan difokuskan pada upaya mempertahankan patensi jalan napas, meningkatkan pertukaran gas, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan pengetahuan pasien tentang asma. Implementasi dilakukan secara komprehensif, kolaboratif dengan tim kesehatan lain, dan melibatkan keluarga.

Evaluasi setelah 3 hari perawatan menunjukkan bahwa secara umum tujuan-tujuan keperawatan telah tercapai. Pasien mengalami perbaikan status kesehatan, terutama pada fungsi pernapasan. Edukasi yang diberikan berkontribusi pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran pasien tentang pengelolaan asma yang tepat.

File Referensi Untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N. A DENGAN ASMA BRONKIAL
Screenshoot
Nama File
karya_tulis_ilmiah_dikonversi.pdf

Ukuran File
1.59 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N. A DENGAN ASMA BRONKIAL. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. N. A DENGAN ASMA BRONKIAL dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 10:42:15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG MENGALAMI ASMA BRONKIAL dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 07:52:15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA BRONKIAL dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 12:36:16

HUBUNGAN JENIS TERAPI DENGAN DERAJAT KONTROL PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT...


admin
Admin
2026-06-06 16:24:12

Asuhan Keperawatan Pada An. M.S Dengan Asma Bronchial dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 10:34:11