ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY P.S DENGAN STROKE NON HEMORAGIK
I. PENDAHULUAN
Stroke adalah disfungsi neurologis yang terjadi secara akut dengan tanda dan gejala fokal atau global yang berlangsung selama lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian, yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak. Stroke non hemoragik atau stroke iskemik merupakan sekitar 80-85% dari seluruh kasus stroke. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otak terhalang oleh penyumbatan pada pembuluh darah, yang mengakibatkan kekurangan suplai oksigen dan nutrisi pada jaringan otak sehingga terjadi kerusakan sel otak.
Stroke iskemik memiliki berbagai faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan keturunan, serta faktor risiko yang dapat dikontrol seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, merokok, dan gaya hidup tidak sehat. Pada kasus ini, kita akan membahas asuhan keperawatan pada Ny. P.S., seorang pasien wanita berusia 58 tahun yang didiagnosis mengalami stroke non hemoragik.
II. LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
- Nama: Ny. P.S.
- Umur: 58 tahun
- Jenis Kelamin: Perempuan
- Agama: Islam
- Suku Bangsa: Jawa
- Status Perkawinan: Menikah
- Pendidikan Terakhir: SMA
- Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
- Alamat: Jl. Mawar No. 12, Surabaya
- Tanggal Masuk RS: 10 Oktober 2023
- No. RM: 123456
2. Riwayat Penyakit
Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. P.S. datang ke rumah sakit dengan keluhan utama kelemahan pada sisi kanan tubuh yang terjadi secara tiba-tiba sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan ini terjadi saat pasien sedang memasak di dapur. Pasien merasa tangan kanan tiba-tiba lemas dan sulit memegang alat masak, diikuti kelemahan pada tungkai kanan sehingga pasien kesulitan berdiri.
Selain kelemahan motorik, pasien juga mengeluhkan bicara pelo (disartria) dan wajah terasa miring ke sebelah kiri. Pasien juga mengaku pusing namun disertai berputar (vertigo). Tidak terdapat riwayat sakit kepala berat, muntah, kejang, atau penurunan kesadaran. Keluhan tidak membaik bahkan semakin berat, sehingga keluarga membawa pasien ke IGD RSUD Dr. Soetomo.
Riwayat Penyakit Dahulu
- Hipertensi sejak 7 tahun yang lalu, secara rutin minum obat
- Diabetes Melitus tipe 2 sejak 5 tahun yang lalu
- Dyslipidemia sejak 4 tahun yang lalu
- Tidak pernah mengalami stroke sebelumnya
- Tidak ada riwayat trauma kepala
Riwayat Keluarga
Ayah pasien meninggal karena stroke pada usia 70 tahun. Ibu pasien masih hidup dan sehat. Pasien memiliki 3 orang saudara kandung, dua di antaranya memiliki riwayat hipertensi. Pasien memiliki 2 orang anak yang sehat.
3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum: Tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, ekspresi wajah agak miring ke kiri
Tanda-tanda Vital:
- Tekanan Darah: 155/95 mmHg
- Nadi: 86 kali/menit, teratur
- Suhu: 36.8C
- Respirasi: 20 kali/menit
- SpO2: 97%
- Gula Darah Sewaktu: 178 mg/dL
Status Neurologis:
- Kesadaran: GCS E4 M6 V5
- Pupil: Isokor, tidak anisokoria, refleks cahaya +/+
- Motorik: Hemiparese dextra, kekuatan motorik 3/5 pada ekstremitas atas dan bawah kanan
- Sensorik: Hipestesia ringan pada hemibadan kanan
- Refleks Fisiologik: Biceps +/+, Triceps +/+, Patella +/+, Achilles +/+
- Refleks Patologik: Babinski (+) pada sisi kanan
- Meningeal sign: Negatif
- Nervus Cranialis: Deviasi mulut ke kiri, lidah menonjol ke tengah, palpebra simetris
Status Fisik Lainnya:
- Kepala dan Leher: Tidak terdapat tanda-tanda trauma, ven jugularis tidak prominent
- Mata: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema papil (-)
- THT: Tidak ditemukan kelainan
- Jantung: Batas jantung dalam batas normal, bunyi jantung reguler, tidak ada murmur
- Paru: Bunyi napas vesikuler, tidak ditemukan ronkhi atau wheezing
- Abdomen: Supel, tidak terdapat massa atau nyeri tekan
- Ekstremitas: Tidak ditemukan edema, turgor kulit baik
- Kulit: Tidak ditemukan lesi atau dekubitus
4. Hasil Pemeriksaan Penunjang
CT-Scan Head tanpa kontras (10 Oktober 2023):
Terdapat area hipodensitas di lobus parietal sinistra mengindikasikan infark otak akut. Tidak ada perdarahan intrakranial, tidak ada edema serebral yang signifikan, struktur ventrikel dan cisterna basalis dalam batas normal. Garis tengah tidak mengalami deviasi.
Laboratorium:
- Hemoglobin: 12.5 g/dL
- Leukosit: 8.500/uL
- Trombosit: 245.000/uL
- Hematokrit: 38%
- Gula Darah Puasa: 138 mg/dL
- HbA1c: 6.9%
- Total Kolesterol: 238 mg/dL
- LDL: 158 mg/dL
- HDL: 45 mg/dL
- Trigliserida: 172 mg/dL
- Kreatinin: 0.9 mg/dL
- Ureum: 30 mg/dL
- SGOT: 26 U/L
- SGPT: 30 U/L
- Elektrolit (Na, K, Cl, Ca): Dalam batas normal
ECG:
Ritme sinus, HR 86 bpm, tidak ada tanda-tanda iskemia miokard akut atau aritmia.
5. Diagnosis Medis
- Stroke Iskemik di daerah lobus parietal sinistra
- Hipertensi
- Diabetes Melitus Tipe 2
- Dyslipidemia
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang, maka terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada Ny. P.S.:
- Resiko tinggi ketidakmampuan membersihkan jalan napas b.d penurunan kesadaran atau penurunan refleks batuk
- Kurangnya mobilisasi fisik b.d kelemahan neuromuskuler
- Tidak efektifnya perfusi serebral b.d oklusi vaskular
- Resiko tinggi cidera b.d penurunan sensasi sensorik dan muskuloskeletal
- Gangguan komunikasi verbal b.d penurunan fungsi otak (disartria)
- Resiko tinggi infeksi b.d penurunan imunitas dan imobilitas
- Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum dan ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan
- Kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan b.d kurangnya informasi
IV. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Berikut adalah perencanaan keperawatan yang akan dilaksanakan pada Ny. P.S.:
1. Resiko tinggi ketidakmampuan membersihkan jalan napas
Tujuan: Jalan napas tetap paten, frekuensi respirasi dalam batas normal (16-20 kali/menit), bunyi napas bersih, dan tidak terjadi aspirasi.
Intervensi:
- Kaji frekuensi, kedalaman, dan pola napas klien setiap 2-4 jam
- Posisikan pasien dengan head elevation 30-45 derajat atau posisi semi-fowler
- Ajarkan teknik batuk efektif jika pasien mampu
- Lakukan suction atau bilas mulut jika ada sekret berlebihan
- Berikan oksigenasi sesuai indikasi dengan nasokanula 2-3 liter/menit
- Monitor nilai saturasi oksigen secara berkala
- Lakukan fisioterapi dada untuk memfasilitasi pengeluaran sekret
- Kolaborasi pemberian obat mukolitik jika ada indikasi
2. Kurangnya mobilisasi fisik
Tujuan: Meningkatkan mobilitas fisik sesuai kemampuan, mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot ekstremitas, dan mencegah komplikasi imobilitas.
Intervensi:
- Kaji tingkat kelemahan dan kemampuan motorik pasien secara berkala
- Bantu pasien melakukan latihan ROM pasif pada ekstremitas yang terkena 2-3 kali sehari
- Bantu pasien melakukan latihan ROM aktif pada ekstremitas yang tidak terkena
- Lakukan mobilisasi secara bertahap mulai dari duduk di tepi tempat tidur, berdiri dengan bantuan, hingga berjalan dengan bantuan alat
- Posisikan pasien dengan benar secara berkala, ubah posisi setiap 2 jam
- Berikan bantuan dalam aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan
- Anjurkan penggunaan alat bantu mobilitas jika diperlukan
- Lakukan penilaian risiko jatuh secara rutin
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan yang lebih spesifik
3. Tidak efektifnya perfusi serebral
Tujuan: Perfusi serebral adekuat, ditandai dengan kesadaran yang baik, tidak terjadi penurunan fungsi neurologis lebih lanjut, dan tekanan darah terkontroll.
Intervensi:
- Monitor tanda vital terutama tekanan darah secara berkala
- Kaji kesadaran dan status neurologis secara berkala menggunakan skala GCS dan NIHSS
- Posisikan kepala dengan elevation 30 derajat untuk memfasilitasi aliran darah serebral
- Kolaborasi pemberian obat antiplatelet (aspirin, klopidogrel) sesuai order
- Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warfarin) jika indikasi
- Berikan terapi oksigenasi dengan mempertahankan saturasi oksigen >94%
- Monitor faktor-faktor yang mempengaruhi perfusi serebral (gula darah, lipid, hematokrit)
- Edukasi keluarga pentingnya kepatuhan terapi obat
4. Resiko tinggi cidera
Tujuan: Tidak terjadi cidera pada pasien, pasien mampu menggunakan mekanisme adaptif untuk mencegah cidera, dan lingkungan aman bagi pasien.
Intervensi:
- Kaji tingkat risiko cidera pasien menggunakan skala penilaian risiko jatuh
- Pasang pagar tidur (side rail) pada kedua sisi tempat tidur
- Posisikan tempat tidur dalam posisi rendah saat pasien tidak dipantau
- Pastikan alat bantu panggil (call bell) dalam jangkauan pasien
- Amankan lantai dari benda yang licin atau berbahaya
- Bantu pasien berpindah posisi secara benar
- Pastikan pencahayaan yang cukup di lingkungan pasien
- Edukasi pasien dan keluarga tentang cara memindahkan pasien dengan aman
- Kolaborasi dengan tim rehabilitasi untuk program latihan keseimbangan
5. Gangguan komunikasi verbal
Tujuan: Pasien mampu berkomunikasi kebutuhan secara efektif, menggunakan metode komunikasi alternatif jika diperlukan, dan fungsi komunikasi meningkat secara bertahap.
Intervensi:
- Kaji kemampuan komunikasi pasien termasuk kemampuan bicara, pemahaman, membaca, dan menulis
- Gunakan kalimat pendek dan jelas saat berkomunikasi dengan pasien
- Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merespon
- Gunakan metode komunikasi nonverbal seperti gerakan tangan, ekspresi wajah, atau kartu gambar
- Anjurkan pasien untuk menuliskan kebutuhan jika masih mampu
- Verifikasi pemahaman pasien dengan meminta konfirmasi atas informasi yang disampaikan
- Kolaborasi dengan terapis wicara untuk program rehabilitasi bahasa
- Motivasi pasien untuk selalu mencoba berkomunikasi meski sulit
6. Resiko tinggi infeksi
Tujuan: Tidak terjadi infeksi, ditandai dengan suhu tubuh dalam batas normal, leukosit dalam batas normal, dan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi pada tubuh pasien.
Intervensi:
- Monitor suhu tubuh secara berkala
- Jaga kebersihan luka atau insisi dengan perban yang bersih dan kering
- Lakukan perawatan daerah operasi atau insisi sesuai prosedur
- Tekankan pentingnya teknik aseptik saat melakukan perawatan pada pasien
- Ganti selang infus sesuai pedoman (setiap 72-96 jam)
- Pertahankan kebersihan diri pasien, terutama daerah genital dan oral
- Pastikan nutrisi yang adekuat untuk mendukung sistem imun
- Lakukan posisi berbaring miring (posisi lateral) untuk mencegah aspirasi
- Kolaborasi pemberian antibiotik jika ada indikasi
7. Intoleransi aktivitas
Tujuan: Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai batas kemampuan, tidak terjadi tanda-tanda intoleransi aktivitas seperti peningkatan signifikan tekanan darah, nadi, atau sesak napas saat melakukan aktivitas.
Intervensi:
- Kaji kapasitas aktivitas pasien dan faktor yang mempengaruhi
- Evaluasi respon fisiologis pasien terhadap aktivitas (TD, nadi, respirasi, suhu) sebelum dan sesudah aktivitas
- Susun jadwal aktivitas dengan periode istirahat yang cukup di antaranya
- Bantu pasien melakukan aktivitas sesuai dengan batas kemampuannya
- Anjurkan pasien untuk berhenti beraktivitas segera jika muncul tanda-tanda intoleransi seperti pusing, sesak, atau nyeri dada
- Berikan dukungan emosional dan motivasi untuk meningkatkan aktivitas secara bertahap
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi yang tepat
8. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan
Tujuan: Pasien dan keluarga memahami tentang penyakit, prosedur perawatan, pengobatan, dan tanda-tanda komplikasi yang memerlukan tindakan medis segera.
Intervensi:
- Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang stroke non hemoragik
- Edukasi pasien dan keluarga tentang definisi stroke, faktor risiko, dan tanda-tanda stroke
- Jelaskan tujuan dari berbagai terapi dan tindakan yang dilakukan
- Berikan informasi tentang pengobatan, efek samping, dan pentingnya kepatuhan terapi
- Jelaskan kemungkinan komplikasi dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai
- Ajarkan teknik pemulihan yang dapat dilakukan di rumah
- Edukasi tentang modifikasi gaya hidup untuk pencegahan stroke berulang
- Berikan brosur atau materi edukasi yang dapat dipelajari di rumah
- Buat rencana tindak lanjut dan kontrol setelah pulang
V. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan rencana yang telah disusun. Berikut adalah contoh implementasi keperawatan yang telah dilaksanakan pada Ny. P.S.:
Hari Pertama (10 Oktober 2023)
Perawat melakukan asesmen awal secara komprehensif meliputi asesmen fisik dan neurologis. Pasien ditempatkan di kamar dengan posisi semi-fowler untuk mengoptimalkan perfusi serebral dan memfasilitasi pernapasan. Monitor tanda vital dilakukan setiap 2 jam, mencatat tekanan darah 155/95 mmHg, nadi 86 kali/menit, respirasi 20 kali/menit, suhu 36.8C, dan SpO2 97%.
Perawat memasang side rail pada kedua sisi tempat tidur untuk mencegah jatuh. Posisi kepala dibentuk sedikit ke kiri untuk mengurangi edema dan memfasilitasi aliran darah ke otak. Oksigen nasokanula diberikan 2 liter/menit untuk mempertahankan saturasi oksigen di atas 94%.
Hari Kedua (11 Oktober 2023)
Perawat mulai melakukan latihan ROM pasif pada ekstremitas kanan yang mengalami paresis. Latihan dilakukan sebanyak 2 kali sehari dengan durasi 15 menit setiap sesi. Pasien masih kesulitan untuk berkomunikasi karena mengalami disartria ringan. Perawat menggunakan kalimat pendek dan memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merespon. Perawat juga menyiapkan papan tulis untuk pasien jika pasien ingin menuliskan kebutuhannya.
Hari Ketiga (12 Oktober 2023)
Terapi obat antiplatelet (aspirin 100 mg 1x sehari) mulai diberikan sesuai order dokter. Edukasi pentingnya kepatuhan terapi obat telah diberikan kepada pasien dan keluarga. Tekanan darah pasien mulai menurun menjadi 150/90 mmHg. Pasien mulai dilatih untuk duduk di tepi tempat tidur dengan bantuan perawat selama 10 menit, 2 kali sehari.
Hari Keempat dan Kelima (13-14 Oktober 2023)
Pasien mulai dilatih berdiri dengan bantuan alat bantu jalan. Latihan mobilisasi ditingkatkan secara bertahap dengan memperhatikan respon fisiologis pasien. Fisioterapis mulai terlibat dalam program rehabilitasi pasien. Edukasi mengenai modifikasi gaya hidup dan pencegahan stroke berulang diberikan kepada keluarga.
Selama masa perawatan, perawat secara rutin memantau tanda-tanda komplikasi seperti peningkatan edema serebral, perubahan kesadaran, atau perburukan defisit neurologis. Perawat juga memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga untuk mengatasi stres yang timbul akibat penyakit.
VI. EVALUASI KEPERAWATAN
Berikut adalah evaluasi keperawatan yang telah dilakukan pada Ny. P.S.:
1. Evaluasi terhadap Diagnosa Resiko tinggi ketidakmampuan membersihkan jalan napas
Pasien berhasil mempertahankan jalan napas yang paten selama masa perawatan. Frekuensi respirasi berada dalam batas normal (18-20 kali/menit). Tidak ditemukan bunyi napas tambahan. Pasien mampu melakukan batuk efektif meskipun masih terbatas. Saturasi oksigen terjaga di atas 95%.
2. Evaluasi terhadap Diagnosa Kurangnya mobilisasi fisik
Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan mobilitas fisik. Dari awalnya hanya bisa berbaring dan memiringkan badan, pada hari kelima pasien sudah bisa duduk di tepi tempat tidur dan berdiri dengan bantuan alat bantu jalan. Kekuatan otot ekstremitas kanan meningkat dari 3/5 menjadi 3+/5. ROM pasif dan aktif terus dilakukan untuk mencegah kontraktur.
3. Evaluasi terhadap Diagnosa Tidak efektifnya perfusi serebral
Perfusi serebral pasien membaik ditandai dengan kesadaran yang tetap compos mentis (GCS E4 M6 V5). Tidak terjadi penurunan fungsi neurologis lebih lanjut. Tekanan darah terkontrol dalam batas target (140-150/80-85 mmHg). Pasien tidak melaporkan pusing yang memburuk atau keluhan neurologis lainnya.
4. Evaluasi terhadap Diagnosa Resiko tinggi cidera
Selama masa perawatan, pasien tidak mengalami cidera atau jatuh. Upaya pencegahan seperti penggunaan side rail, pengawasan yang adekuat, dan bantuan mobilisasi efektif mencegah terjadinya cidera pada pasien. Lingkungan kamar dirancang aman untuk pasien dengan mobilitas terbatas.
5. Evaluasi terhadap Diagnosa Gangguan komunikasi verbal
Kemampuan komunikasi verbal pasien mengalami peningkatan. Disartria berkurang sehingga pasien dapat berbicara dengan lafir yang lebih jelas meskipun masih terdapat sedikit kesulitan. Pasien mulai dapat berkomunikasi kebutuhannya secara efektif dengan kombinasi komunikasi verbal dan nonverbal. Pada akhir masa perawatan, pasien sudah mampu menuliskan beberapa kata untuk menyampaikan kebutuhan yang tidak dapat diucapkan dengan jelas.
6. Evaluasi terhadap Diagnosa Resiko tinggi infeksi
Tidak terjadi infeksi pada pasien selama masa perawatan. Suhu tubuh pasien berada dalam batas normal (36.5-37.2C). Nilai leukosit juga dalam batas normal (7.000-9.000/uL). Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi lokal maupun sistemik. Teknik aseptik dijaga saat melakukan perawatan pada pasien.
7. Evaluasi terhadap Diagnosa Intoleransi aktivitas
Pasien menunjukkan toleransi aktivitas yang meningkat secara bertahap. Respon fisiologis (TD, nadi, respirasi) yang dinilai sebelum dan sesudah aktivitas berada dalam batas wajar dengan peningkatan yang tidak signifikan. Pasien mampu menjalani program rehabilitasi tanpa complayn pusing berarti, sesak, atau nyeri dada yang mengindikasikan intoleransi aktivitas yang berat.
8. Evaluasi terhadap Diagnosa Kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan
Pasien dan keluarga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai stroke non hemoragik, faktor risiko, pentingnya pengobatan, dan modifikasi gaya hidup. Keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda stroke yang memerlukan tindakan medis segera. Keluarga juga menunjukkan kesiapan untuk merawat pasien di rumah dan rencana kontrol rutin secara berkala.
VII. KESIMPULAN
Asuhan keperawatan pada Ny. P.S. dengan diagnosis medis stroke non hemoragik telah dilaksanakan sesuai dengan standar prosedur dan intervensi yang terencana. Selama masa perawatan, pasien telah menunjukkan perkembangan yang positif terkait mobilitas fisik, fungsi neurologis, perfusi serebral, kemampuan komunikasi, dan pemahaman mengenai penyakitnya.
Faktor risiko utama yang perlu diperhatikan untuk mencegah stroke berulang pada Ny. P.S. meliputi kontrol tekanan darah yang baik, manajemen diabetes mellitus dan dyslipidemia, serta kepatuhan terapi obat antiplatelet. Edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga diharapkan dapat mendukung pemulihan jangka panjang dan pencegahan kekambuhan.
Rehabilitasi yang berkelanjutan tetap diperlukan setelah pasien pulang untuk memperbaiki fungsi motorik, sensorik, dan kognitif yang masih terganggu. Kerjasama yang baik antara pasien, keluarga, dan tim kesehatan akan sangat menentukan keberhasilan pemulihan pasien stroke non hemoragik seperti Ny. P.S.
