Admin 04 Jun 2026 21:12

 

Asuhan Keperawatan pada Tn. T dengan Fraktur TibiaFibula

Rumah Sakit Achmad Mochtar, Bukittinggi Tahun 2019

Latar Belakang

Fraktur tibiafibula merupakan cedera ortopedi yang umum terjadi pada usia produktif. Pada tahun 2019, Tn. T, seorang pria berusia 42 tahun, dirawat inap di bangsal rawat inap bedah Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi setelah mengalami kecelakaan kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan patah komplit pada tibia dan fibula kanan.

Tujuan penulisan ini adalah menggambarkan proses asuhan keperawatan terpadu yang meliputi penilaian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi (PPIE) untuk memaksimalkan penyembuhan tulang, mencegah komplikasi, serta memulihkan fungsi mobilitas pasien.

Data Pasien

  • Nama: Tn. T
  • Usia: 42 tahun
  • Jenis Kelamin: Lakilaki
  • Diagnosa Medis: Fraktur tibiafibula kanan (komplek), tanpa dislokasi signifikan
  • Tindakan Bedah: Open reduction internal fixation (ORIF) dengan plat dan sekrup
  • Riwayat Penyakit Lain: Hipertensi, tidak ada alergi obat

Penilaian Keperawatan (Assessment)

1. Penilaian Fisik

  • Vsigns: TD 140/90mmHg, N 88x/menit, Suhu 37,2C, RR 18x/menit.
  • Lokalisasi nyeri: Tulang tibia kanan, skala nyeri 7/10 pada istirahat, 9/10 pada gerakan aktif.
  • Pembengkakan & hematoma: Edema ringan, memar meluas sampai pergelangan kaki.
  • Keadaan kulit: Intact, tidak ada luka terbuka.
  • Perfusi: Palpasi pulsasi dorsalis pedis dan posterior tibialis terasa, capillary refill <2detik.
  • Fungsi neurovaskular: Sensasi normal di area distribusi saraf tibialis dan peroneal.

2. Penilaian Psikososial

  • Kecemasan akan proses penyembuhan dan kehilangan mobilitas.
  • Pengalaman kerja sebagai tukang kayu, memerlukan kembali kemampuan fisik.
  • Dukungan keluarga: istri dan dua anak kecil.

3. Penilaian Risiko Komplikasi

  • Infeksi luka operasi
  • Deep vein thrombosis (DVT)
  • Compartment syndrome
  • Nonunion atau delayed union tulang

Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri akut terkait trauma dan prosedur operatif (NOC: Nyeri 3 pada skala VAS).
  2. Risiko infeksi pada luka operasi.
  3. Risiko DVT karena imobilisasi pascaoperasi.
  4. Gangguan mobilitas fisik terkait nyeri dan pembatasan beban.
  5. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian proses penyembuhan.

Rencana Asuhan Keperawatan (Planning)

Diagnosa Tujuan Intervensi Evaluasi
Nyeri akut Nyeri berkurang menjadi 3 dalam 2jam setelah analgesik. Berikan analgesik sesuai resep (paracetamol + opioid bila diperlukan).
Edukasi teknik relaksasi dan pernapasan diafragma.
Penilaian nyeri setiap 4jam.
Skala VAS tercatat 23 setelah intervensi.
Risiko infeksi Tidak muncul tandatanda infeksi selama rawat inap. Cek tanda vital 46jam sekali.
Perawatan luka steril, ganti dressing setiap 24jam atau sesuai kondisi.
Berikan antibiotik profilaksis sesuai protokol.
Temperatur 37,5C, tidak ada kemerahan atau eksudat.
Risiko DVT Terhindar dari trombosis vena dalam selama masa rawat. Mobilisasi dini: dorong kaki pasif 510menit tiap 2jam.
Kompresi elastis (stocking) bila tidak kontraindikasi.
Antikoagulan profilaksis (heparin LMWH) sesuai dokter.
Tidak ada pembengkakan ekstremitas, getaran pulsasi tetap.
Gangguan mobilitas Pasien dapat melakukan latihan rentang gerak (ROM) aktifpasif pada sendi pergelangan kaki dan lutut dalam 48jam. Latihan ROM aktifpasif 3 set 10 repetisi.
Ajarkan penggunaan kruk/alat bantu bebantoleransi.
Kolaborasi dengan fisioterapis.
Pasien menunjukkan peningkatan fleksibilitas dan mampu berdiri dengan bantuan kruk.
Kecemasan Pasien melaporkan rasa tenang (skala anxiet 3) dalam 24jam. Sesi konseling singkat, beri informasi tentang proses penyembuhan.
Libatkan keluarga dalam edukasi.
Berikan teknik distraksi (musik, membaca).
Skala anxiet menurun menjadi 2.

Implementasi Asuhan Keperawatan

1. Manajemen Nyeri

Analgesik intravena (morphine 2mg IV tiap 4jam PRN) diberikan pada jam 08.00, diikuti oleh paracetamol 1g oral tiap 6jam. Setelah 30menit, nyeri turun menjadi 4 pada skala VAS, kemudian menjadi 2 setelah pemberian opioid tambahan.

2. Perawatan Luka Operasi

Setelah operasi, dressing steril dengan balutan kapas nonadhesif dipasang. Setiap 24jam, perawat mengganti dressing sambil memeriksa tandatanda infeksi. Pada hari ke3, tidak ada kemerahan, eksudat, atau peningkatan suhu lokal.

3. Pencegahan DVT

Heparin lowmolecularweight 40mg subkutan tiap 24jam diberikan sejak hari pertama. Pasien diminta menggerakkan jarijari kaki setiap jam, dan melakukan latihan pump kaki setiap 2jam. Pada hari ke4, tidak ada pembengkakan atau nyeri pada betis.

4. Mobilisasi & Latihan Fisioterapi

Fisioterapis memulai latihan pasif pada jam 12.00 hari pertama, kemudian aktif pada hari ke2. Pasien melakukan 3 set ROM lutut dan pergelangan kaki, serta latihan beban parsial pada kruk. Pada hari ke5, pasien dapat berjalan dengan kruk sejauh 15meter tanpa bantuan.

5. Edukasi & Dukungan Psikologis

Perawat menjelaskan pentingnya kepatuhan pada antibiotik, latihan, dan kontrol nyeri. Diskusi keluarga dilakukan pada hari ke2, hasilnya keluarga berkomitmen membantu perawatan di rumah.

Evaluasi

Setelah 7hari rawat inap, semua tujuan tercapai:

  • Nyeri stabil pada 23 pada skala VAS.
  • Tandatanda vital normal, tidak ada infeksi luka.
  • Ultrasonografi doppler pada hari ke6 negatif untuk DVT.
  • Pasien melakukan latihan ROM aktif penuh dan berjalan dengan kruk.
  • Kecemasan berkurang, pasien melaporkan rasa tenang (skala anxiet 2).

Pasien dipulangkan dengan instruksi perawatan luka, program latihan lanjutan, serta kontrol lanjutan ke poli ortopedi tiap 2minggu.

Kesimpulan

Asuhan keperawatan yang terintegrasidari penilaian komprehensif, perencanaan yang berbasis tujuan, hingga implementasi intervensi multidisiplinberperan penting dalam mempercepat penyembuhan fraktur tibiafibula, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup Tn. T. Pendekatan holistik yang melibatkan keluarga dan tim medis memastikan transisi yang aman dari rumah sakit ke perawatan lanjutan di rumah.

File Referensi Untuk Asuhan Keperawatan Pada Tn.T Dengan Fraktur Tibia Fibula Diruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2019
Screenshoot
Nama File
7_fajar_watulangi.pdf

Ukuran File
0.74 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Asuhan Keperawatan Pada Tn.T Dengan Fraktur Tibia Fibula Diruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2019. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Asuhan Keperawatan Pada Tn.T Dengan Fraktur Tibia Fibula Diruang Rawat Inap Bedah Rumah Sa...


admin
Admin
2026-06-04 21:12:05

Daftar Rumah Sakit Dan Klinik Rekanan Untuk Layanan Rawat Inap Dan Rawat Jalan dan Link Do...


admin
Admin
2026-06-08 12:32:06

Asuhan Keperawatan Pada Tn. M Dengan Post Orif EC Fraktur Femur Di Ruang Trauma Center Irn...


admin
Admin
2026-06-04 19:12:06

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.S DENGAN LUKA BAKAR SENGATAN LISTRIK DI RUANG RAWAT INAP RSUD C...


admin
Admin
2026-06-06 12:04:18

Pengaruh Shift Kerja Terhadap Tingkat Stress Kerja Pada Perawat Rawat Inap Rumah Sakit Ort...


admin
Admin
2026-06-11 05:39:22