Asuhan Keperawatan TN. S dengan Open Fraktur Manus IV Distal
1. Pendahuluan
TN. S, seorang pasien wanita berusia 32 tahun, datang ke instalasi gawat darurat setelah terjatuh dari tangga rumah. Pemeriksaan radiologis menunjukkan open fracture (patah terbuka) pada tulang dasar (manus) bagian keempat (jari kelingking) distal. Fraktur terbuka meningkatkan risiko infeksi, perdarahan, dan gangguan fungsi ekstremitas. Asuhan keperawatan yang terstruktur sangat penting untuk meminimalkan komplikasi serta memfasilitasi proses penyembuhan.
2. Tujuan Asuhan Keperawatan
- Mencegah infeksi pada luka terbuka.
- Menjaga stabilitas fraktur dan mengurangi nyeri.
- Meningkatkan sirkulasi perifer serta mencegah komplikasi vaskular dan saraf.
- Mendukung pemulihan fungsional jari ke-4 distal.
- Menyediakan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai perawatan di rumah.
3. Pengkajian Keperawatan
3.1. Data Subjektif
- Keluhan nyeri pada jari kelingking kanan, skala nyeri 8/10.
- Rasa cemas terkait hasil operasi dan pemulihan.
- Riwayat alergi: tidak ada.
- Kondisi medis sebelumnya: tidak ada penyakit kronis.
3.2. Data Objektif
- Lokasi luka: sisi dorsal jari ke-4 distal, sekitar 2,5 cm, terbuka dengan ekspos tulang.
- Temperatur kulit: hangat, tidak ada tanda iskemia.
- Edema ringan di sekitar luka.
- Pulsasi distal (arteri digital) terasa, namun lemah.
- Sensasi: menurun pada daerah distal, terutama pada sisi ulnar.
- Perdarahan: minimal setelah hemostasis awal.
4. Diagnosis Keperawatan
- Nyeri akut terkait trauma jaringan lunak dan fraktur (pain).
- Risiko infeksi pada luka terbuka (risk for infection).
- Gangguan sirkulasi perifer berhubungan dengan edema dan kompresi (impaired peripheral circulation).
- Ansietas berhubungan dengan ketidakpastian proses penyembuhan (anxiety).
- Defisit pengetahuan tentang perawatan luka terbuka (knowledge deficit).
5. Intervensi Keperawatan
5.1. Manajemen Nyeri
- Evaluasi nyeri tiap 2 jam dengan skala NRS.
- Berikan analgesik sesuai resep (mis. paracetamol 500mg oral, atau opioid bila diperlukan).
- Posisikan tangan dengan ortosis atau splint untuk mengurangi gerakan yang memperparah nyeri.
- Aplikasikan kompres dingin selama 1520 menit tiap jam pertama.
5.2. Pencegahan Infeksi
- Lakukan dekontaminasi luka dengan larutan saline steril; hindari penggunaan bahan antimikroba yang dapat menurunkan vitalitas jaringan.
- Ganti balutan sesuai protokol (setiap 2448 jam atau bila balutan basah).
- Observasi tanda-tanda infeksi: kemerahan, suhu, edema, eksudat purulen.
- Pastikan antibiotik profilaksis diberikan tepat waktu (mis. cefazolin 1g IV 30menit sebelum insisi).
- Ajarkan kebersihan tangan dan teknik perawatan balutan kepada pasien dan keluarga.
5.3. Pemeliharaan Sirkulasi
- Periksa pulsasi, warna, suhu, dan capillary refill setiap 4 jam.
- Hindari pembalutan terlalu ketat yang dapat mengompresi pembuluh darah.
- Lakukan rangeofmotion (ROM) pasif ringan pada sendi interfalangeal distal bila tidak melawan protokol ortopedi.
- Elevasi ekstremitas di atas level jantung untuk mengurangi edema.
5.4. Dukungan Emosional
- Sediakan waktu untuk mendengarkan keluhan dan menjawab pertanyaan.
- Berikan informasi realistis mengenai proses operasi, rehabilitasi, dan perkiraan waktu pemulihan.
- Libatkan keluarga dalam proses edukasi untuk menciptakan lingkungan pendukung.
5.5. Edukasi
- Jelaskan cara mengganti balutan, tanda bahaya infeksi, dan pentingnya kepatuhan pada antibiotik.
- Instruksikan latihan isometric ringan setelah dokter memberi izin.
- Berikan lembar edukasi tertulis serta nomor kontak klinik untuk pertanyaan darurat.
6. Evaluasi
- Nyeri menurun menjadi 3/10 dalam 24 jam setelah intervensi analgesik.
- Luka tidak menunjukkan tanda infeksi (tidak ada kemerahan, edema berkurang, suhu normal).
- Pulsasi dan capillary refill kembali normal (2detik).
- Pasien melaporkan berkurangnya kecemasan dan mampu menuliskan langkah perawatan balutan.
- Pasien mampu melakukan gerakan pasif ringan tanpa peningkatan nyeri.
Jika salah satu atau lebih indikator belum tercapai, rencanakan penyesuaian intervensi (mis. meningkatkan dosis analgesik, konsultasi infeksi, atau referensi fisioterapi).
7. Rujukan dan Tindak Lanjut
Setelah stabil, pasien dirujuk ke klinik ortopedi untuk evaluasi pascaoperasi dan perencanaan rehabilitasi jangka panjang. Followup balutan dilakukan pada hari ke3, ke7, dan selanjutnya sesuai progres penyembuhan. Terapi fisik dimulai setelah konsolidasi tulang tercapai untuk memulihkan kekuatan genggaman.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.