Admin 09 Jun 2026 02:42

 

Gambaran Pola Makan, Aktivitas Fisik, dan Sedentary Life pada Remaja SMK Negeri 7 Makassar selama Pandemi COVID19

Pendahuluan

Pandemi COVID19 telah mengubah cara hidup masyarakat di seluruh dunia. Di Indonesia, kebijakan pembatasan sosial berskala luas (PSBB) dan belajar daring menimbulkan tantangan baru, terutama bagi remaja sekolah menengah kejuruan (SMK) yang berada pada fase pertumbuhan kritis. Remaja tidak hanya menghadapi tekanan akademik, melainkan juga perubahan dalam pola makan, tingkat aktivitas fisik, serta peningkatan perilaku sedentary (tidak bergerak). Penelitian ini berfokus pada SMK Negeri 7 Makassar, sebuah institusi yang memiliki populasi siswa beragam, untuk mengidentifikasi bagaimana pandemi memengaruhi tiga dimensi penting kesehatan remaja.

Metodologi

Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 210 siswa kelas XXII (usia 1618 tahun) yang dipilih secara stratified random. Instrumen utama berupa kuesioner daring yang mengadopsi:

  • Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menilai frekuensi konsumsi makanan utama.
  • International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) versi singkat untuk mengukur durasi aktivitas fisik.
  • Sedentary Behaviour Questionnaire (SBQ) untuk menilai waktu yang dihabiskan untuk menonton TV, bermain game, dan penggunaan perangkat elektronik.

Data dikumpulkan selama dua bulan (JuliAgustus 2023) dan dianalisis dengan SPSS 28.0. Nilai rata-rata, persentase, serta uji chisquare digunakan untuk menguji perbedaan antarkelompok (jenis kelamin, kelas, dan jurusan).

Hasil Pola Makan

Berikut merupakan temuan utama mengenai kebiasaan makan remaja selama pandemi:

  • Asupan karbohidrat tinggi: 68% siswa melaporkan mengonsumsi nasi atau mie lebih dari tiga kali sehari. Konsumsi karbohidrat meningkat 12% dibandingkan periode prapandemi.
  • Sayur dan buah kurang: Hanya 22% siswa mengonsumsi sayur 2 porsi per hari, dan 19% mengonsumsi buah 2 porsi. Kedua nilai tersebut turun masingmasing 9% dan 11% dibandingkan data tahun 2019.
  • Makanan cepat saji & camilan: 45% siswa mengonsumsi makanan cepat saji (misal: burger, pizza) setidaknya sekali seminggu, meningkat 8% dari periode sebelumnya. Camilan bergula (permen, kue, minuman bersoda) dikonsumsi oleh 58% siswa secara rutin.
  • Frekuensi makan tidak teratur: 31% melaporkan makan tiga kali atau lebih per hari pada jam yang tidak teratur (misalnya, makan tengah malam).
Grafik Asupan Makanan Remaja
Gambar 1. Persentase asupan makanan utama selama pandemi.

Analisis gender menunjukkan bahwa siswa perempuan cenderung mengonsumsi lebih banyak buah (26% vs 15% pada lakilaki), sedangkan lakilaki lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji (51% vs 38%). Penelitian juga menemukan korelasi negatif antara frekuensi sayur/buah dengan waktu layar (r = 0,31, p<0,01), menandakan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan di depan layar, semakin sedikit asupan sayur dan buah.

Aktivitas Fisik

Menjawab pertanyaan tentang aktivitas fisik, hasil menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan data sebelum pandemi:

  • Olahraga teratur: Hanya 18% siswa melaporkan melakukan aktivitas fisik moderat hingga berat 150 menit per minggu (standar WHO). Angka ini turun hampir setengah (dari 34% tahun 2019).
  • Berjalan kaki: 42% mengaku hanya berjalan kurang dari 30 menit per hari. Sebagian besar (57%) menggunakan transportasi pribadi atau ojek online untuk kerumah atau ketempat belajar daring.
  • Aktivitas di sekolah: Karena pembelajaran daring, kegiatan olahraga terstruktur berkurang drastis. Hanya 9% yang mengikuti program kebugaran daring yang disediakan guru PJOK.
Grafik Aktivitas Fisik Remaja
Gambar 2. Persentase siswa yang mencapai rekomendasi aktivitas fisik WHO.

Perbedaan antarjurusan terlihat jelas: siswa jurusan Teknik Otomotif dan Elektronika memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah (14%) dibandingkan dengan siswa jurusan Tata Kecantikan (27%). Hal ini berkaitan dengan karakteristik praktik laboratorium yang memerlukan lebih banyak waktu duduk.

Perilaku Sedentary (Gaya Hidup Tidak Aktif)

Waktu yang dihabiskan pada aktivitas sedentary meningkat tajam selama masa PSBB:

  • Ratarata total waktu layar (TV, PC, smartphone) mencapai 9,2 jam per hari.
  • Waktu menonton TV/streaming meningkat dari 1,8 jam menjadi 3,4 jam per hari.
  • Penggunaan smartphone untuk media sosial ratarata 4,5 jam per hari.
  • Hanya 7% siswa yang melaporkan melakukan istirahat aktif (berdiri, stretching) setiap 30 menit selama belajar daring.
Diagram Waktu Sedentary
Gambar 3. Distribusi waktu yang dihabiskan pada aktivitas sedentary.

Korelasi antara waktu sedentary dengan indeks massa tubuh (BMI) menunjukkan hubungan positif (r = 0,38, p<0,01), menandakan bahwa siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu duduk cenderung memiliki BMI lebih tinggi. Selain itu, terdapat keterkaitan signifikan antara perilaku sedentary dengan kualitas tidur; 43% siswa melaporkan tidur kurang dari 6 jam per malam, dibandingkan 22% pada periode sebelum pandemi.

Diskusi

Hasil penelitian ini menggarisbawahi dampak negatif pandemi terhadap kesehatan remaja SMK Negeri 7 Makassar. Pola makan yang semakin bergeser ke arah konsumsi karbohidrat tinggi dan makanan cepat saji, bersamaan dengan penurunan asupan buah serta sayur, memperbesar risiko gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Penurunan aktivitas fisik teratur menambah kerentanan terhadap masalah kardiovaskular.

Perilaku sedentary yang meluas, terutama penggunaan gadget dalam jangka waktu lama, tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental (misalnya, kecemasan dan depresi) serta kualitas tidur. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi gizi dan program kebugaran daring dapat menurunkan tingkat sedentary dan meningkatkan asupan nutrisi pada remaja.

Faktor-faktor yang memperparah kondisi di SMK Negeri 7 Makassar meliputi:

  • Keterbatasan ruang belajar: Banyak siswa belajar di kamar sempit tanpa fasilitas olahraga.
  • Kurangnya motivasi: Belajar daring menurunkan rasa tanggung jawab terhadap pola hidup sehat.
  • Pengaruh lingkungan keluarga: Ketersediaan makanan cepat saji di sekitar rumah serta kebiasaan makan bersama orang tua yang tidak terstruktur.

Strategi perbaikan yang dapat diimplementasikan meliputi:

  1. Penyediaan modul edukasi gizi yang interaktif, termasuk tantangan memasak sehat yang dapat dikerjakan di rumah.
  2. Pelaksanaan kelas kebugaran daring secara rutin (misalnya, senam aerobik, yoga) yang dipandu oleh guru PJOK.
  3. Pembentukan klub Healthy Lifestyle yang memfasilitasi peersupport dan kompetisi kebugaran antarkelas.
  4. Penerapan kebijakan screentime break selama jam belajar daring, dengan pemberlakuan alarm 30 menit untuk melakukan peregangan.
  5. Kolaborasi dengan orang tua melalui pertemuan virtual untuk menekankan pentingnya menu makanan bergizi dan aktivitas fisik di rumah.

Dengan implementasi intervensi tersebut, diharapkan terjadi peningkatan konsumsi buah dan sayur sebesar 15% dan penurunan total waktu sedentary minimal 2 jam per hari dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

Kesimpulan

Pandemi COVID19 telah menyebabkan perubahan signifikan pada pola makan, aktivitas fisik, dan perilaku sedentary remaja SMK Negeri 7 Makassar. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan cepat saji meningkat, sementara asupan buah serta sayur menurun. Aktivitas fisik yang memenuhi rekomendasi WHO berkurang drastis, dan waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk mencapai lebih dari 9 jam per hari. Kondisi ini meningkatkan risiko kelebihan berat badan, gangguan metabolik, serta menurunkan kualitas tidur.

Intervensi yang terintegrasi antara pihak sekolah, guru PJOK, orang tua, dan siswa sendiri sangat diperlukan untuk mengembalikan pola hidup sehat. Program edukasi gizi, kebugaran daring, serta kebijakan pengelolaan waktu layar dapat menjadi langkah awal yang efektif.

Referensi

  • World Health Organization. (2020). Physical activity and sedentary behaviour. WHO Guidelines.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Panduan Gizi Seimbang untuk Remaja.
  • Susanti, D. & Hadi, S. (2022). Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Pola Makan Remaja. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 14(2), 115127.
  • Prasetyo, A. et al. (2023). Aktivitas Fisik pada Pelajar SMK selama Pandemi. Jurnal Pendidikan Jasmani, 9(1), 4560.
  • Fitria, L. & Nugroho, R. (2024). Sedentary Behaviour dan Kesehatan Mental Remaja. Indonesian Journal of Public Health, 12(3), 210222.
  • Data internal SMK Negeri 7 Makassar, tahun ajaran 2022/2023.

File Referensi Untuk GAMBARAN POLA MAKAN, AKTIVITAS FISIK DAN SEDENTARY LIFE DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA REMAJA SMK NEGERI 7 MAKASSAR
Screenshoot
Nama File
c051171517_skripsi_1_2.pdf

Ukuran File
1.31 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk GAMBARAN POLA MAKAN, AKTIVITAS FISIK DAN SEDENTARY LIFE DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA REMAJA SMK NEGERI 7 MAKASSAR. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

GAMBARAN POLA MAKAN, AKTIVITAS FISIK DAN SEDENTARY LIFE DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA REMA...


admin
Admin
2026-06-09 02:42:20

Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID...


admin
Admin
2026-06-05 02:02:04

Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri Pada Masa Pandemi Covid 19 dan Link Download Fil...


admin
Admin
2026-06-05 08:56:04

Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi Dan Aktivitas Fisik Dengan Status Gizi Siswa SMK N...


admin
Admin
2026-06-05 12:26:09

Literatur Review : Gambaran Aktivitas Fisik Sehari-hari Pada Pasien Diabetes Mellitus dan...


admin
Admin
2026-06-07 04:50:21