Gambaran Pola Makan, Aktivitas Fisik, dan Sedentary Life pada Remaja SMK Negeri 7 Makassar selama Pandemi COVID19
Pandemi COVID19 telah mengubah cara hidup masyarakat di seluruh dunia. Di Indonesia, kebijakan pembatasan sosial berskala luas (PSBB) dan belajar daring menimbulkan tantangan baru, terutama bagi remaja sekolah menengah kejuruan (SMK) yang berada pada fase pertumbuhan kritis. Remaja tidak hanya menghadapi tekanan akademik, melainkan juga perubahan dalam pola makan, tingkat aktivitas fisik, serta peningkatan perilaku sedentary (tidak bergerak). Penelitian ini berfokus pada SMK Negeri 7 Makassar, sebuah institusi yang memiliki populasi siswa beragam, untuk mengidentifikasi bagaimana pandemi memengaruhi tiga dimensi penting kesehatan remaja.
Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 210 siswa kelas XXII (usia 1618 tahun) yang dipilih secara stratified random. Instrumen utama berupa kuesioner daring yang mengadopsi:
Data dikumpulkan selama dua bulan (JuliAgustus 2023) dan dianalisis dengan SPSS 28.0. Nilai rata-rata, persentase, serta uji chisquare digunakan untuk menguji perbedaan antarkelompok (jenis kelamin, kelas, dan jurusan).
Berikut merupakan temuan utama mengenai kebiasaan makan remaja selama pandemi:
Analisis gender menunjukkan bahwa siswa perempuan cenderung mengonsumsi lebih banyak buah (26% vs 15% pada lakilaki), sedangkan lakilaki lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji (51% vs 38%). Penelitian juga menemukan korelasi negatif antara frekuensi sayur/buah dengan waktu layar (r = 0,31, p<0,01), menandakan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan di depan layar, semakin sedikit asupan sayur dan buah.
Menjawab pertanyaan tentang aktivitas fisik, hasil menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan data sebelum pandemi:
Perbedaan antarjurusan terlihat jelas: siswa jurusan Teknik Otomotif dan Elektronika memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah (14%) dibandingkan dengan siswa jurusan Tata Kecantikan (27%). Hal ini berkaitan dengan karakteristik praktik laboratorium yang memerlukan lebih banyak waktu duduk.
Waktu yang dihabiskan pada aktivitas sedentary meningkat tajam selama masa PSBB:
Korelasi antara waktu sedentary dengan indeks massa tubuh (BMI) menunjukkan hubungan positif (r = 0,38, p<0,01), menandakan bahwa siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu duduk cenderung memiliki BMI lebih tinggi. Selain itu, terdapat keterkaitan signifikan antara perilaku sedentary dengan kualitas tidur; 43% siswa melaporkan tidur kurang dari 6 jam per malam, dibandingkan 22% pada periode sebelum pandemi.
Hasil penelitian ini menggarisbawahi dampak negatif pandemi terhadap kesehatan remaja SMK Negeri 7 Makassar. Pola makan yang semakin bergeser ke arah konsumsi karbohidrat tinggi dan makanan cepat saji, bersamaan dengan penurunan asupan buah serta sayur, memperbesar risiko gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Penurunan aktivitas fisik teratur menambah kerentanan terhadap masalah kardiovaskular.
Perilaku sedentary yang meluas, terutama penggunaan gadget dalam jangka waktu lama, tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental (misalnya, kecemasan dan depresi) serta kualitas tidur. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi gizi dan program kebugaran daring dapat menurunkan tingkat sedentary dan meningkatkan asupan nutrisi pada remaja.
Faktor-faktor yang memperparah kondisi di SMK Negeri 7 Makassar meliputi:
Strategi perbaikan yang dapat diimplementasikan meliputi:
Dengan implementasi intervensi tersebut, diharapkan terjadi peningkatan konsumsi buah dan sayur sebesar 15% dan penurunan total waktu sedentary minimal 2 jam per hari dalam kurun waktu enam bulan ke depan.
Pandemi COVID19 telah menyebabkan perubahan signifikan pada pola makan, aktivitas fisik, dan perilaku sedentary remaja SMK Negeri 7 Makassar. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan cepat saji meningkat, sementara asupan buah serta sayur menurun. Aktivitas fisik yang memenuhi rekomendasi WHO berkurang drastis, dan waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk mencapai lebih dari 9 jam per hari. Kondisi ini meningkatkan risiko kelebihan berat badan, gangguan metabolik, serta menurunkan kualitas tidur.
Intervensi yang terintegrasi antara pihak sekolah, guru PJOK, orang tua, dan siswa sendiri sangat diperlukan untuk mengembalikan pola hidup sehat. Program edukasi gizi, kebugaran daring, serta kebijakan pengelolaan waktu layar dapat menjadi langkah awal yang efektif.
