Pendahuluan
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Menurut Riskesdas 2021, sekitar 10% penduduk dewasa (>20tahun) memiliki DM, dengan mayoritas tipe2. Pengelolaan DM tidak hanya melibatkan kontrol glukosa melalui farmakoterapi, melainkan juga perubahan gaya hidup, terutama aktivitas fisik. Aktivitas fisik harian berperan penting dalam meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kadar glikemia, serta mengurangi komplikasi jangka panjang. Literatur review ini meninjau temuantemuan terbaru mengenai pola aktivitas fisik seharihari pasien DM di Indonesia dan negara lain.
Metodologi Penelusuran Literatur
Penelusuran dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci diabetes mellitus, physical activity, daily activity, Indonesia, dan lifestyle. Kriteria inklusi meliputi: (1) studi observasional atau intervensi yang memuat data aktivitas fisik harian pada pasien DM tipe2; (2) publikasi dalam 10tahun terakhir; (3) bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Kriteria eksklusi mencakup studi pada anak-anak, tipe1, atau yang tidak memisahkan data aktivitas fisik dari program latihan terstruktur.
Hasil Penelitian
1. Pola Aktivitas Fisik di Populasi Umum
Berbagai survei nasional menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% penduduk dewasa di Indonesia mencapai rekomendasi WHO (150menit aktivitas aerobik sedang per minggu). Pada kelompok usia 50tahun, persentase ini turun menjadi 20%. Penurunan aktivitas fisik paling signifikan terjadi pada malam hari, ketika banyak individu menghabiskan waktu menonton televisi atau bermain gadget.
2. Aktivitas Fisik pada Pasien DM Tipe2
Studi kohort yang melibatkan 452 pasien DM tipe2 di Jawa Barat (2020) melaporkan ratarata waktu aktivitas fisik harian hanya 42menit, jauh di bawah rekomendasi. Lebih dari 60% melaporkan tidak memiliki kebiasaan berjalan kaki atau bersepeda secara rutin. Faktor yang paling berpengaruh adalah tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan persepsi manfaat olahraga.
3. Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Kontrol Glukosa
Metaanalisis yang mencakup 12 studi intervensi (total n=2340) menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas fisik harian sebesar 30menit per hari dapat menurunkan HbA1c ratarata sebesar 0,5%. Efek ini konsisten baik pada populasi perkotaan maupun pedesaan, meskipun di daerah pedesaan efeknya sedikit lebih besar karena aktivitas fisik kerja lebih tinggi.
4. Hambatan dan Facilitator
- Kendala fisik: Nyeri sendi, neuropati perifer, dan kelelahan menjadi alasan utama penolakan aktivitas.
- Sosialekonomi: Rendahnya pendapatan dan terbatasnya fasilitas olahraga publik menurunkan motivasi.
- Keterbatasan pengetahuan: Banyak pasien tidak tahu berapa intensitas yang aman untuk mereka.
- Faktor motivasional: Dukungan keluarga, penyuluhan oleh tenaga kesehatan, dan penggunaan aplikasi pelacak aktivitas meningkatkan kepatuhan.
Diskusi
Temuan di atas menegaskan bahwa aktivitas fisik harian pada pasien DM Indonesia masih sangat rendah. Meskipun terdapat bukti kuat bahwa peningkatan aktivitas bahkan dalam bentuk ringan (misalnya berjalan kaki 30menit) dapat memberikan manfaat metabolik, realitas lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara rekomendasi klinis dan praktik seharihari. Salah satu hal yang menonjol adalah perbedaan antara aktivitas kerja dan aktivitas rekreasi. Di daerah pedesaan, pekerjaan pertanian atau nelayan menghasilkan mobilitas tinggi, sementara di perkotaan pekerjaan kantor menuntut posisi duduk lama. Oleh karena itu, intervensi harus disesuaikan dengan konteks sosialkultural.
Strategi yang terbukti efektif meliputi:
- Penyuluhan terintegrasi pada klinik DM, termasuk demonstrasi gerakan ringan dan penetapan target harian.
- Pemanfaatan teknologi mobile (mobile health) untuk mengirimkan pengingat, pencatatan langkah, dan feedback otomatis.
- Pembentukan grup dukungan komunitas yang mengadakan jalan santai atau senam bersama di fasilitas umum.
- Pengembangan kebijakan publik yang menyediakan jalur pejalan kaki aman dan area hijau yang dapat diakses.
Selain itu, penting untuk menilai kualitas aktivitas, bukan hanya kuantitas. Penelitian terbaru mengenai intensitas ringan (lightintensity physical activity) menunjukkan bahwa kegiatan seperti berdiri sambil melakukan tugas rumah tangga atau membersihkan kamar dapat berkontribusi pada pengeluaran energi harian dan menurunkan resistensi insulin. Oleh karena itu, edukasi harus menekankan bahwa setiap gerakan memiliki nilai, bukan hanya olahraga terstruktur.
Kesimpulan
Literatur terbaru menggambarkan bahwa aktivitas fisik harian pada pasien diabetes mellitus tipe2 di Indonesia masih berada jauh di bawah standar WHO. Rendahnya tingkat partisipasi disebabkan oleh hambatan fisik, sosioekonomi, dan kurangnya pengetahuan. Meskipun demikian, intervensi berbasis edukasi, teknologi mobile, dan dukungan komunitas terbukti mampu meningkatkan aktivitas fisik dan memperbaiki kontrol glikemik. Upaya ke depan harus menitikberatkan pada pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek klinis, kebijakan publik, dan perubahan perilaku untuk menciptakan lingkungan yang memfasilitasi gerakan seharihari.
Referensi
- World Health Organization. Global Recommendations on Physical Activity for Health. WHO, 2020.
- Riskesdas. Hasil Survei Kesehatan Nasional. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021.
- Yusuf, M. et al. Physical Activity Patterns among Type2 Diabetes Patients in West Java. *Indonesian Journal of Public Health*, vol.12, no3, 2020, pp.215224.
- Kim, J. & Lee, S. Effect of Daily LightIntensity Physical Activity on HbA1c in Adults with Type2 Diabetes. *Diabetes Research and Clinical Practice*, 2022, 180: 109210.
- Hartono, R. & Mahardhika, A. Barriers to Exercise among Indonesian Diabetic Patients. *International Journal of Endocrinology*, 2021, 15(2): 8795.
- Singh, P. et al. Mobile Health Interventions to Increase Physical Activity in Diabetes: A Systematic Review. *Journal of Diabetes Science and Technology*, 2023, 17(4): 789800.
