Asuhan Keperawatan pada Hipertermi (Dengue Hemorrhagic Fever) Pada An. F Di Ruang Melati Rumah Sakit Kartika Husada
Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada musim pancaroba. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Salah satu tanda klinis utama yang sering muncul pada pasien DBD adalah hipertermi atau peningkatan suhu tubuh secara mendadak. Kondisi ini memerlukan penanganan medis dan keperawatan yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, seperti syok atau sindrom syok dengue.
Dalam kasus ini, penulis membahas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien An. F, seorang anak yang dirawat di Ruang Melati Rumah Sakit Kartika Husada dengan diagnosa medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) yang disertai masalah keperawatan utama yaitu hipertermi. Penanganan yang cepat dan tepat di ruang rawat inap sangat krusial untuk memantau perubahan tanda vital dan mencegah detereorasi kondisi pasien.
Tinjauan Kasus Pasien An. F
Pasien An. F masuk ke Rumah Sakit Kartika Husada dengan keluhan utama demam tinggi yang telah berlangsung selama tiga hari. Suhu tubuh saat masuk mencapai 39,5C. Selain demam, pasien juga mengeluhkan nyeri pada kepala, nyeri otot, mual, dan muntah. Berdasarkan pemeriksaan fisik, didapatkan tanda-tanda tourniquet test positif serta penurunan trombosit (trombositopenia). Dokter mendiagnosa An. F menderita Demam Berdarah Dengue dan menempatkan pasien di Ruang Melati untuk observasi dan perawatan intensif.
Konsep Dasar Hipertermi
Hipertermi adalah suhu tubuh di atas rentang normal (36C 37,5C) sebagai respon terhadap kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh. Pada kasus DBD, hipertermi terjadi karena virus dengue masuk ke dalam aliran darah dan memicu pelepasan mediator inflamasi (pyrogen). Mediator ini bekerja pada hipotalamus untuk meningkatkan "set point" suhu tubuh, sehingga tubuh merasa dingin dan melakukan respons peningkatan panas (menggigil) dan vasokonstriksi perifer untuk menghasilkan panas.
Suhu tubuh yang tinggi pada An. F berisiko meningkatkan metabolisme tubuh, yang dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen dan nutrisi. Jika tidak ditangani, hipertermi dapat menyebabkan dehidrasi, kejang demam (terutama pada anak), dan kerusakan jaringan otak. Oleh karena itu, prioritas utama dalam asuhan keperawatan di Ruang Melati adalah menurunkan suhu tubuh pasien ke dalam batas normal.
Pengkajian Keperawatan
1. Subjektif
An. F mengeluhkan tubuhnya terasa panas dan menggigil. Pasien mengatakan "Mamah, aku dingin tapi panas badanku". Ibu pasien melaporkan bahwa demam naik turun, namun sering mencapai puncak di malam hari. Pasien juga tampak lemas dan enggan untuk minum atau makan karena mual.
2. Objektif
- Tanda Vital: TD: 100/70 mmHg, N: 98x/menit (takikardia sebagai kompensasi hipertermi), R: 24x/menit, S: 39,5C.
- Fisik: Kulit tampak kemerahan (flushing) dan hangat saat disentuh. Turgor kulit berkurang menandakan dehidrasi ringan. Ekstremitas terasa dingin awalnya namun berubah hangat saat fase flush.
- Pemeriksaan Penunjang: Hasil laboratorium menunjukkan hematokrit meningkat (hemoconcentration) dan trombosit turun di bawah 100.000/L.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama yang muncul pada An. F di Ruang Melati RS Kartika Husada adalah:
Hipertermi b/d proses infeksi virus (Dengue Virus).
Bukti: Suhu tubuh 39,5C, kulit hangat dan kemerahan, nadi dan napas meningkat, serta riwayat demam tiga hari terakhir.
Perencanaan dan Implementasi
Tujuan: Suhu tubuh An. F kembali dalam batas normal (36C 37,5C), tanda vital stabil, dan tidak terjadi komplikasi kejang.
Intervensi yang dilakukan perawat di Ruang Melati:
- Monitor Suhu Tubuh secara Rutin
Perawat memantau suhu tubuh An. F setiap 2 hingga 4 jam sekali menggunakan termometer digital. Hal ini penting untuk melihat grafik perjalanan demam, apakah fase demam masih tinggi atau sudah menuju fase kritis atau pemulihan. Hasil pencatatan ini juga menjadi dasar evaluasi efektivitas intervensi penurunan panas yang diberikan. - Kompres Air Hangat (Tepid Sponge)
Perawat melakukan kompres menggunakan air hangat (suhu sekitar 30C 32C) pada area lipatan paha, ketiak, dan leher. Tepid sponge membantu merangsang reseptor dingin di kulit tanpa menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) yang justru akan menahan panas di dalam tubuh seperti halnya kompres air es. Air hangat membantu melakukan vasodilatasi pelepasan panas melalui proses evaporasi. - Manajemen Cairan (Hidrasi)
- Menganjurkan ibu pasien untuk memberikan minum air putih atau oralit secara rutin (sekitar 1500-2000 cc/hari tergantung berat badan). Pada DBD, cairan intravena (infus) juga dipasang sesuai order dokter untuk memperbaikan dehidrasi dan mempertahankan volume sirkulasi darah.
- Memantau keseimbangan cairan dengan mencatat input dan output harian (cairan yang masuk, nafsu makan/minum, dan urine). Pada fase peningkatan hematokrit, kebutuhan cairan sangat tinggi.
- Pemberian Terapi Obat
- Bekerjasama dengan tim medis dalam pemberian antipiretik (penurun panas), seperti paracetamol, sesuai dosis berat badan anak untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
- Memastikan tidak diberikan obat golongan NSAID (seperti ibuprofen atau aspirin) karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada pasien DBD.
- Kenyamanan Lingkungan
Mengatur lingkungan ruangan agar pasien merasa nyaman. Suhu ruang Melati diatur jangan terlalu dingin karena dapat menyebabkan menggigil yang justru menaikkan metabolisme. Ventilasi udara dijaga agar lancar, dan pakaian An. F diganti dengan pakaian tipis yang menyerap keringat untuk memudahkan pelepasan panas. Selimut hanya digunakan jika pasien benar-benar menggigil berat. - Edukasi Kesehatan pada Keluarga
Perawat memberikan edukasi kepada ibu An. F mengenai pentingnya mengenali tanda bahaya, seperti sakit kepala hebat, perut sakit terutama ulu hati, muntah berlebihan, atau pasien tampak lesu/sadar menurun. Keluarga juga diajarkan cara melakukan kompres yang benar untuk dilanjutkan saat dirawat di rumah.
Evaluasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam di Ruang Melati Rumah Sakit Kartika Husada, hasil evaluasi adalah sebagai berikut:
- Suhu tubuh An. F menurun dan berada dalam rentang normal, yaitu sekitar 37C.
- Tanda vital stabil: Tekanan darah normal, nadi dan napas kembali ke rentang usia normal.
- Kulit tampak hangat, tidak mengalami flushing berlebih, dan turgor kulit kembali baik.
- Pasien tampak lebih nyaman, nafsu makan mulai meningkat, dan tidak mengalami kejang demam.
Dengan demikian, masalah keperawatan hipertermi pada An. F teratasi sebagian atau teratasi total. Pasien diperbolehkan pulang (rawat jalan) dengan pendampingan edukasi tentang perawatan di rumah dan tanda bahaya yang harus segera dilaporkan ke fasilitas kesehatan.
We use cookies to enhance your browsing experience and analyze site traffic. By clicking 'Accept all cookies', you agree to the use of these cookies. You can manage your preferences or learn more in our [Privacy Policy/Cookie Policy.