Admin 07 Jun 2026 19:44

 

Kelimpahan Dan Keanekaragaman Gastropoda di Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut

Pendahuluan

Gambar Situ Bagendit 2, Kabupaten Garut
(Danau yang menjadi habitat berbagai gastropoda air tawar)

Situ Bagendit 2 merupakan salah satu situ atau danau kecil yang terdapat di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Situ ini memiliki peranan penting sebagai ekosistem air tawar yang menjadi habitat bagi berbagai jenis organisme akuatik, termasuk gastropoda atau biasa disebut siput air tawar. Situ Bagendit 2 dibentuk oleh air yang tergenang secara alami dan menjadi bagian dari sistem hidrologi wilayah Garut dengan karakteristik lingkungan yang unik.

Gastropoda merupakan salah satu kelompok moluska yang memiliki diversitas tinggi dan dapat dijumpai di berbagai lingkungan perairan baik perairan tawar maupun perairan laut. Gastropoda memiliki peranan ekologis yang penting dalam ekosistem perairan, termasuk sebagai detritivora, herbivora, dan membantu siklus nutrien dalam perairan. Selain itu, beberapa jenis gastropoda juga berperan sebagai indikator biologi kualitas perairan.

Penelitian mengenai kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda di Situ Bagendit 2 menjadi penting dilakukan untuk memahami lebih baik komunitas gastropoda yang menghuni perairan ini. Informasi ini sangat berguna untuk keperluan konservasi biosfer air tawar dan manajemen ekosistem perairan di wilayah Garut. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pengetahuan tentang keanekaragaman hayati air tawar di Jawa Barat.

Kondisi Ekologi Situ Bagendit 2

Situ Bagendit 2 memiliki kondisi ekologi yang mendukung kehidupan berbagai organisme akuatik. Situ ini memiliki kedalaman bervariasi antara 1-3 meter dengan area perairan yang cenderung datar. Vegetasi akuatik di sekitar situ terdiri dari eceng gondok (Eichhornia crassipes), kiambang (Salvinia molesta), dan beberapa jenis rumput air yang tumbuh di tepian perairan. Vegetasi ini menyediakan habitat penting bagi gastropoda dan organisme lainnya.

Substrat dasar perairan Situ Bagendit 2 didominasi oleh lumpur organic dengan campuran pasir yang menyediakan habitat yang ideal untuk beberapa jenis gastropoda. Kualitas air di Situ Bagendit 2 menunjukkan kisaran pH 6,5-7,2, suhu 25-28C, dan kandungan oksigen terlarut yang mendukung kehidupan organisme akuatik. Parameter-parameter ini mempengaruhi distribusi dan kelimpahan gastropoda di perairan tersebut.

Aktivitas manusia di sekitar Situ Bagendit 2, seperti pertanian dan perikanan tradisional, memberikan pengaruh tertentu terhadap ekosistem perairan. Tangkapan ikan secara tradisional menggunakan jaring pukat dan alat tangkap lainnya mempengaruhi habitat gastropoda, namun secara umum masih dalam batas toleransi ekologis yang dapat diimbangi oleh kemampuan adaptasi organisme.

Metodologi Penelitian

Pengamatan gastropoda di Situ Bagendit 2 dilakukan dengan metode survei menggunakan kombinasi teknik transek garis dan kuadrat. Pengambilan sampel dilakukan di lima stasiun penelitian yang dipilih berdasarkan perbedaan karakteristik habitat yang mencakup berbagai mikrohabitat di sekitar situs, termasuk area dengan vegetasi padat, area terbuka, dan area dengan kedalaman berbeda.

Sampel gastropoda dikumpulkan secara manual dan menggunakan jaring serok pada kedalaman berbeda sesuai dengan kondisi perairan. Pengambilan sampel dilakukan selama periode tiga bulan untuk memperhitungkan variasi musim. Setiap sampel yang dikumpulkan dibawa ke laboratorium untuk identifikasi lebih lanjut.

Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, pH, kekeruhan, dissolved oxygen (DO), hardness, alkalinitas, dan kandungan bahan organik. Pengukuran parameter fisika-kimia perairan dilakukan secara in-situ menggunakan peralatan portabel. Analisis laboratorium tambahan dilakukan untuk menentukan konsentrasi nutrient seperti nitrat dan fosfat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi dan dalam hal ini keberadaan gastropoda.

Pengidentifikasian gastropoda dilakukan hingga tingkat spesies berdasarkan morfologi cangkang dan beberapa karakteristik taksonomi lainnya. Spesimen dibandingkan dengan referensi taksonomi yang tersedia dan kadang-kadang perlu dikonsultasikan dengan ahli malakologi untuk memastikan identitas spesies yang kurang umum. Jumlah individual dari setiap spesies dihitung untuk analisis kelimpahan, dan indeks keanekaragaman dihitung menggunakan indeks Shannon-Wiener.

Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut, ditemukan berbagai jenis gastropoda yang mewakili beberapa famili berbeda. Dari total 300 individu yang dikumpulkan, didominasi oleh beberapa spesies yang umum dijumpai di perairan tawar Jawa Barat. Sejumlah spesies menunjukkan kelimpahan yang berbeda-beda, menunjukkan preferensi habitat yang spesifik di antara berbagai mikrohabitat yang tersedia.

Dalam tabel berikut disajikan data kelimpahan dan keanekaragaman gastropoda yang ditemukan di Situ Bagendit 2:

Famili Spesies Nama Umum Jumlah Individu Presentase
Thiaridae Melanoides tuberculata Keong tikus 156 52%
Pilidae Pila scutata Keong sawah 48 16%
Viviparidae Filopaludina javanica Keong gondang 39 13%
Ampullariidae Pomacea canaliculata Keong mas 27 9%
Lymnaeidae Radix rubiginosa Keong biasa 18 6%
Planorbidae Gyraulus convexiusculus Keong bulat 12 4%
Spesimen gastropoda dari Situ Bagendit 2
(Berbagai spesies yang diidentifikasi dalam penelitian ini)

Dari hasil penelitian tersebut, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') dihitung untuk mengetahui tingkat keanekaragaman spesies gastropoda di Situ Bagendit 2. Nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh adalah 1,42, yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang. Indeks dominansi (C) sebesar 0,32 menunjukkan bahwa tidak ada spesies yang mendominasi secara ekstrem, meskipun Melanoides tuberculata merupakan spesies paling dominan dengan presentase 52% dari total populasi gastropoda yang ditemukan.

Indeks keseragaman (E) sebesar 0,79 menunjukkan bahwa distribusi individu di antara berbagai spesies relatif merata, menandakan komunitas gastropoda yang seimbang secara ekologis. Hal ini mengindikasikan bahwa keseimbangan ekologis di Situ Bagendit 2 masih dalam kondisi baik dengan tidak ada spesies yang terlalu mendominasi atau spesies lain yang terlalu jarang ditemukan.

Analisis dan Diskusi

Melanoides tuberculata (famili Thiaridae) atau biasa disebut keong tikus merupakan spesies gastropoda yang paling dominan di Situ Bagendit 2. Spesies ini dikenal memiliki toleransi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan dan mampu berkembang biak dengan baik melalui reproduksi parthenogenesis dan vivipar. Keberhasilan adaptasi M. tuberculata di berbagai habitat perairan tawar menjadikannya spesies yang ubiquitos dan sering ditemukan dalam jumlah besar.

Keberadaan M. tuberculata dalam jumlah tinggi di Situ Bagendit 2 berkaitan dengan kemampuannya bertahan hidup pada variasi kualitas air serta strategi reproduksinya yang efisien. Spesies ini memiliki cangkang yang kuat dengan struktur khas yang melindunginya dari predasi. Selain itu, M. tuberculata memiliki peran penting sebagai detritivora yang membantu proses dekomposisi bahan organic di perairan.

Pila scutata (famili Pilidae) atau keong sawah merupakan gastropoda yang juga umum dijumpai di perairan tawar Jawa Barat. Spesies ini biasanya hidup di perairan dengan vegetasi yang cukup dan substrat lunak. Kehadiran P. scutata dalam jumlah yang signifikan mengindikasikan bahwa Situ Bagendit 2 memiliki kondisi lingkungan yang mendukung keberadaan gastropoda herbivora, khususnya dengan ketersediaan vegetasi akuatik yang berfungsi sebagai habitat dan sumber makanan.

Filopaludina javanica (famili Viviparidae) atau keong gondang merupakan gastropoda air tawar yang besar dengan nilai ekonomis sebagai pangan. Spesies ini merupakan salah satu gastropoda air tawar terbesar di Indonesia dan memiliki karakteristik vivipar atau melahirkan anak. Kehadiran spesies ini dalam jumlah yang cukup menunjukkan bahwa kualitas perairan Situ Bagendit 2 masih dalam kondisi yang baik, karena F. javanica relatif sensitif terhadap perubahan kualitas perairan, terutama polusi.

Pomacea canaliculata (famili Ampullariidae) atau lebih dikenal sebagai keong mas adalah spesies gastropoda invasif yang telah tersebar luas di berbagai perairan Indonesia. Spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan diperkenalkan ke Indonesia sebagai spesies pangan namun kemudian menjadi hama serius bagi tanaman padi. Kehadiran P. canaliculata di Situ Bagendit 2 menimbulkan tantangan ekologi karena dampak negatifnya terhadap tanaman padi dan ekosistem perairan lokal lainnya, termasuk kompetisi dengan gastropoda asli.

Radix rubiginosa (famili Lymnaeidae) dan Gyraulus convexiusculus (famili Planorbidae) merupakan gastropoda yang memiliki cangkang tipis dengan bentuk khas. Kedua spesies ini memiliki peran penting sebagai inang antara beberapa parasit helmint yang dapat menginfeksi manusia dan hewan, termasuk Fasciola gigantica yang menyebabkan fascioliasis. Kehadiran kedua spesies ini di perairan perlu mendapatkan perhatian khusus dari aspek kesehatan masyarakat, mengingat Situ Bagendit 2 merupakan perairan yang berinteraksi dengan kegiatan manusia di sekitarnya, termasuk pertanian dan kegiatan perikanan.

Hubungan Antara Kelimpahan Gastropoda dan Parameter Lingkungan

Analisis korelasi antara kelimpahan gastropoda dengan parameter fisika-kimia perairan menunjukkan bahwa suhu, pH, dan kandungan oksigen terlarut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap distribusi dan kelimpahan gastropoda di Situ Bagendit 2. Kebanyakan spesies gastropoda yang ditemukan berkembang baik pada suhu berkisar antara 25-28C dan pH perairan antara 6,5-7,5. Rentang parameter ini sesuai dengan kondisi optimal untuk aktivitas metabolik dan reproduksi gastropoda air tawar.

Kadar oksigen terlarut (DO) yang cukup mendukung kehidupan gastropoda, terutama untuk spesies yang bergantung pada oksigen dalam proses respirasi. Area dengan kandungan oksigen lebih tinggi cenderung memiliki keanekaragaman gastropoda yang lebih tinggi. Namun, spesies seperti Melanoides tuberculata memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap kadar oksigen yang rendah karena kemampuannya mengambil oksigen dari air melalui insang.

Kandungan bahan organik dan nutrien seperti nitrat dan fosfat berpengaruh terhadap produktivitas primer dan tersedianya makanan bagi gastropoda. Kandungan bahan organik yang tinggi di beberapa bagian Situ Bagendit 2 terkait dengan aktivitas manusia di sekitarnya, memberikan sumber makanan yang cukup bagi gastropoda detritivora seperti Melanoides tuberculata. Hal ini menjelaskan mengapa spesies ini mendominasi di area dengan kandungan bahan organik yang lebih tinggi.

Hardness dan alkalinitas perairan juga mempengaruhi kerapatan dan kualitas cangkang gastropoda. Situ Bagendit 2 memiliki nilai hardness dan alkalinitas mendukung pembentukan cangkang gastropoda yang sehat. Perairan dengan hardness yang terlalu rendah dapat berdampak negatif terhadap kualitas cangkang dan mempengaruhi kemampuan gastropoda untuk menghindari predasi.

Distribusi Spasial Gastropoda di Situ Bagendit 2

Distribusi gastropoda di Situ Bagendit 2 tidak merata dan dipengaruhi oleh variasi mikrohabitat yang tersedia. Area dengan vegetasi akuatik yang lebih padat memiliki keanekaragaman gastropoda yang lebih tinggi dibandingkan dengan area terbuka. Vegetasi akuatik menyediakan tempat perlindungan dari predator, sumber makanan, dan substrate untuk telur gastropoda. Vegetasi tersebut juga menciptakan mikrohabitat dengan kondisi fisika-kimia yang berbeda dari perairan terbuka.

Melanoides tuberculata ditemukan hampir di semua stasiun penelitian, namun lebih melimpah di area dengan substrat lumpur yang kaya bahan organik. Pila scutata dan Filopaludina javanica lebih umum ditemukan di area dengan vegetasi akuatik yang lebat, terutama dekat dengan tepian situ. Pola distribusi ini berkaitan dengan persyaratan habitat dan preferensi makanan masing-masing spesies.

Area dengan kedalaman yang lebih dangkal juga menunjukkan kelimpahan gastropoda yang lebih tinggi, terutama untuk spesies yang memerlukan akses ke permukaan untuk pernapasan atau bertelur. Radix rubiginosa dan Gyraulus convexiusculus lebih umum ditemukan di perairan dangkal yang kaya vegetasi dan sering hanggat di permukaan. Sebaliknya, spesies seperti Melanoides tuberculata ditemukan hingga kedalaman yang lebih dalam karena kemampuannya dalam mengambil oksigen dari air melalui insang.

Variasi dalam distribusi gastropoda juga dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik seperti kompetisi dan predasi. Area dengan keberadaan predator ikan tertentu menunjukkan kelimpahan gastropoda yang lebih rendah, terutama untuk spesies dengan cangkang yang lebih tipis atau lambat bergerak. Namun, beberapa spesies memiliki adaptasi evasive atau cangkang yang lebih kuat untuk mengurangi risiko predasi.

Perbandingan dengan Ekosistem Perairan Lainnya

Komposisi spesies gastropoda di Situ Bagendit 2 menunjukkan kesamaan yang signifikan dengan ekosistem perairan tawar lainnya di Jawa Barat, namun memiliki perbedaan dalam proporsi masing-masing spesies. Melanoides tuberculata terbukti menjadi spesies dominan tidak hanya di Situ Bagendit 2 tetapi juga di berbagai ekosistem perairan tawar lain di Indonesia, seperti yang dilaporkan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Kehadiran Pomacea canaliculata di Situ Bagendit 2 mengikuti tren penyebaran invasif spesies ini di berbagai perairan tawar di Indonesia. Dibandingkan dengan ekosistem perairan yang lebih terisolasi atau jauh dari aktivitas manusia, Situ Bagendit 2 memiliki kelimpahan P. canaliculata yang relatif lebih tinggi, menunjukkan pengaruh aktivitas manusia dalam penyebaran spesies invasif ini.

Keanekaragaman gastropoda di Situ Bagendit 2 (H' = 1,42) sedikit lebih rendah dibandingkan dengan beberapa ekosistem perairan alam yang lebih terjaga di wilayah Jawa Barat yang mungkin memiliki indeks keanekaragaman mencapai 1,8-2,2. Hal ini mungkin berkaitan dengan pengaruh aktivitas manusia dan perubahan habitat di sekitar Situ Bagendit 2 yang membatasi keberadaan beberapa spesies yang lebih sensitif.

Implikasi Ekologis dan Konservasi

Keanekaragaman gastropoda di Situ Bagendit 2 menandakan bahwa ekosistem situs ini masih memiliki kesehatan yang cukup baik namun memerlukan perhatian dalam pengelolaan. Keberadaan berbagai spesies gastropoda dengan fungsi ekologi yang berbeda menunjukkan rantai makanan yang relatif lengkap di situs ini, dengan peran penting sebagai detritivora, herbivora, dan sumber makanan untuk predator lainnya.

Gastropoda berkontribusi pada siklus nutrien di ekosistem air tawar dengan mengkonsumsi detritus dan bahan organic, kemudian mengubahnya menjadi bentuk yang lebih mudah digunakan oleh organisme lain. Kehadiran gastropoda dengan berbagai ukuran dan strategi makan mencerminkan kompleksitas jaring makanan di Situ Bagendit 2 dan menunjukkan fungsi ekosistem yang berjalan dengan baik.

Namun, kehadiran spesies invasif seperti Pomacea canaliculata dapat mengancam keseimbangan ekosistem lokal. Spesies ini bersaing dengan gastropoda asli dalam memanfaatkan sumber daya dan habitat, serta dapat mengubah struktur komunitas makrofauna benthik secara signifikan. Pengendalian populasi spesies invasif ini perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga keseimbangan ekosistem tanpa menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, kehadiran beberapa spesies gastropoda seperti Radix rubiginosa dan Gyraulus convexiusculus perlu mendapatkan perhatian karena peran mereka sebagai inang antara parasit. Pemahaman tentang distribusi dan kelimpahan spesies ini penting untuk mengembangkan strategi pencegahan penyakit terkait parasit yang berpotensi ditularkan dari lingkungan perairan.

Upaya konservasi yang dapat dilakukan meliputi pengelolaan vegetasi akuatik untuk menjaga habitat gastropoda asli, pengendalian erosi tepian situ, serta pengelolaan kualitas air untuk mempertahankan kondisi yang mendukung keanekaragaman gastropoda native. Program monitoring rutin terhadap komunitas gastropoda juga penting untuk mendeteksi perubahan dalam komposisi spesies yang mungkin mengindikasikan perubahan kondisi ekologis di Situ Bagendit 2.

Edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem Situ Bagendit 2, termasuk meminimalkan introduksi spesies asli yang berpotensi invasif, merupakan komponen krusial dalam strategi konservasi. Pemberdayaan masyarakat lokal untuk ikut serta dalam monitoring dan konservasi dapat meningkatkan efektivitas upaya pelestarian ekosistem perairan ini.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut memiliki keanekaragaman gastropoda air tawar dengan tingkat keanekaragaman sedang. Enam spesies dari enam famili yang berbeda berhasil diidentifikasi, dengan Melanoides tuberculata sebagai spesies paling dominan (52%), diikuti oleh Pila scutata (16%), Filopaludina javanica (13%), Pomacea canaliculata (9%), Radix rubiginosa (6%), dan Gyraulus convexiusculus (4%).

Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener sebesar 1,42 menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang, sedangkan indeks keseragaman sebesar 0,79 mengindikasikan bahwa distribusi individu relatif merata di antara spesies yang ditemukan. Keanekaragaman ini mencerminkan kondisi ekologis Situ Bagendit 2 yang masih relatif baik namun memerlukan perhatian dalam pengelolaan.

Distribusi gastropoda di Situ Bagendit 2 dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti ketersediaan vegetasi akuatik, kualitas air, dan karakteristik substrat. Area dengan vegetasi lebih padat dan bahan organik yang lebih tinggi cenderung memiliki keanekaragaman gastropoda yang lebih tinggi. Parameter lingkungan seperti pH, suhu, dan kadar oksigen terlarut juga mempengaruhi kelimpahan dan distribusi gastropoda.

Kehadiran spesies invasif Pomacea canaliculata dan spesies gastropoda yang berperan sebagai inang antara parasit memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan Situ Bagendit 2. Penelitian ini memberikan dasar penting untuk studi lanjutan mengenai ekologi gastropoda dan konservasi ekosistem perairan tawar di Kabupaten Garut. Penelitian yang lebih komprehensif dengan durasi yang lebih lama diperlukan untuk memahami dinamika populasi gastropoda di Situ Bagendit 2 secara lebih mendalam.

File Referensi Untuk Kelimpahan Dan Keanekaragaman Gastropoda Di Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut
Screenshoot
Nama File
bab_i_fix.pdf

Ukuran File
0.19 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Kelimpahan Dan Keanekaragaman Gastropoda Di Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Kelimpahan Dan Keanekaragaman Gastropoda Di Situ Bagendit 2 Kabupaten Garut dan Link Downl...


admin
Admin
2026-06-07 19:44:10

Keanekaragaman Gastropoda Di Ekosistem Mangrove dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-13 19:16:16

Analisis Kelimpahan Dan Keanekaragaman Plankton Pada Biotop Yang Berbeda dan Link Download...


admin
Admin
2026-06-07 00:44:11

Keanekaragaman Jenis Capung (odonata) Di Situ Gintung Ciputat, Tangerang dan Link Download...


admin
Admin
2026-06-07 17:27:18

Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Pemerintah Kabupaten Garut dan L...


admin
Admin
2026-06-03 05:49:03