Admin 06 Jun 2026 11:00

 

Keragaan Perkecambahan dan Pertumbuhan Awal Mutan Dua Galur Padi pada Beberapa Dosis Radiasi Gamma

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan perkecambahan dan pertumbuhan awal dari mutan dua galur padi (Oryza sativa L.) yang diiradiasi dengan beberapa dosis radiasi gamma. Dua galur padi lokal, yaitu 'Cianjur' dan 'Mentik', diiradiasi dengan dosis 0, 100, 200, 300, 400, dan 500 Gy. Parameter yang diamati meliputi daya kecambah, keceptan perkecambahan, tinggi bibit, panjang akar, dan bobot kering bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis radiasi gamma menyebabkan penurunan daya kecambah dan kecepatan perkecambahan pada kedua galur. Galur 'Cianjur' menunjukkan toleransi yang lebih tinggi terhadap radiasi gamma dibandingkan dengan galur 'Mentik'. Pada dosis 300 Gy, masih teramati pertumbuhan bibit yang relatif baik, sementara dosis 400 Gy dan 500 Gy menghambat pertumbuhan secara signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa radiasi gamma dapat digunakan untuk induksi mutasi pada kedua galur padi dengan dosis optimal sekitar 200-300 Gy untuk mendapatkan mutan dengan karakteristik yang diinginkan.

Pendahuluan

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan utama bagi lebih dari setengah populasi dunia, terutama di Asia, termasuk Indonesia. Permintaan terhadap beras terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, sementara lahan pertanian yang tersedia semakin berkurang karena alih fungsi lahan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas padi melalui pemuliaan tanaman.

Pemuliaan tanaman konvensional seringkali terbatas oleh variasi genetik yang tersedia dalam plasma nutfah. Teknik induksi mutasi menggunakan radiasi gamma telah proven sebagai metode efektif untuk menciptakan variasi genetik baru pada tanaman. Radiasi gamma dapat menyebabkan perubahan pada material genetik tanaman tanpa mengubah sifat-sifat dasarnya, sehingga dapat menghasilkan varietas baru dengan karakteristik yang lebih baik seperti daya tahan terhadap hama penyakit, toleransi terhadap stress lingkungan, atau peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Penelitian ini difokuskan pada dua galur padi lokal Indonesia, yaitu 'Cianjur' dan 'Mentik', yang memiliki potensi namun masih memerlukan perbaikan pada beberapa karakter agronomis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi keragaan perkecambahan dan pertumbuhan awal dari mutan kedua galur padi tersebut yang diiradiasi dengan berbagai dosis radiasi gamma, sehingga dapat ditentukan dosis radiasi optimal untuk induksi mutasi tanpa menyebabkan kerusakan yang berlebihan.

Metodologi

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Bioteknologi Pertanian dari bulan Januari hingga Maret 2023. Benih padi galur 'Cianjur' dan 'Mentik' diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Padi (BALITPADI).

Benih padi yang telah disortir ukuran dan beratnya dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan untuk masing-masing galur, yaitu:

  • Kontrol (tanpa iradiasi)
  • Iradiasi 100 Gy
  • Iradiasi 200 Gy
  • Iradiasi 300 Gy
  • Iradiasi 400 Gy
  • Iradiasi 500 Gy

Iradiasi dilakukan menggunakan sumber gamma (Co-60) di Instalasi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Setelah iradiasi, benih disemai pada tray berisi media tanam campuran tanah dan kompos (2:1). Setiap perlakuan menggunakan 100 benih dengan tiga ulangan.

Parameter yang diamati meliputi:

  1. Daya kecambah (persentase benih yang berkecambah)
  2. Kecepatan perkecambahan (diukur berdasarkan waktu yang dibutuhkan benih untuk berkecambah)
  3. Tinggi bibit (diukur dari pangkal batang hingga ujung daun tertinggi pada umur 14 hari setelah semai)
  4. Panjang akar (diukur dari pangkal batang hingga ujung akar terpanjang pada umur 14 hari setelah semai)
  5. Bobot kering bibit (diukur setelah pengeringan pada suhu 70C selama 48 jam)

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan jika terdapat perbedaan nyata, dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.

Hasil dan Pembahasan

Daya Kecambah

Analisis ragam menunjukkan bahwa dosis radiasi gamma berpengaruh nyata terhadap daya kecambah kedua galur padi yang diuji. Pada kontrol (tanpa iradiasi), kedua galur menunjukkan daya kecambah yang relatif tinggi, yaitu 95% untuk galur 'Cianjur' dan 92% untuk galur 'Mentik'. Peningkatan dosis radiasi gamma menyebabkan penurunan daya kecambah secara bertahap.

Penurunan daya kecambah mulai terlihat nyata pada dosis 200 Gy, di mana daya kecambah galur 'Cianjur' menurun menjadi 85% dan galur 'Mentik' menjadi 78%. Pada dosis 300 Gy, daya kecambah 'Cianjur' masih mencapai 72%, sementara 'Mentik' hanya 58%. Dosis 400 Gy dan 500 Gy menyebabkan penurunan daya kecambah yang sangat signifikan, dengan 'Cianjur' mencapai 45% dan 28% berturut-turut, sedangkan 'Mentik' hanya 32% dan 15%.

Penurunan daya kecambah akibat radiasi gamma ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada kromosom dan menghambat pembelahan sel pada embrio, sehingga mengurangi kemampuan benih untuk berkecambah. Kerusakan ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya dosis radiasi yang diberikan.

Kecepatan Perkecambahan

Kecepatan perkecambahkan juga dipengaruhi secara nyata oleh dosis radiasi gamma. Benih control dari kedua galur mulai berkecambah pada hari ke-2 setelah disemai, dengan puncak perkecambahan terjadi pada hari ke-4-5. Dengan meningkatnya dosis radiasi, waktu awal perkecambahan semakin tertunda.

Pada dosis 100 Gy, perkecambahan masih dimulai pada hari ke-2-3, namun puncak perkecambahan tertunda hingga hari ke-5-6. Pada dosis 200 Gy, perkecambahan baru dimulai pada hari ke-3-4 dengan puncak pada hari ke-6-7. Dosis 300 Gy menyebabkan penundaan lebih lanjut, di mana perkecambahan dimulai pada hari ke-4-5. Pada dosis 400 Gy dan 500 Gy, perkecambahan sangat lambat dan tidak seragam, dengan sebagian benih gagal berkecambah walaupun telah disemai selama 14 hari.

Penundaan perkecambahan ini menunjukkan bahwa radiasi gamma mengganggu proses fisiologis dalam benih yang diperlukan untuk memulai perkecambahan, termasuk aktivasi enzim-enzim tertentu, degradasi cadangan makanan, dan proses pembelahan sel awal. Gangguan ini menyebabkan butuh waktu lebih lama bagi embrio untuk keluar dari dormansi dan mulai tumbuh.

Tinggi Bibit

Parameter tinggi bibit menunjukkan respons yang berbeda antar dosis radiasi. Pada kontrol, tinggi bibit 'Cianjur' mencapai 12,3 cm dan 'Mentik' 11,8 cm pada umur 14 hari setelah semai. Dosis radiasi rendah (100-200 Gy) tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan terhadap tinggi bibit dibandingkan dengan kontrol.

Tabel 1. Rata-rata tinggi bibit (cm) kedua galur padi pada berbagai dosis radiasi gamma

Dosis Radiasi Galur 'Cianjur' Galur 'Mentik'
0 Gy (Kontrol) 12,3 a 11,8 a
100 Gy 12,1 a 11,5 a
200 Gy 11,4 a 10,8 b
300 Gy 9,6 b 8,3 c
400 Gy 7,2 c 5,9 d
500 Gy 4,8 d 3,5 e

*Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf 5%.

Peningkatan dosis radiasi di atas 200 Gy menyebabkan penurunan tinggi bibit yang signifikan. Pada dosis 300 Gy, tinggi bibit 'Cianjur' menurun menjadi 9,6 cm dan 'Mentik' menjadi 8,3 cm. Penurunan ini semakin drastis pada dosis 400 Gy dan 500 Gy.

Penurunan tinggi bibit ini disebabkan oleh kerusakan pada jaringan meristemik, terutama pada titik tumbuh batang, yang mengakibatkan penghambatan pembelahan sel dan pemanjangan sel. Selain itu, radiasi juga dapat mempengaruhi sintesis hormon pertumbuhan seperti auksin dan giberelin yang berperan dalam pemanjangan batang.

Panjang Akar

Panjang akar menunjukkan respons yang lebih sensitif terhadap radiasi gamma dibandingkan tinggi bibit. Pada kontrol, panjang akar 'Cianjur' mencapai 14,5 cm dan 'Mentik' 13,8 cm. Penurunan panjang akar sudah terlihat nyata pada dosis 100 Gy, terutama pada galur 'Mentik'.

Tabel 2. Rata-rata panjang akar (cm) kedua galur padi pada berbagai dosis radiasi gamma

Dosis Radiasi Galur 'Cianjur' Galur 'Mentik'
0 Gy (Kontrol) 14,5 a 13,8 a
100 Gy 13,2 a 11,5 b
200 Gy 10,8 b 9,2 c
300 Gy 8,1 c 6,5 d
400 Gy 5,3 d 4,2 e
500 Gy 2,9 e 2,1 f

*Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf 5%.

Sistem akar umumnya lebih sensitif terhadap stress radiasi dibandingkan bagian atas tanaman. Hal ini kemungkinan karena sel-sel pada jaringan akar memiliki tingkat pembelahan yang lebih aktif, sehingga lebih rentan terhadap kerusakan DNA akibat radiasi. Kerusakan ini menghambat pertumbuhan akar dan mengurangi kemampuan akar untuk menyerap air dan hara dari media tanam.

Bobot Kering Bibit

Bobot kering bibit merefleksikan akumulasi bahan kering yang terjadi selama pertumbuhan awal. Pada kontrol, bobot kering bibit 'Cianjur' mencapai 0,42 g dan 'Mentik' 0,38 g. Dosis radiasi gamma berpengaruh nyata terhadap bobot kering bibit, dengan penurunan yang konsisten seiring dengan peningkatan dosis.

Penurunan bobot kering bibit mencerminkan penghambatan proses fotosintesis dan metabolisme tanaman akibat kerusakan pada klorofil dan enzim-enzim metabolisme. Selain itu, sistem akar yang terganggu juga mengurangi kemampuan tanaman untuk menyerap nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan.

Perbedaan Respons Antar Galur

Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa kedua galur padi menunjukkan respons yang berbeda terhadap radiasi gamma. Galur 'Cianjur' secara umum menunjukkan toleransi yang lebih tinggi dibandingkan dengan galur 'Mentik', terlihat dari nilai parameter yang diukur yang cenderung lebih baik pada setiap tingkat dosis radiasi.

Perbedaan toleransi ini kemungkinan disebabkan oleh variasi genetik antar kedua galur, termasuk kemampuan mekanisme perbaikan DNA yang berbeda, sistem pertahanan antioksidan yang berbeda, atau struktur kromosom yang berbeda yang mempengaruhi sensitivitas terhadap radiasi.

Implikasi untuk Program Pemuliaan Padi

Berdasarkan hasil penelitian ini, dosis radiasi gamma sekitar 200-300 Gy direkomendasikan untuk induksi mutasi pada kedua galur padi yang diuji. Pada dosis ini, masih terjadi perkecambahan dan pertumbuhan bibit yang relatif baik, namun dosisnya sudah cukup untuk menginduksi mutasi genetik yang diinginkan.

Dosis yang lebih rendah (<200 Gy) mungkin tidak cukup efektif untuk menghasilkan variasi genetik yang signifikan, sedangkan dosis yang lebih tinggi (>300 Gy) menyebabkan kerusakan terlalu besar pada tanaman, sehingga mengurangi peluang untuk mendapatkan mutan yang dapat bertahan hidup.

Perbedaan respons antar galur juga menekankan pentingnya penentuan dosis optimal secara spesifik untuk setiap genotipe tanaman yang akan dimutasi, karena dosis yang sama dapat memberikan efek yang berbeda pada genotipe yang berbeda.

Program pemuliaan padi menggunakan teknik induksi mutasi perlu dilanjutkan dengan seleksi secara teliti pada generasi berikutnya (M1, M2, dst.) untuk mengidentifikasi karakter mutan yang diinginkan, seperti peningkatan daya hasil, resistensi terhadap hama penyakit, atau toleransi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.

Kesimpulan

Penelitian mengenai keragaan perkecambahan dan pertumbuhan awal mutan dua galur padi ('Cianjur' dan 'Mentik') pada beberapa dosis radiasi gamma telah memberikan informasi penting untuk program pemuliaan tanaman. Dapat disimpulkan bahwa:

  1. Peningkatan dosis radiasi gamma dari 0 hingga 500 Gy menyebabkan penurunan daya kecambah, kecepatan perkecambahan, tinggi bibit, panjang akar, dan bobot kering bibit pada kedua galur padi.
  2. Sistem perkecambahan dan pertumbuhan awal padi sensitif terhadap radiasi gamma, dengan sistem akar menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan bagian atas tanaman.
  3. Galur 'Cianjur' menunjukkan toleransi yang lebih tinggi terhadap radiasi gamma dibandingkan dengan galur 'Mentik' pada semua parameter yang diamati.
  4. Dosis optimal untuk induksi mutasi pada kedua galur padi adalah sekitar 200-300 Gy, di mana masih terjadi perkecambahan dan pertumbuhan bibit yang relatif baik namun dosisnya cukup untuk menginduksi mutasi genetik.

Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penentuan dosis radiasi gamma optimal pada program induksi mutasi tanaman padi untuk pengembangan varietas baru dengan karakteristik yang lebih baik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengevaluasi performa mutan padi pada tahap pertumbuhan selanjutnya hingga tahap panen untuk melihat stabilitas dan karakteristik agronomis yang dihasilkan.

File Referensi Untuk Keragaan Perkecambahan Dan Pertumbuhan Awal Mutan Dua Galur Padi Pada Beberapa Dosis Radiasi Gamma
Screenshoot
Nama File
pendahuluan.pdf

Ukuran File
0.77 MB

Tipe File
PDF

Situs File
Deskripsi
File ini hanya file referensi untuk Keragaan Perkecambahan Dan Pertumbuhan Awal Mutan Dua Galur Padi Pada Beberapa Dosis Radiasi Gamma. Tidak menjamin hal-hal spesifik yang diinginkan terdapat didalamnya.
Download langsung (menunggu 10 detik)

Keragaan Perkecambahan Dan Pertumbuhan Awal Mutan Dua Galur Padi Pada Beberapa Dosis Radia...


admin
Admin
2026-06-06 11:00:33

Keragaan Hasil Varietas Jagung Bima 3 Pada Beberapa Agroekosistem Sumatera Barat dan Link...


admin
Admin
2026-06-06 07:22:14

Keragaan Beberapa Varietas Unggul Jagung Komposit Di Tingkat Petani Lahan Kering Kabupaten...


admin
Admin
2026-06-06 07:10:17

Potensi Kombinasi Teknologi Mutan Padi Toleran Kekeringan Dan Polimer Superabsorben dan Li...


admin
Admin
2026-06-10 11:44:16

Uji Perkecambahan Beberapa Varietas Biji Cabai Merah dan Link Download File Referensi


admin
Admin
2026-06-06 09:16:15