Aktivitas fisik berlebih dapat memicu stres oksidatif karena peningkatan konsumsi oksigen yang drastis, yang kemudian mengarah pada produksi berlebih dari Radikal Bebas Oksigen (RBO). Salah satu organ yang sangat rentan terhadap dampak stres oksidatif adalah hati, yang berperan penting dalam metabolisme dan detoksifikasi. Untuk menangkal RBO, tubuh membutuhkan sistem pertahanan enzimatik, di mana Super Oksida Dismutase (SOD) merupakan garis pertahanan utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak floret Pisang Raja (Musa x paradisiaca) dalam mencegah penurunan kadar enzim SOD pada hati mencit (Mus musculus) strain BALB/c yang dikenai aktivitas fisik berlebih. Metode yang digunakan adalah ekperimental laboratorium dengan desain post-test only control group design. Mencit dibagi menjadi beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol normal, kelompok kontrol olahraga tanpa perlakuan, dan kelompok perlakuan olahraga dengan dosis ekstrak floret Pisang Raja yang bervariasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik berlebih secara signifikan menurunkan kadar SOD akibat tingginya beban radikal bebas. Namun, pemberian ekstrak floret Pisang Raja terbukti efektif dalam mempertahankan aktivitas enzim SOD, bahkan mendekati kadar normal. Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan flavonoid dan senyawa fenolik pada floret Pisang Raja berperan sebagai antioksidan kuat yang mendukung sistem pertahanan endogen hati.
Olahraga dan aktivitas fisik memiliki dua sisi yang berbeda terhadap kesehatan tubuh. Pada tingkat sedang, olahraga bermanfaat untuk meningkatkan metabolisme dan kesehatan kardiovaskular. Namun, ketika intensitasnya berlebihan dan dilakukan secara berkepanjangan, olahraga dapat menjadi faktor stres fisiologis yang memicu stres oksidatif. Mekanisme ini terjadi karena peningkatan permintaan oksigen oleh jaringan otot rangka dan organ vital, khususnya hati, yang meningkatkan laju konsumsi oksigen mitokondria hingga 10 hingga 20 kali lipat dari kondisi istirahat.
Peningkatan konsumsi oksigen ini berkontribusi pada pembentukan elektron yang terlepas dari rantai transpor elektron di mitokondria, yang kemudian bereaksi dengan oksigen molekuler untuk membentuk Radikal Bebas Oksigen (RBO) atau Reactive Oxygen Species (ROS), seperti anion superoksida (O2-). Jika RBO ini tidak dinetralisasi secara efektif, mereka dapat menyebabkan kerusakan lipid, protein, dan DNA selsuatu kondisi yang dikenal sebagai stres oksidatif.
Hati adalah organ sentral dalam metabolisme energi dan detoksifikasi. Selama aktivitas fisik berlebih, hati bekerja ekstra untuk memproses asam laktat dari otot dan mengatur cadangan energi, sehingga membuatnya rentan terhadap serangan radikal bebas. Untuk melindungi diri dari kerusakan ini, tubuh dilengkapi dengan sistem antioksidan, yang terdiri dari antioksidan non-enzimatik (seperti vitamin C dan E) dan antioksidan enzimatik. Super Oksida Dismutase (SOD) adalah enzim antioksidan utama yang berperan mengkatalisis reaksi dismutasi anion superoksida menjadi hidrogen peroksida dan oksigen, yang kemudian dipecah oleh enzim katalase. Penurunan aktivitas SOD merupakan indikator utama terjadinya stres oksidatif dan kerusakan seluler.
Upaya pencegahan kerusakan sel akibat stres oksidatif dapat dilakukan melalui asupan makanan kaya antioksidan. Salah satu sumber alami yang potensial namun sering terabaikan adalah bagian bunga atau floret dari pisang. Pisang Raja (Musa x paradisiaca) merupakan varietas pisang yang populer di Indonesia. Biasanya, hanya buahnya yang dikonsumsi, sedangkan jantung atau floret (bonggol bunga) dibuang. Padahal, beberapa penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa floret pisang mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk membuktikan secara ilmiah apakah pemberian ekstrak floret Pisang Raja dapat mencegah penurunan kadar enzim SOD pada hati mencit BALB/c yang dicegah melakukan aktivitas fisik berlebih, dengan asumsi bahwa senyawa antioksidan dalam ekstrak akan membantu menetralisir RBO sehingga pelepasan enzim SOD endogen dapat ditekan atau tetap dipertahankan.
Aktivitas fisik berlebih, atau exhaustive exercise, didefinisikan sebagai aktivitas yang menyebabkan kelelahan fisiologis yang mengganggu homeostasis tubuh. Selama latihan fisik intensitas tinggi, terjadi peningkatan aliran darah ke otot dan peningkatan laju respirasi sel. Peningkatan metabolisme ini menyebabkan peningkatan "oxygen flux" di dalam mitokondria. Sekitar 2-5% dari oksigen yang dihirup akan "bocor" dari rantai transpor elektron dan berubah menjadi radikal superoksida. Pada kondisi normal, sistem antioksidan tubuh mampu menangani jumlah ini. Namun, pada aktivitas berlebih, produksi radikal melebihi kapasitas netralisasi, mengakibatkan kerusakan oksidatif, khususnya pada hati yang merupakan filter darah utama.
Super Oksida Dismutase (SOD) adalah metaloenzim yang memainkan peran krusial dalam pertahanan sel pertama melawan oksidasi. Enzim ini bekerja dengan kecepatan difusi yang sangat tinggi untuk mengubah radikal superoksida berbahaya menjadi hidrogen peroksida (H2O2) dan oksigen (O2). Walaupun hidrogen peroksida masih merupakan senyawa oksidatif, ia lebih mudah dipecah oleh enzim katalase atau glutation peroksida menjadi air dan oksigen yang tidak berbahaya. Penurunan aktivitas SOD di jaringan hati menandakan bahwa enzim tersebut telah habis terpakai dalam upaya melawan radikal bebas, atau kerusakan oksidatif telah merusak struktur enzim itu sendiri.
Floret pisang, atau sering disebut dengan jantung pisang atau bonggol, adalah bagian dari bunga pisang yang muncul sebelum buah terbentuk. Bagian ini kaya akan fitonutrien. Penelitian fitokimia melaporkan bahwa ekstrak etanol atau air dari floret pisang mengandung berbagai senyawa. Flavonoid berfungsi sebagai perisai sel dengan cara menderalisasi radikal bebas dan menggangu pembentukan radikal baru. Senyawa fenolik bekerja dengan mendonasi atom hidrogen kepada radikal bebas, sehingga radikal menjadi stabil dan tidak reaktif. Dengan memberikan asupan antioksidan eksogen dari floret pisang, diharapkan terjadi pengurangan beban oksidatif pada sistem enzimatik tubuh, sehingga kadar enzim SOD endogen tidak menurun drastis.
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental laboratorium sesungguhnya dengan rancangan Post-Test Only Control Group Design. Subjek penelitian yang digunakan adalah mencit jantan (Mus musculus) strain BALB/c yang sehat, berumur 8-10 minggu dengan berat badan berkisar antara 25-30 gram. Mencit dipilih karena memiliki sistem metabolisme dan respon fisiologis terhadap aktivitas fisik dan stres oksidatif yang relatif mirip dengan manusia, serta sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan biokimia.
Sampel mencit dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 6 ekor mencit. Kelompok K1 (Kontrol Normal) tidak diberikan perlakuan aktivitas fisik berlebih dan hanya diberi pakan standar serta aquades. Kelompok K2 (Kontrol Negatif) dikenai aktivitas fisik berlebih tanpa pemberian ekstrak floret Pisang Raja. Kelompok P1 (Perlakuan Dosis 1) dikenai aktivitas fisik berlebih dan diberikan ekstrak floret Pisang Raja dengan dosis rendah. Kelompok P2 (Perlakuan Dosis 2) dikenai aktivitas fisik berlebih dan diberikan ekstrak floret Pisang Raja dengan dosis tinggi.
Ekstrak floret Pisang Raja dibuat dengan cara ekstraksi maserasi menggunakan etanol 96%. Floret pisang dicuci, dikeringkan, dan dihaluskan menjadi serbuk simplicia, kemudian direndam dalam pelarut selama 24 jam dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental. Pemberian ekstrak dilakukan secara oral gavage (dimasukkan langsung ke lambung menggunakan sonde) setiap hari selama 30 hari periode perlakuan.
Aktivitas fisik berlebih disimulasikan menggunakan metode renang dengan beban. Mencit dipaksa berenang dalam kolam air dengan kedalaman tertentu dan diberi beban pada ekornya sebesar 5% dari berat badan mencit tersebut. Durasi renang dilakukan hingga mencit mencapai kelelahan maksimum yang ditandai dengan tenggelam selama lebih dari 5 detik dan tidak dapat kembali ke permukaan, yang kemudian dicatat sebagai waktu kelelahan. Latihan ini dilakukan setiap hari selama prosedur perlakuan berlangsung.
Pada akhir perlakuan, semua mencit dikorbankasi (disakulasikan) untuk diambil organ hatinya. Hati didetak dan dihomogenisasi untuk kemudian dianalisis kadar enzim Super Oksida Dismutase (SOD)-nya. Analisis SOD dilakukan dengan metode spektrofotometri berdasarkan kemampuan sampel untuk menghambat reaksi reduksi Nitro Blue Tetrazolium (NBT) oleh superoksida yang dihasilkan dari sistem xantin dan xantin oksidase pada pH 10.2.
Hasil analisis statistik (One Way ANOVA dan uji lanjut Post Hoc Tukey) menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada kadar SOD hati antara kelompok kontrol negatif (K2) dan kelompok perlakuan (P1 dan P2). Pada kelompok K2, yang hanya melakukan aktivitas fisik berlebih tanpa perlakuan ekstrak, ditemukan penurunan kadar SOD yang paling drastis. Hal ini sesuai dengan teori bahwa produksi radikal bebas akibat konsumsi oksigen maksimal saat berenang melebihi kapasitas netralisasi enzim endogen, sehingga terjadi inaktivasi enzim atau deplesi (habisnya) cadangan enzim SOD akibat penggunaan yang berlebihan untuk menetralkan anion superoksida.
Sebaliknya, pada kelompok P1 dan P2 yang diberi ekstrak floret Pisang Raja, kadar SOD menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan kelompok K2, dan bahkan pada kelompok P2 (dosis tinggi), nilai SOD mendekati kelompok kontrol normal (K1). Ini membuktikan bahwa ekstrak floret Pisang Raja memiliki kapasitas untuk mempertahankan aktivitas enzim SOD.
Mekanisme yang terjadi adalah kerja sinergis antara senyawa antioksidan ekstrak (flavonoid dan fenolik) dengan sistem enzim tubuh. Antioksidan non-enzimatik dari floret pisang bertindak sebagai "pemadam api" pertama terhadap radikal bebas. Dengan menderalisasi radikal bebas yang dihasilkan selama aktivitas fisik, beban kerja enzim SOD menjadi berkurang. Akibatnya, degradasi enzim SOD dapat ditekan dan sintesisisnya dapat terus berjalan, sehingga kadar SOD di jaringan hati tetap stabil.
Pembahasan juga menyinggung efek adaptasi. Pemberian antioksidan alami diduga dapat menginduksi ekspresi gen yang mengkode enzim antioksidan endogen melalui jalur penyaluran sinyal tertentu, seperti aktivasi Nrf2 (Nuclear factor erythroid 2-related factor 2), meskipun hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Secara keseluruhan, kandungan fitokimia pada Pisang Raja menunjukkan efek hepatoprotektif melalui peningkatan status antioksidan total.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak floret Pisang Raja (Musa x paradisiaca) dapat mencegah penurunan kadar Super Oksida Dismutase (SOD) pada hati mencit (Musmusculus) BALB/c yang dikenai aktivitas fisik berlebih. Ekstrak ini berperan sebagai suplemen antioksidan yang membantu mengatasi stres oksidatif, melindungi integritas sel hati, dan mempertahankan fungsi enzimatis sistem pertahanan tubuh. Dengan demikian, floret Pisang Raja memiliki potensi besar sebagai bahan alami terapi pendukung untuk mengurangi kerusakan jaringan akibat latihan fisik yang terlalu berat.
