Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu pilar penting dalam penegakan diagnosis medis. Akurasi hasil pemeriksaan sangat bergantung pada kualitas spesimen yang dianalisis. Salah satu tahapan kritis dalam pra-analitis adalah pengambilan sampel darah. Prosedur pengambilan darah vena sering kali melibatkan penggunaan tourniquet atau alat pembendungan untuk memudahkan lokalisasi vena. Namun, penggunaan alat ini tidak tanpa risiko. Penelitian telah menunjukkan bahwa lama pembendungan memiliki pengaruh signifikan terhadap beberapa parameter hematologi, khususnya kadar hematokrit.
Hematokrit (Ht) atau volume sel darah merah paket (packed cell volume) adalah persentase volume darah yang diduduki oleh sel darah merah terhadap volume total darah. Nilai hematokrit normal pada laki-laki dewasa berkisar antara 40-54%, sedangkan pada wanita dewasa berkisar antara 36-48%. Parameter ini penting untuk mendiagnosis kondisi seperti anemia (penurunan hematokrit) atau polisitemia (kenaikan hematokrit). Oleh karena itu, faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan nilai hematokrit secara artifisial harus diminimalkan.
Saat tourniquet diterapkan pada lengan pasien, terjadi penyumbatan aliran balik vena namun aliran arteri tetap berlangsung. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatis kapiler di area yang terbendung. Sebagai akibatnya, cairan dan komponen kecil darah berdifusi keluar dari pembuluh darah menuju jaringan interstisial. Proses perpindahan cairan plasma ini dikenal sebagai fenomena hemoconcentration atau pengentalan darah.
Karena volume plasma berkurang sementara jumlah sel darah merah tetap sama dalam volume yang mengecil, konsentrasi sel darah merahdan dengan demikian kadar hematokritakan meningkat secara artifisial. Selain hematokrit, konsentrasi protein plasma dan koagulasi juga meningkat, sedangkan konsentrasi zat yang larut dalam plasma dan mudah berdifusi (seperti beberapa ion atau obat tertentu) mungkin menurun.
Berbagai studi telah dilakukan untuk mengevaluasi seberapa besar pengaruh durasi pemakaian tourniquet terhadap perubahan kadar hematokrit. Konsensus umum dalam dunia medis menyarankan agar waktu pembendungan dibatasi maksimal satu menit.
Hal ini sangat krusial pada kondisi di mana pasien memiliki proses penyakit yang sudah memengaruhi hemostasis atau pada pasien dengan masalah vaskular. Kenaikan artifisial hematokrit dapat mengakibatkan diagnosis palsu polisitemia atau menyembunyikan keberadaan anemia ringan.
Hasil laboratorium yang tidak akurat karena prosedur pengambilan darah yang salah dapat berdampak langsung pada manajemen pasien.
Jika kadar hematokrit meningkat secara artifisial karena pembendungan terlalu lama, dokter mungkin mendiagnosis pasien menderita dehidrasi berat atau polisitemia vera. Padahal, kondisi tersebut sebenarnya tidak terjadi dan hanyalah akibat prosedur pengambilan sampel (variabel pra-analitis). Kesalahan interpretasi ini dapat berujung pada pemberian terapi yang tidak perlu, seperti flebotomi (pengambilan darah untuk mengurangi sel darah merah) atau pemberian cairan infus yang berlebihan, yang justru merugikan pasien.
Selain itu, viskositas darah meningkat seiring dengan naiknya hematokrit. Jika hasil tes didasarkan pada sampel yang mengalami hemoconcentration, penilaian terhadap kemampuan darah untuk mengalir (rheologi) menjadi tidak valid. Hal ini penting dalam penilaian risiko trombosis atau kemampuan oksigenasi jaringan.
Untuk meminimalkan variabel kesalahan terkait lama pembendungan, beberapa pedoman praktis terbaik (best practice) harus diterapkan oleh tenaga phlebotomist atau perawat:
Lama pembendungan selama pengambilan darah vena adalah variabel kritis yang secara langsung mempengaruhi kadar hematokrit. Mekanisme hemoconcentration akibat peningkatan tekanan hidrostatis menyebabkan peningkatan artifisial nilai hematokrit yang berpotensi menyesatkan diagnosis medis. Penelitian menegaskan bahwa pembendungan lebih dari satu menit sudah mulai menimbulkan perubahan signifikan. Oleh karena itu, disiplin dalam menerapkan standar waktu pembendungan (maksimal 1 menit) dan pemahaman mengenai fisiologi stasis vena sangat penting bagi setiap tenaga kesehatan yang bertugas mengambil darah. Memastikan integritas spesimen sejak tahap pra-analitis adalah langkah utama untuk menjamin hasil laboratorium yang akurat dan perawatan pasien yang aman.
