Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia, khususnya di daerah dengan iklim kering. Namun, produksi seringkali terbatas oleh rendahnya kesuburan tanah, keterbatasan air, dan penurunan kualitas struktur tanah. Penggunaan biomassa tanaman legum dan mikroorganisme mikoriza menawarkan solusi berkelanjutan untuk meningkatkan hasil dan ketahanan produksi. Tanaman legum (misalnya kacang tanah, kacang hijau, alfalfa, dan kacang tanah hias) memiliki kemampuan menambat nitrogen (N) dari atmosfer melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium. Berikut beberapa manfaat utama: Setelah fase pertumbuhan legum selesai, sisa biomassa dapat diolah menjadi kompos atau green manure yang langsung ditaburkan pada lahan ubi jalar. Mikoriza adalah hubungan simbiotik antara jamur mikoriza (biasanya Glomus spp.) dan akar tanaman. Pada lahan kering, mikoriza memberikan keuntungan berikut: Ubi jalar merupakan tanaman yang responsif terhadap mikoriza, terutama pada tanah bertekstur berpasir atau berkapasitas rendah. Gemburkan tanah 1520cm dengan cangkul atau mesin rotavator. Pilih legum yang cocok dengan iklim setempat (mis. kacang hijau, kacang tanah). Tebar benih dengan jarak 30cm 30cm, beri pupuk fosfor rendah (50kgPO/ha) untuk mendukung pertumbuhan akar. Pada usia 68 minggu, lakukan pemotongan (cutandcarry) atau penanaman kembali (green manure). Biarkan sisa tanaman terdekomposisi di lahan selama 23 minggu. Pilih inokulum berbasis Glomus intraradices yang telah teruji di lahan kering. Sebarkan 510g/ m inokulum pada permukaan tanah sebelum penanaman ubi jalar, kemudian campur ringan dengan tanah. Tanam umbi setara 300350g per lubang, jarak 60cm 30cm. Tutup umbi dengan lapisan tanah tipis (23cm) untuk menjaga kelembaban. Berikan pupuk organik (kompos) 2 ton/ha pada saat tanam. Penyiraman mulus dengan irigasi tetes atau payung air pada minggu pertama, selanjutnya hanya saat curah hujan kurang dari 30mm/minggu. Lakukan pemantauan masukan air tanah, suhu, serta pertumbuhan akar. Analisis hasil panen setelah 45 bulan; bandingkan dengan kontrol tanpa legum dan mikoriza. Dengan mengintegrasikan legum dan mikoriza, petani dapat meraih sejumlah keuntungan berkelanjutan: Penggunaan biomassa tanaman legum bersamaan dengan inokulasi mikoriza merupakan strategi agronomi yang mudah diadopsi, ramah lingkungan, dan efektif untuk meningkatkan produksi ubi jalar pada lahan kering. Kombinasi ini meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki retensi air, serta memperkuat sistem akar ubi jalar, sehingga menghasilkan tanaman yang lebih produktif dan tahan stres. Implementasi teknik ini secara luas dapat mendukung ketahanan pangan di wilayah kering Indonesia.Peningkatan Produksi Ubi Jalar di Lahan Kering dengan Biomassa Tanaman Legum dan Mikoriza
Pendahuluan
Peran Tanaman Legum dalam Meningkatkan Kesuburan Tanah
Mikoriza Sebagai Inokulan untuk Ubi Jalar
Teknik Aplikasi Biomassa Legum dan Mikoriza
1. Persiapan Lahan
Lakukan pengujian pH; ubi jalar optimal pada pH 5,56,5. Jika perlu, sesuaikan dengan kapur pertanian.2. Penanaman Tanaman Legum
3. Pengelolaan Biomassa
4. Inokulasi Mikoriza
5. Penanaman Ubi Jalar
6. Pemupukan & Penyiraman
7. Pemantauan dan Penilaian

Manfaat Jangka Panjang
Kesimpulan
Referensi
