Proses pembangunan kapal merupakan rangkaian kegiatan yang kompleks dan membutuhkan koordinasi yang tinggi antara sumber daya manusia, material, dan peralatan. Untuk kapal Ferry berukuran 300 GT (Gross Tonnage), tahapan perakitan lambung adalah salah satu fase kritis yang menentukan kualitas, ketepatan waktu, dan efisiensi biaya. Perencanaan yang matang mengenai kebutuhan juru potong, mesin potong, serta pasokan oksigen dan gas las sangatlah vital untuk memastikan proses fabrikasi pelat baja dan profil berjalan lancar tanpa hambatan teknis maupun logistik.
Sebelum menghitung kebutuhan spesifik peralatan dan tenaga kerja, perlu dipahami karakteristik pekerjaan untuk kapal 300 GT. Ukuran kapal ini biasanya memiliki panjang sekitar 30 hingga 35 meter dengan lebar 8 hingga 10 meter. Material utama yang digunakan adalah baja kapal (marine steel plate) dengan ketebalan bervariasi, mulai dari 4 mm hingga 12 mm atau lebih, tergantung pada lokasi pemasangannya (seperti kulit lambung, geladak, atau gading). Berat baja konstruksi (Light Ship Weight) untuk kapal ini diperkirakan berkisar antara 180 hingga 220 ton.
Proses pemotongan material adalah tahap awal dari sub-proses fabrikasi. Ketepatan ukuran pada tahap potong akan sangat mempengaruhi proses las berikutnya. Jika pemotongan tidak presisi, akan terjadi celah las yang terlalu lebar atau tumpang tindih, yang akhirnya memboroskan bahan las dan waktu pengerjaan. Oleh karena itu, sistem kerja dan peralatan harus standar industri perkapalan.
Tenaga kerja yang terlibat dalam proses pemotongan biasanya disebut dengan juru potong atau plate cutter. Dalam struktur organisasi perusahaan galangan kapal, posisi ini berada di bawah divisi produksi atau shop fabrication. Untuk kapal Ferry 300 GT, jumlah juru potong yang dibutuhkan tidak boleh berlebihan agar efisiensi biaya terjaga, namun juga tidak boleh terlalu sedikit hingga menyebabkan kemacetan produksi (bottleneck) di tahap las.
Estimasi kebutuhan juru potong dapat dihitung berdasarkan berat material yang harus dipotong dibagi dengan produktivitas per orang per hari. Asumsi produktivitas pemotongan manual atau semi-mekanis di galangan kapal menengah adalah sekitar 1,5 ton hingga 2 ton baja per orang per shift kerja (8 jam). Jika total berat baja lambung kapal Ferry 300 GT adalah 200 ton, dan waktu penyelesaian target pemotongan adalah 2 bulan (45 hari kerja efektif), maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Dari hasil kalkulasi tersebut, dibutuhkan minimal 3 orang juru potong. Namun, untuk mengantisipasi kehadiran (absensi), cuti, atau kemungkinan overtime guna mengejar deadline, idealnya disiapkan 4 orang juru potong. mereka harus memiliki sertifikasi kompetensi di bidang thermal cutting, memahami membaca gambar kerja (drawing), dan mampu mengoperasikan mesin potong dengan aman (K3).
Pemilihan jenis mesin potong sangat dipengaruhi oleh kompleksitas bentuk pelat dan volume pekerjaan. Untuk kapal Ferry 300 GT, pelat yang dipotong tidak hanya berbentuk persegi panjang, tetapi juga ada pelat dengan lengkungan (curved plate) untuk bagian haluan (bow) dan buritan (stern), serta lubang-lubang untuk pipa, kabel, dan akses.
Terdapat dua jenis mesin potong utama yang direkomendasikan:
Selain mesin potong mekanik, juga dibutuhkan peralatan pendukung seperti grinder (penghalus sisi potong) untuk membersihkan duri las (slag) dan menghaluskan bevel sudut potong. Dibutuhkan sekitar 4-6 unit grinder agar setiap juru potong dan penata pelat (fitter) memiliki alat kerja yang memadai.
Proses pemotongan baja konstruksi kapal umumnya menggunakan metode pemotongan gas, yaitu Oxy-Fuel Cutting. Prinsip kerjanya adalah memanaskan baja hingga titik bakar (kindling temperature) dengan menggunakan gas bakar, lalu memotongnya dengan semburan oksigen murni yang bertekanan tinggi.
Untuk kapal 300 GT, kombinasi gas yang paling umum dan ekonomis digunakan adalah Oksigen (O2) dan LPG (Liquefied Petroleum Gas). Meskipun Acetylene banyak digunakan karena kemampuan panas lokalnya, harganya relatif mahal. LPG menjadi alternatif utama di galangan kapal Indonesia untuk efisiensi biaya proyek, terutama untuk potong ketebalan medium seperti pelat kapal 6-10 mm.
Estimasi kebutuhan gas dapat dihitung berdasarkan panjang sambungan potong. Jika total berat baja adalah 200 ton, estimasi kasar panjang potongannya adalah sekitar 2.500 hingga 3.000 meter (tergantung desain blok dan framing). Standar konsumsi untuk potong ketebalan 8 mm (rasio tebal umum kapal 300 GT) menggunakan nozzel ukuran sedang adalah:
Total Kebutuhan (Estimasi):
Jika kita mengambil rata-rata panjang potongan 3.000 meter:
1. LPG: 3.000 meter x 0,06 m = 180 m.
Isi tabung LPG ukuran galangan umumnya 50 kg (setara 23-25 m gas dalam bentuk cair/cair-gas yang menguap).
Kebutuhan tabung: 180 m / 25 m = 7,2 tabung (Bulatkan menjadi 8-10 tabunguntuk cadangan).
2. Oksigen: 3.000 meter x 0,4 m total (preheat + cut) = 1.200 m.
Isi tabung oksigen industri ukuran standar (6 m @ 150 bar) mengandung sekitar 6 meter kubik gas.
Kebutuhan tabung: 1.200 m / 6 m = 200 tabung.
Angka di atas adalah estimasi kasar untuk proses pemotongan murni. Angka ini akan bertambah signifikan jika proses root opening atau beveling miring dilakukan dengan gas potong secara manual, atau jika terdapat proses penghangatan (pre-heating) sebelum welding pada plat tebal. Oleh karena itu, biasanya perencanaan material gas memasukkan faktor cadangan (safety factor) sebesar 20%.
Perencanaan kebutuhan logistik untuk perakitan lambung kapal Ferry 300 GT harus dilakukan secara detail dan teliti. Berdasarkan analisis di atas, proyek ini idealnya melibatkan 4 orang juru potong yang terampil, dilengkapi dengan 2 unit mesin potong portable dan peralatan pendukung grinder. Untuk konsumsi material, disarankan menyiapkan stok minimal sekitar 10 tabung LPG dan 200+ tabung Oksigen untuk menyelesaikan proses pemotongan seluruh struktur baja lambung.
Manajemen stok juga harus diperhatikan. Penggunaan manifold system atau rak tabung untuk menghubungkan beberapa tabung oksigen dan gas secara paralel disarankan agar aliran gas ke mesin potong stabil dan tekanannya tidak turun meskipun sisa gas di tabung sudah sedikit. Dengan perencanaan sumber daya yang tepat ini, proses fabrikasi lambung dapat berjalan efisien, tepat waktu, dan sesuai standar kualitas keselamatan kapal.
