Kota Makassar telah lama dikenal sebagai barometer pergerakan mahasiswa di Indonesia Timur. Dinamika aksi unjuk rasa yang terjadi di kota ini tidak terlepas dari kompleksitas pola jaringan komunikasi yang dibangun oleh kelompok-kelompok mahasiswa. Solidaritas dalam aksi tidak muncul secara instan, melainkan hasil dari interaksi intensif yang dikelola melalui jaringan komunikasi yang efektif, baik formal maupun informal.
Dalam konteks unjuk rasa, komunikasi berfungsi sebagai perekat utama yang menyatukan berbagai elemen mahasiswa dari latar belakang organisasi yang berbeda. Di Makassar, pola jaringan komunikasi yang terbentuk cenderung bersifat desentralistik namun terkoordinasi dengan baik melalui platform digital dan pertemuan tatap muka. Kelompok-kelompok ini memanfaatkan grup aplikasi pesan instan sebagai ruang diskusi awal untuk menyamakan persepsi mengenai isu-isu strategis.
Solidaritas merupakan inti dari keberhasilan aksi massa. Dalam setiap pergerakan di Makassar, komunikasi kelompok berperan dalam tiga hal utama:
Mahasiswa di Makassar saat ini menerapkan pola komunikasi hybrid. Media sosial seperti Instagram dan Twitter digunakan untuk membangun opini publik dan narasi besar, sementara aplikasi pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram digunakan untuk koordinasi taktis internal. Kombinasi ini menciptakan jaringan yang sangat lincah (agile) dalam merespons situasi di lapangan yang berubah dengan cepat.
Meskipun jaringan komunikasi sangat kuat, tantangan tetap ada, seperti potensi misinformasi atau infiltrasi pihak luar. Namun, pengalaman panjang mahasiswa Makassar dalam mengorganisir aksi telah menciptakan mekanisme "cek dan ricek" dalam jaringan internal mereka. Solidaritas yang terbentuk bukan sekadar solidaritas sesaat, melainkan ikatan yang dipupuk melalui komitmen bersama untuk mengawal isu-isu kerakyatan.
Pola jaringan komunikasi kelompok di Kota Makassar merupakan faktor penentu utama dalam keberlanjutan aksi unjuk rasa. Dengan mengintegrasikan komunikasi interpersonal yang kuat dan pemanfaatan teknologi yang cerdas, mahasiswa berhasil menumbuhkan rasa solidaritas yang tangguh. Solidaritas inilah yang menjadi mesin penggerak utama bagi mahasiswa Makassar untuk terus bersuara dan mengawal demokrasi di Indonesia.
